Jaga Kerukunan, UNS Gelar Tirakatan Lintas Agama

UNS – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia (RI), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Tirakatan Lintas Agama secara daring dengan tema ‘Kolaborasi Lintas Agama dalam Mewujudkan Indonesia Maju’. Acara ini, diselenggarakan pada Minggu (16/7/2020) melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan siaran langsung pada akun YouTube UNS. Acara ini diikuti lebih dari 100 sivitas akademika UNS.

Acara dibuka oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho. Dalam sambutannya, Prof. Jamal menyatakan bahwa acara Tirakatan Lintas Agama ini memiliki dua kepentingan utama.
“Berhubung sampai saat ini pemerintah masih mewajibkan seluruh masyarakat untuk mematuhi peraturan protokol kesehatan akibat pandemi Covid-19, maka acara ini diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting. Rasanya, malam ini kita patut berbangga hati dan bersyukur karena acara ini memiliki dua kepentingan sekaligus yakni sebagai ajang silaturahmi merawat kebersamaan dan kerukunan lintas agama yang sudah lama terjalin dengan baik di UNS dan sekaligus untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-75,” kata Prof. Jamal.

Selain itu, Prof. Jamal juga berpesan agar perbedaan dapat dijadikan sebagai kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa.
“Jadikanlah perbedaan tersebut menjadi kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Mari kita jadikan momentum hari kemerdekaan ini sebagai hari untuk meningkatkan komitmen bersama. Indonesia butuh generasi penerus yang berani tapi juga menghargai,” tutur Prof. Jamal.

Dipandu oleh Aiman Hilmi, acara dilanjutkan dengan pemaparan perwakilan masing-masing Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UNS. Pemaparan pertama dari perwakilan agama Islam yang disampaikan oleh Alvin Almayaza.
“Keberagaman bukanlah hal yang baru dari Islam, sudah ada semenjak 15 abad yang lalu. Sudah saatnya kita menghilangkan kebiasaan buruk yang saling menuduh dan menjelekkan satu sama lain. Indonesia merdeka karena adanya persatuan, mari kita jaga persatuan kita,” ujar Alvin.

Selanjutnya, pemaparan disampaikan oleh perwakilan agama Khong Hu Cu yang disampaikan oleh Margareta Helen.
“Apabila kita menjalankan peran masing-masing dengan baik, hal tersebut akan membantu Tuhan dalam menjaga perdamaian dunia. Dalam suatu ayat, disebutkan bahwa kita semua saudara. Alangkah baiknya perbedaan yang ada dapat merapatkan ikatan saudara,” kata Margareta.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Antonius Sangga Namitulu yang berasal dari perwakilan mahasiswa beragama Katolik di UNS.
“Ingatlah bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan. Mencintai sesama dan mencintai diri sendiri adalah bentuk cinta kepada pencipta yakni Tuhan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual seharusnya bisa menjaga persatuan di masyarakat,” ucap Antonius.

Perwakilan selanjutnya berasal dari agama Kristen yang disampaikan oleh David Rajid.
“Toleransi adalah saat dimana kita melepaskan hak kita dan memberikan pada orang lain. Jika kita mendengar kericuhan, hal tersebut bukanlah hal yang aneh. Hidup toleran dimana pun itu, di kampus, bangsa, kost, kampus, dan Indonesia perlu dilandasi rasa kasih yang tinggi,” jelas David.

Penyampaian selanjutnya datang dari perwakilan agama Hindu yang disampaikan oleh Esa Putri.
“Setiap manusia memiliki kepercayaan manusia, namun hal tersebut bukanlah suatu hal yang aneh. Mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga timbul interaksi yang saling melengkapi satu sama lain,” tutur Esa.

Selanjutnya, pemaparan disampaikan oleh perwakilan agama Budha oleh Wilson.
“Sebagai mahasiswa seharusnya kita dapat berpikir terbuka akan adanya perbedaan dan bisa membangun kebersamaan. Seiring bertambahnya usia negara kita, semakin kokohnya persatuan diantara kita,” terang Wilson.

Susunan acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh tokoh masyarakat yakni KH. Dr. Miftah Faqih selaku Khatib Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU).
“Cinta tanah air dalam sebuah jargon, adalah sebagai manifestasi dari iman. Siapa yang beriman pasti akan menjaga dan mencintai tanah kelahirannya. Rasul pernah bersabda terhadap tanah kelahirannya yakni Mekah, Wahai Bumi Mekah, Demi Allah, engkau adalah kawasan yang paling aku cintai di muka bumi ini. Era apa pun yang lebih buruk dari hari kemarin adalah kehancuran, era apa pun yang lebih baik dari hari kemarin adalah keberkahan. Kita harus percaya diri dengan diri kita untuk meraih keberkahan,” terang KH. Dr. Miftah.

Acara selanjutnya adalah ikrar kerukunan umat beragama mahasiswa UNS yang dilanjutkan dengan pembacaan doa. Pembacaan doa dilakukan oleh Imam Arifin selaku Mahasiswa Berprestasi Sarjana UNS 2020. Selain itu, terdapat pula pembacaan sebagian perolehan prestasi mahasiswa UNS di akhir acara. Di akhir acara, juga terdapat launching lomba yang diadakan UNS dalam memperingati Kemerdekaan ke-75 RI. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti