Puasa pada Anak, Sehatkah? Dokter Spesialis Anak RS UNS Berikan Penjelasan

Puasa pada Anak, Sehatkah? Dokter Spesialis Anak RS UNS Berikan Penjelasan

Dokter Spesialis Anak RS UNS Maria Galuh Kamenyangan Sari menjelaskan puasa pada anak. Pendekatan bertahap sejak usia 7 tahun penting untuk menjaga kondisi fisik dan psikologis anak, dengan fokus pada pemahaman makna puasa secara aman dan sehat. Nutrisi seimbang dan pemantauan kondisi anak saat berpuasa sangat krusial.

UNS — Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang telah baligh. Meski anak-anak belum diwajibkan berpuasa, orang tua dapat mulai mengenalkannya secara bertahap sejak dini. Pendekatan ini penting karena anak bukanlah “orang dewasa dalam versi kecil”, sehingga praktik puasa harus menyesuaikan dengan kondisi fisik, psikologis, serta tahap perkembangan mereka. Fokus utama bukan pada lamanya anak menahan lapar dan haus, melainkan bagaimana mereka memahami makna puasa dengan cara yang aman, nyaman, dan tetap sehat.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Maria Galuh Kamenyangan Sari, dr., Sp.A Subsp NPM (K)., M.Kes. menyampaikan bahwa setiap anak punya kondisi tubuh dan kesiapan yang berbeda. Beberapa anak mungkin sudah bisa berpuasa 12 jam, sementara yang lain perlu menunggu lebih lama. Jadi, jangan membandingkan anak satu dengan yang lain. Orang tua harus fokus pada proses dan dukungan, bukan pada pencapaian atau pembuktian.

Setelah berpuasa selama 4 sampai 6 jam, tubuh akan mulai memecah cadangan gula (glikogen) dalam tubuh untuk menjaga agar kadar gula dalam darah stabil. Apabila puasa dilanjutkan hingga mencapai 16 jam, maka perlahan cadangan glikogen akan habis dan sebagai kompensasi tubuh kemudian akan menggunakan lemak yang ada sebagai sumber energi. Sedangkan protein sebagai zat pembangun tubuh merupakan komponen terakhir yang akan dipakai bila puasa terus berlanjut. Secara fisik, tubuh anak yang masih kecil memiliki cadangan energi (glikogen) yang sedikit, sehingga lebih rentan mengalami lemas atau dehidrasi jika berpuasa terlalu lama. Karena itu, usia 7 tahun dapat menjadi titik awal yang aman untuk memulai berpuasa. Semakin besar usia anak, risiko gangguan kesehatan seperti hipoglikemia (gula darah turun) semakin kecil. Anak usia 10 tahun ke atas umumnya sudah punya kadar glukosa darah yang sama normalnya dengan kadar glukosa dewasa setelah berpuasa selama 24 jam.

Dari sisi perkembangan kognitif, sejak usia 6–7 tahun anak mulai bisa memahami aturan, sebab-akibat, dan makna dari suatu tindakan termasuk puasa. Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, anak bisa bilang kalau merasa lemah atau lapar, yang membantu orang tua menjaga kesehatannya.

“Penelitian menunjukkan bahwa puasa tidak mengganggu performa akademik anak usia 12 tahun. Tapi, tetap saja setiap anak unik. Keputusan mulai puasa harus diambil berdasarkan kondisi masing-masing, bukan karena ikut-ikutan,” terang dr. Maria Galuh seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Selasa (10/3/2026).

Bagaimana Cara Mengajari Anak Berpuasa Secara Bertahap?

Orang tua bisa mulai mengajarkan puasa kepada anak secara bertahap, terutama pada usia 7–10 tahun. Awali dengan puasa pendek, misalnya dari sahur hingga waktu salat Zuhur (sekitar 6–8 jam), agar tubuh anak bisa beradaptasi perlahan. Lama-kelamaan, durasi bisa diperpanjang hingga berbuka di saat Magrib. Anak di atas 10 tahun biasanya sudah siap berpuasa penuh. Selain itu, orang tua bisa memulai dengan tidak memberi makanan padat terlebih dahulu, tapi tetap mengizinkan minum air untuk mencegah dehidrasi, karena tubuh anak umumnya masih bisa bertahan tanpa cairan selama 2–4 jam. Cara lainnya adalah dengan puasa secara selang-seling, misalnya hanya pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, lalu secara bertahap dilakukan setiap hari. Pendekatan bertahap seperti ini membantu anak belajar disiplin tanpa merasa terbebani, dan menjadikan puasa sebagai pengalaman yang positif dan sehat.

Puasa tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh anak bila dilakukan dengan benar. Saat berpuasa, tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi, sel lebih responsif terhadap insulin, serta terjadi penurunan stres oksidatif dan peradangan yang membantu mencegah penyakit serius seperti kanker, memperkuat sistem imun, dan mengurangi penuaan dini.

Puasa juga memberi kesempatan bagi saluran pencernaan untuk beristirahat, sehingga hati dan ginjal bisa lebih baik dalam membersihkan racun dari tubuh. Dengan jadwal makan yang teratur saat sahur dan berbuka, anak belajar disiplin makan, mencegah kebiasaan makan berlebihan, serta mengurangi risiko obesitas.

Dari sisi perkembangan, puasa melatih anak untuk mengendalikan diri, menahan keinginan, mengelola rasa lapar dan haus, serta memahami batas kemampuannya. Mereka juga belajar mengikuti aturan, menghargai waktu, bersabar, dan menyelesaikan apa yang telah dimulai. Dengan pendampingan orang tua, puasa menjadi pengalaman positif yang membentuk karakter tangguh, emosional terkendali, dan hidup sehat.

Nutrisi Apa Saja yang Perlu Dicukupkan pada Anak yang Berpuasa di Bulan Puasa?

Orang tua perlu memastikan anak makan makanan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Saat berbuka, berikan makanan manis dengan indeks glikemik tinggi seperti buah, madu, atau susu untuk cepat mengembalikan energi. Sementara saat sahur, pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau ubi yang mencerna lebih lambat, sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Tambahkan juga makanan kaya protein, lemak sehat, dan serat untuk memperlambat rasa lapar. Agar anak tetap semangat makan, sajikan makanan dengan variasi bentuk dan rasa. Pastikan anak minum cukup cairan di luar jam puasa untuk mencegah dehidrasi. Berbuka segera setelah waktu tiba dan beri makan sahur mendekati waktu imsak agar puasa anak lebih aman dan sehat.

Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda bahwa anak tidak sanggup berpuasa, seperti lemas, pucat, berkeringat, tangan dan kaki dingin, hingga pingsan, yang bisa menjadi gejala hipoglikemia atau dehidrasi. Keluhan anak harus dipercaya dan tidak boleh dianggap hanya karena malas. Jika muncul gejala tersebut atau anak merasa mual, pusing, kembung, atau sangat rewel, puasa sebaiknya segera dihentikan. Anak yang aktif bergerak atau sedang bersekolah pun membutuhkan energi lebih, sehingga orang tua harus menyesuaikan kondisi fisik anak, bukan menuntut ketahanan. Kemampuan berpuasa bukan soal kuat atau lemah, melainkan kesiapan tubuh. Yang terpenting, puasa belum wajib bagi anak, jadi membatalkan puasa untuk alasan kesehatan bukan kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab orang tua demi kesejahteraan anak.

Orang tua perlu mengetahui pertolongan pertama jika anak mengalami hipoglikemia atau dehidrasi saat puasa. Jika anak masih sadar, berikan larutan gula (1 sendok teh gula dalam seperempat gelas air) dan cukupi cairan tubuhnya dengan memberi air putih, namun jika tidak sadar, segera bawa ke fasilitas kesehatan.

Anak yang sakit akut, kurang gizi, memakai obat rutin dengan jadwal ketat, atau memiliki penyakit seperti gangguan metabolisme (misalnya glycogen storage disease), tidak boleh dipaksa berpuasa karena berisiko memperburuk kondisi. Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk memastikan kesiapan anak berpuasa. Pengaturan ketika anak mendapatkan obat ketika bulan Ramadan, harus disesuaikan, jika obat harus diminum tiap 6–8 jam, anak sebaiknya tidak berpuasa agar pengobatan tetap berjalan.

Bagaimana Pengaturan Pola Tidur Anak Ketika Puasa?

Anak tetap harus tidur 8-9 jam, minimal 7 atau 8 jam pada saat bulan puasa. Jika ia mau sahur, pastikan anak tidur cepat. Jika tidak, maka satu bulan penuh tidur anak akan terganggu, sehingga berdampak pada hormon, metabolisme, dan pubertasnya.

Orang tua perlu peka terhadap anak, mendengarkan keluhannya, dan menghargai usaha kecil yang sudah dicurahkan. Anak yang baru bisa puasa sampai dzuhur atau asar tetap layak diapresiasi, yang penting adalah proses belajar, bukan berapa lama mereka menahan lapar. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau temannya. Tiap anak punya kapasitas dan kesiapan berbeda. Kalimat seperti “kurang kuat” atau “tidak semangat” justru bisa melukai hati dan membuat anak enggan mencoba lagi.

“Biarkan anak jujur tentang kondisinya, dan beri ruang untuk berbuka jika tidak kuat. Anak akan merasa aman, didukung, dan lebih siap belajar ibadah sekaligus membentuk karakter, bukan sebagai beban. Dengan dukungan penuh kasih, puasa bisa menjadi pengalaman positif yang membangun kepercayaan diri dan kedekatan emosional antara anak dan orang tua,” pungkasnya. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kapan usia aman bagi anak untuk mulai berpuasa?

Usia 7 tahun dapat menjadi titik awal yang aman untuk memulai berpuasa, karena risiko gangguan kesehatan seperti hipoglikemia semakin kecil. Lihat di artikel

Bagaimana cara mengajarkan anak berpuasa secara bertahap?

Orang tua bisa memulai dengan puasa pendek, misalnya dari sahur hingga Zuhur (6-8 jam), lalu secara bertahap memperpanjang durasi hingga berbuka di Magrib. Lihat di artikel

Apa saja tanda anak tidak sanggup berpuasa?

Tanda-tanda anak tidak sanggup berpuasa meliputi lemas, pucat, berkeringat, tangan dan kaki dingin, hingga pingsan, yang bisa jadi gejala hipoglikemia atau dehidrasi. Lihat di artikel

Nutrisi apa yang perlu dicukupkan saat anak berpuasa?

Saat sahur, berikan karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau oatmeal. Saat berbuka, sajikan makanan manis seperti buah untuk mengembalikan energi, serta cukupi cairan. Lihat di artikel

Apakah puasa berpengaruh pada performa akademik anak?

Penelitian menunjukkan bahwa puasa tidak mengganggu performa akademik anak usia 12 tahun, namun kesiapan dan kondisi setiap anak tetap unik. Lihat di artikel