IO Study Abroad: Kisah Sukses Meraih Beasiswa Luar Negeri

Safitri Bonea dan Adi Saputra Ph. D. Cand ketika menceritakan pengalaman kuliah di luar negeri.
Safitri Bonea dan Adi Saputra Ph. D. Cand ketika menceritakan pengalaman kuliah di luar negeri.
Safitri Bonea dan Adi Saputra Ph. D. Cand ketika menceritakan pengalaman kuliah di luar negeri.
Safitri Bonea dan Adi Saputra Ph. D. Cand ketika menceritakan pengalaman kuliah di luar negeri.

International Office Universitas Sebelas Maret (IO UNS) Surakarta menggelar IO Study Abroad: Kisah Sukses Meraih Beasiswa Luar Negeri di Ruang Sidang II Gedung dr. Prakosa, Senin (18/01/2016). Acara diskusi ini menghadirkan Adi Saputra Ph. D. Cand dan Safitri Bonea sebagai narasumber. Adi Saputra adalah penerima beasiswa Erasmus Mundus di Portugal untuk masa studi 22 bulan (2010-2012) dan beasiswa JICA (Japan International Cooperation Agency) di Jepang untuk menjalani jenjang studi S-3 di Departemen Sistem Energi Hidrogen. Sedangkan Safitri Bonea adalah penerima beasiswa program SUSI (Study of the United States Institute) dan beasiswa LPDP yang berkesempatan menempuh pendidikan di Universitas Utrecht, Belanda untuk jenjang studi S-2 selama satu tahun. Acara ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa UNS saja, melainkan juga mahasiswa yang berasal dari luar UNS dan siswa-siswi SMA.

Dalam kesempatan diskusi ini, Adi dan Safitri membagi cerita dan pengalaman mereka tentang perjuangan, suka dan duka dalam menjalani kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Adi mengatakan bahwa bahwa tidak ada kiat-kiat khusus baginya untuk mendapatkan program beasiswa luar negeri. “Saya hanya meluruskan niat saja, bahwa saya di sana untuk menuntaskan kewajiban saya (belajar) baru setelah kewajiban saya selesai, boleh refreshing,” ungkap lelaki berkacamata itu. Dia mengaku bahwa dia sudah mempersiapkan dirinya minimal H-6 bulan (1 semester) untuk melamar beasiswa luar negeri agar dia memiliki prospek ke depan tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Para peserta menyimak ketika sesi tanya-jawab.
Para peserta menyimak ketika sesi tanya-jawab.

Selama menempuh kuliah di luar negeri, banyak hal-hal baru yang akan diterima seperti budaya dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat di sana yang mungkin kurang familier di Indonesia. Safitri mengungkapkan, hal itulah kendala yang paling sukar dihadapinya. Wanita lulusan Sastra Inggris UNS itu mengungkapkan bahwa ia tidak hanya mempersiapkan fisik saja untuk kuliah di luar negeri, tetapi juga mental untuk menghadapi budaya-budaya baru di negeri orang. “Kalau tidak ada persiapan mental, bisa jadi cultural shock,” jelasnya sambil tertawa santai.

Namun di sisi lain, Adi dan Safitri sama-sama mengungkapkan bahwa kuliah di luar negeri membawa suka bagi mereka, di antaranya terjaminnya fasilitas pendidikan yang lengkap dan profesional, lingkungan nyaman, biaya hidup yang relatif lebih murah serta dapat memperluas pergaulan dan kesempatan melalui lingkungan internasional.

Selanjutnya, Adi membagikan saran bagi para peserta yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri agar rajin mencari informasi beasiswa luar negeri di internet dan membuat planning ke depan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. “Cari saja informasi beasiswa di internet. Biasanya di KUI (Kantor Urusan Internasional) banyak. Lengkapi semua berkas yang dibutuhkan. Setelah itu planning ke depannya mau bagaimana. Fokus dan pantang menyerah. Setelah itu action, ini yang paling penting. Kalau hanya planning saja tanpa action, sama saja bohong. Coba saja, coba terus. Tidak ada salahnya,” jelasnya. Diharapkan diskusi ini dapat memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan masa studinya lebih cepat dan memberi bimbingan untuk merencanakan studi lanjutan.[](anggi.red.uns.ac.id)