Miliki Kepakaran Ekonomi Pertanian, Prof. Minar Ferichani Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNS

Miliki Kepakaran Ekonomi Pertanian, Prof. Minar Ferichani Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNS
Miliki Kepakaran Ekonomi Pertanian, Prof. Minar Ferichani Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNS

UNS – Prof. Dr. Ir. Minar Ferichani, M.P., dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Keilmuan Ekonomi Pertanian. Pidato inaugurasi yang Prof. Minar sampaikan mengangkat judul “Tinjauan Ekonomi Metode SRI (Sistem Of Rice Intensification) Salah Satu Solusi Swasembada Pangan di Indonesia”.

Prof. Minar dikukuhkan langsung oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Selasa (11/2/2025). Prosesi tersebut berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Prof. Minar dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-50 pada FP dan ke-342 di UNS.

Prof. Minar membuka pidatonya dengan menyampaikan bahwa dengan bentang alam Indonesia di zamrud khatulistiwa membuat Indonesia dianugerahi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Melimpahnya SDA tersebut mendukung Indonesia untuk mencapai swasembada pangan atau dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Namun yang terjadi saat ini justru dalam hal pangan, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor terbesar di dunia. Oleh karena itu Prof. Minar menggagas metode bercocok tanam baru untuk meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri.

“Saya akan menyampaikan sebuah inovasi berupa metode bercocok tanam padi yang disebut SRI (System of Rice Intensification) yang dapat menjadi solusi dalam program swasembada pangan di Indonesia. Metode ini merupakan metode bercocok tanam padi yang produktif, adaptive, efisien air, serta ramah lingkungan, karena mengoptimalkan potensi agroekosistem. Sehingga mampu meningkatkan produksi 3 hingga 4 kali lipat per lubang tanam,” tutur Prof. Minar.

Hasil Positif Penelitian Metode SRI

Prof. Minar menyampaikan bahwa hasil penelitian Model SRI ini menunjukkan keunggulan potensi ekonomi. Penelitian di Bantul, Sleman, dan lahan terintrusi air payau di Segara Anakan Nusa Kambangan menunjukkan besarnya nilai R/C rasio yang meningkat secara signifikan. Ini disebabkan praktek SRI dapat menekan biaya variabel hingga 40% dan peningkatan produksi per luas lahan. Penelitian SRI di Indonesia Timur, menunjukkan bahwa SRI dapat diterapkan di daerah yang irigasinya kurang mendukung. Namun tetap meningkatkan hasil panen hingga 3,3 ton/ha, penurunan penggunaan air hingga 40%, mereduksi 50% pupuk sintetis, dan biaya produksi yang menurun 20%.

Prof. Minar juga menyampaikan hasil penelitian SRI di berbagai negara, seperti penelitian SRI di Andhra Pradesh, India menunjukkan SRI memiliki benefit cost ratio lebih tinggi yaitu 1,76 sedangkan konvensional 1,25, dan meningkatkan hasil panen hingga 31%. Penelitian SRI di Korea menunjukkan penerapan SRI dapat menekan kebutuhan air hingga 55,6% serta mereduksi kebutuhan irigasi dan polusi non-point source (NPS) yang berasal dari curah hujan atau salju yang meleleh. Hambatan paling utama Metode SRI ini adalah manajemen pemeliharaannya saja.

“Hasil penelitian SRI tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode SRI dengan modifikasi irigasi dapat diaplikasikan di gurun sahara, lahan terintrusi air payau, lahan kering maupun lahan marginal lainnya. Metode SRI memiliki keunggulan seperti perbaikan tekstur dan biota tanah. Lalu peningkatan jumlah anakan padi, indeks luas daun yang meningkat, penurunan kebutuhan air untuk irigasi, dan penurunan biaya produksi yang tentu mengarah pada keunggulan secara ekonomi jika dibandingkan dengan metode konvensional. Dengan hasil metode SRI yang dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi dapat menjadi solusi untuk mencapai swasembada pangan di Indonesia,” pungkas Prof. Minar.

Humas UNS
Reporter: Dikky Yudi Pradana
Redaktur: Dwi Hastuti