UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menggelar Kuliah Ramadan yang bertepatan dengan Nuzulul Qur`an pada 17 Ramadan. Pada kesempatan kali ini menghadirkan penceramah yang merupakan Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo sekaligus Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Prof. Dr. K. H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. Acara Kuliah Ramadan ini diselenggarakan di Masjid Nurul Huda UNS pada Senin (17/3/2025) yang juga disiarkan secara langsung di kanal Youtube Masjid NH UNS.
Kuliah Ramadan dengan tajuk NGAJI (Ngabuburit di Masjid) ini mengangkat topik “Kembali kepada Al – Quran: Menjawab Tantangan Intelektual dan Spiritual di Tengah Krisis Identitas Umat Islam”. Acara ini didasari dengan adanya survey pada masyarakat Indonesia yang menjadi negara paling religius sekaligus negara yang penduduknya paling maksiat. Berangkat dari fenomena tersebut, acara ini bertujuan sebagai refleksi diri sendiri agar kembali lagi dari dasar pedoman hidup umat islam yakni Al-Quran.
Ustadz Hamid membuka kajian dengan menjelaskan mengenai fungsi Al-Quran pada kehidupan kita sebagai umat Islam. Beliau juga menjelaskan bahwa pada sebuah potongan ayat penciptaan bumi dan alam semesta ini terdapat aspek fikir dan dzikir, dzikir bukan hanya menyebut asma Allah tapi ditarik lebih luas lagi yakni beribadah. Dengan berdasar penjelasan tersebut maka dimaknai bahwa di dalam Al-Quran, iman dan ilmu itu dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Al-Quran itu bukan hanya kitab suci yang dibaca secara ritual, namun dalam Al-Quran sendiri disebutkan bahwa kitab ini adalah petunjuk, sebagai pembeda kebenaran dan kesalahan, sebagai penyejuk hati, sebagai obat bagi segala penyakit dan masih terdapat sekitar 30 nama lain dan fungsi Al-Qur`an,” tutur Ustadz Hamid.
Rektor UNIDA ini menjelaskan lebih lanjut tentang tiga hal ajaran Utama Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi muslim yakni iman, islam, dan ihsan. Islam dalam konteks ini adalah dengan kelima rukun islamnya. Begitupun dengan iman, dalam iman terdapat enam rukunnya. Pada ihsan yang memiliki arti bahwa kalian beribadah kepada Allah SWT seakan-akan kalian melihatNya, kalaupun kalian tidak melihat Allah, percayalah Allah melihat kalian.


“Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, islam dengan rukunnya yang berjumlah lima itu ternyata tidak sekadar lima. Ketika dijalankan dalam kehidupan maka menjadi yang disebut syariat. Syariat mencakup segala aspek kehidupan baik itu beribadah dalam konteks dengan Allah dan beribadah dalam konteks dengan sesama manusia. Sebab dalam islam selain diberikan petunjuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta, juga hubungan sosial dengan sesama manusia bahkan kepada hewan dan tumbuhan pun Qur`an memberikan petunjuknya,” imbuh Ustadz Hamid.
Ustadz Hamid menegaskan kembali bahwa perjalanan kembali ke Al-Quran yang disinggung pada topik hari ini adalah mengamalkan ajaran Al-Quran yakni ilmu, iman, dan amal atau dapat dibahasakan lain sebagai syariat, aqidah, dan akhlak. Ketika sudah mengamalkan semua ajaran tadi maka akan menjadi orang yang beradab. Manusia ketika menjalankan sholatnya maka itu menjadi alat untuk menjauhkan dari kemaksiatan dengan sendirinya.
Kegiatan ini adalah upaya UNS melalui KRNH untuk mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) keempat Pendidikan yang Berkualitas, dan ketujuhbelas Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Humas UNS



















