UNS – Laboratorium Public Relation, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan seminar daring dengan tema Tangkal Infodemik dengan Literasi Digital pada hari Kamis (14/5/2020).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua pembicara ahli dari bidang Komunikasi. Pembicara pertama ialah Monika Sri Yuliarti, M.Si selaku Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNS dan anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi). Serta pembicara kedua, Niken Satyawati, M.I.Kom, Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) yang juga lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Seminar yang diadakan secara daring tersebut dihadiri oleh mahasiswa serta para dosen yang tidak saja berasal dari UNS namun juga dari universitas lain. Prof. Normah Mustafa, dosen dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) turut bergabung dalam diskusi tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, kedua pembicara sepakat bahwa saat ini bukan saja wabah pandemi Covid-19 yang dihadapi oleh masyarakat, tetapi ada infodemik yang juga penting untuk diperhatikan.
Sebagai pembicara pertama, Monika Sri Yuliarti, M.Si menjelaskan beberapa hal yang masuk ranah infodemik menurut WHO. Infodemik bisa dijelaskan sebagai kondisi informasi berlimpah namun masyarakat mengalami kebingungan karena sulit menentukan mana informasi yang dapat dipercaya dan diandalkan. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi masyarakat, karena mereka juga membutuhkan informasi.
Sejak merebaknya wabah Covid-19, informasi seputar Covid-19 sangat dicari oleh masyarakat. Jenis informasi mengenai kesehatan dan faktor lain yang terkait Covid-19 menjadi isu populer. Salah satu dampak yang terjadi akibat dari tingginya intensitas melakukan pencarian informasi adalah rasa khawatir, cemas dan takut.
“Penting sekali untuk dipahami mengenai literasi digital untuk menghadapi infodemik yang saat ini sedang terjadi,” terang Monika.
Pembicara kedua, Niken Satyawati, M.I.Kom menjelaskan mengenai Hoaks Covid-19, Dampak serta Mitigasinya. Menurut data yang telah dihimpun oleh Mafindo, terdapat 384 Hoaks yang di-debunk per 13 Mei 2020.
Tema-tema yang sering diangkat sebagai hoaks Covid-19 adalah kesehatan/nutrisi (40%), bencana kesehatan (11%), agama (10%), etnis/sara (8%), politik (3%) dan lain-lain (26%). Kemudian tipe-tipe hoaks biasanya berupa konten menyesatkan, konten palsu, konten salah, koneksi salah, konten yang dimanipulasi dan sebagainya.
“Saat ini yang menjadi sasaran hoaks adalah pemerintah, pihak asing, warga/publik, tokoh agama, bahkan Tuhan juga masuk menjadi sasaran,” tutur Niken saat menjelaskan data dari Mafindo.
Penyebaran informasi hoaks paling besar terjadi di media Facebook. Pengguna media ini mayoritas adalah orang tua dimana daya literasi digital yang dimiliki sudah tidak sebaik anak muda. Niat mereka untuk memberikan informasi ini baik, akan tetapi mayoritas tidak melakukan verifikasi dan tidak mengetahui dampak bahaya menyampaikan informasi yang keliru. Kondisi seperti ini tentu akan dimanfaatkan oleh beberapa kalangan untuk kepentingan pribadi seperti mencari keuntungan financial.
Menanggapi hal tersebut strategi mitigasi dalam menangkal Hoaks Covid-19 bisa dilakukan berbasis kolaborasi. Informasi dari otoritas kesehatan terpercaya bisa dilakukan dengan transparansi dan jujur supaya kepercayaan publik meningkat. “Selain itu upaya edukasi secara massif dan kontekstual juga perlu dilaksanakan. Pemeriksaan fakta, media pers lebih bertanggung jawab, dan penegakan hukum terhadap penyebar hoaks dilakukan dengan tegas,” pungkas Niken. Humas UNS/Ratri


















