Ketua PPM FEB UNS Jelaskan Mengenai Kebaruan dan Kompetensi Kedoktoran

UNS-Ketua Pusat Pengembangan Manajemen (PPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Ahmad Ikhwan Setiawan menjelaskan mengenai kebaruan dan kompetensi kedoktoran. Hal tersebut disampaikan dalam acara webinar Sarasehan Membangun Kebaruan Disertasi Manajemen yang diselenggarakan oleh PPM FEB UNS pada Senin (6/7/2020). Kegiatan ini berlangsung selama 3 jam melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran langsung kanal Youtube.

Dr. Ahmad Ikhwan Setiawan menyampaikan bahwa masyarakat selalu disuguhkan fenomena-fenomena yang ada pada buku literatur. Tentu para ilmuan telah berjasa menangkap fenomena itu kemudian menganalisis, mengeksplorasi, dan sebagainya.

“Jika fenomena itu dikaji oleh banyak pakar, diteliti oleh banyak peneliti, kemudian membukukan pada paper maka jadilah sebuah kesimpulan dan solusi. Lalu bisa menghasilkan sebuah teori, jadi teori yang kita baca saat ini fatwanya adalah sebuah simpulan dari fenomena-fenomena yang terjadi pada dahulu,” jelasnya.

Para peneliti saat membuat sebuah teori tentu merujuk pada pikiran pakar yang diakui pada zaman itu. Baik pendapat atau gagasan yang berkembang pada saat itu, kemudian menjadi sebuah teori.
“Saat ini kita hidup pada era milenial. Banyak fenomena yang kita temukan termasuk Covid-19 ini, mestinya ini menjadi energi untuk melakukan eksplorasi dan analisis,” tambahnya.

Dr. Ahmad mengungkapkan bahwa hubungan antara teori dengan yang terjadi di lapangan tidak selamanya berbanding lurus. Ada kalanya terdapat kesenjangan sehingga fenomena yang ada tidak sesuai dengan teori. Inilah peluang ilmuwan untuk mencari masalah yang di lapangan, kemudian melakukan update apabila teori lama tidak mampu menyelesaikan fenomena tersebut.

“Ini merupakan ladang teman-teman S-3 sehingga diharapkan mampu memperkaya dan memberikan sumbangan konsep-konsep baru. Teori menjadi rujukan karena ada simpulan serta solusi mendasar yang dijustifikasi pikiran argumentatif yang dapat diterima secara luas,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kebaruan dalam disertasi sangat penting karena adanya kesenjangan antara realitas dengan perkembangan teori.
“Contoh kalau kita bicara marketing mix dulu kita disuguhkan product, price, promotion, place. Sekarang e-toll telah mengalami transformasi, masih pentingkah place? Toh kita bisa jualan di mana-mana, bahkan kalau kita lihat bahwa pelaku bisnis kadang tidak punya tempat. Tempatnya di dunia maya, bukan dunia real yang kita lihat. Kemudian terjadi penilaian bahwa keunggulan bersaing bukan ditentukan oleh gudang yang luas, toko yang dipinggir jalan melainkan kemampuan pelaku bisnis dalam menjaring kekuatan digital,” jelasnya.

Terdapat beberapa tahapan dalam membangun konsep baru, antara lain research gap, fenomena gap, sintesa teori, perumusan masalah dan solusi, model teoris atau empiris, dan identifikasi karakteristik variabel baru.
“Pertama yaitu kita identifikasi gap research dan fenomena research, kemudian kita identifikasi penyebab dan solusi masalah karena setiap ada gap pasti ada masalah. Itu tugas kita mencari masalahnya apa, kemudian kita tentukan nama variabel yang unik dan menarik. Lalu apa yang sudah kita lahirkan dari proses kontemplasi berpikir tentu perlu dilindungi oleh payung sintesa. Terakhir kita gambarkan, deskripsikan model yang lebih menarik, lebih jelas, lebih mapan sehingga bisa menangkap fenomena bisnis yang ada,” pungkasnya. Humas UNS