PKKMB UNS Dimulai, Beberapa Hal Dapat Diperhatikan untuk Menunjang Kesuksesan Proses Adaptasi Maba

PKKMB UNS Dimulai, Beberapa Hal Dapat Diperhatikan untuk Menunjang Kesuksesan Proses Adaptasi Maba

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memulai kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) pada Jumat (13/8/2021). Dikutip dari Panduan Umum PKKMB 2021 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), PKKMB merupakan wahana bagi pemimpin perguruan tinggi untuk memperkenalkan dan mempersiapkan mahasiswa baru dalam proses transisi menjadi mahasiswa yang dewasa dan mandiri, serta mempercepat proses adaptasi mahasiswa dengan lingkungan yang baru dan memberikan bekal untuk keberhasilannya menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Alasan perlu adanya adaptasi ini pun terlihat dari perbedaan sistem pendidikan dan pengajaran antara Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan perguruan tinggi. Terdapat pula lingkungan baru dengan beragam fasilitas, sistem akademik, dan tata tertib yang menyertai sehingga dirasa dinilai untuk dikenalkan kepada Mahasiswa Baru (Maba). Pentingnya PKKMB ini juga disampaikan oleh Psikolog Fakultas Kedokteran (FK) UNS, Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A.

“Makanya perlu adanya PKKMB sehingga siswa itu tidak kaget ketika memasuki lingkungan baru. Jadi memang tujuan utamanya untuk membiasakan agar mereka bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan baru,” terang Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A., Kamis (12/8/2021).

Kepada uns.ac.id, Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A. menerangkan terbentuknya adaptasi yang baik tidak lepas dari perihal yang bersifat psikologis, seperti ketahanan dan ketekunan. Adapun peran dari luar diri Maba seperti halnya kualitas pelaksanaan PKKMB. Mencermati hal ini, pimpinan perguruan tinggi melalui panitia pelaksana dapat saling berkolaborasi mendukung terwujudnya adaptasi yang baik oleh mahasiswa baru.

Dampak positif tentu akan dirasakan banyak pihak dalam pelaksanaan PKKMB yang sukses, khususnya bagi Maba. Pelaksanaan PKKMB secara daring menjadi inovasi di tengah pandemi agar Maba tetap bisa memperoleh ilmu dan informasi terkait adaptasinya di perguruan tinggi.

Dampak Psikologis yang Mungkin Dirasakan Ketika Pelaksanaan PKKMB Daring

Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A. menjelaskan sebenarnya ada banyak dampak yang berpotensi dirasakan ketika pelaksanaan PKKMB daring. Salah satu yang tampak nyata adalah fatigue ‘kelelahan’. Kelelahan ini dirasakan baik oleh Maba maupun panitia pelaksana sendiri. Penyebab yang mungkin adalah kontak mata dengan banyak orang secara daring yang mana hal tersebut mendorong mereka untuk tetap fokus pada layar gawai.

Kontak mata dengan diri sendiri melalui aplikasi pertemuan daring pun nyatanya menimbulkan kelelahan tersendiri. Munculnya rasa cemas memikirkan penampilan diri menjadi cukup untuk menimbulkan kelelahan.

“Itu (kontak mata dengan diri sendiri) sudah membuat suatu kelelahan tersendiri karena terlalu memikirkan hal tersebut. Menimbulkan efek dramatis,” tuturnya.

Engagement Maba pada Kegiatan PKKMB

Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A. menjelaskan dampak negatif berupa kelelahan ini dapat mengarah dan mempengaruhi engagement pada kegiatan PKKMB. Engagement ini berkenaan pada tiga hal antusias, ketekunan, dan rekonsiliasi.

Antusias terlihat dari bagaimana ketertarikan Maba untuk ikut dan terikat di dalam kegiatan. Kelelahan perlu untuk diminimalkan guna menjaga antusias hingga akhir acara.

Ketekunan terkait dengan perilaku berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan Maba meskipun terdapat rintangan. Mahasiswa diharapkan tetap melakukan usaha untuk bisa melewati ospek itu dengan baik.

Rekonsiliasi menjadi suatu proses kognitif yang mungkin dialami. Maba menyadari adanya perbedaan yang dirasakan ketika mengikuti PKKMB daring. Meninggalkan kesenangan dirumah untuk mengikuti PKKMB daring menjadi contoh dalam merekonsiliasi.

Ketiga hal tersebut nantinya memberikan pengaruh jangka panjang terhadap sense of belonging.

“Dampak panjangnya ketika tidak antusias, tidak tekun, tugas dikerjakan sekadarnya, dan rekonsiliasi akhirnya menghilangkan rasa bahwa dia ada di dalam kelompok itu. misal kurang menjadi bagian dari keluarga mahasiswa Prodi X dan lainnya. Itu dampak panjangnya, sense of belonging,” terang Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A.

Upaya Preventif Meminimalkan Dampak Negatif Kelelahan

Menurut Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A., kata kunci upaya preventif meminimalkan dampak negatif ada pada panitia. Panitia sebagai pemegang kendali kegiatan dapat mengatur sedemikian rupa sehingga ada satu atau beberapa sesi untuk membebaskan untuk mematikan video agar tidak terlalu lama melakukan screen time. Variasi kegiatan dan manajemen waktu juga menjadi hal yang harus diperhitungkan dengan matang.

Engagement juga bisa dibangun dari kegiatan dalam kelompok kecil dengan kelompok kecil yang dapat berganti-ganti anggotanya. Permasalahan yang dialami Maba dalam proses adaptasinya juga dapat dibantu juga oleh peran kakak asuh sebagai konselor sebaya. Kakak asuh tidak hanya menjadi fasilitator bagi Maba, melainkan juga mendampingi proses adaptasi mereka.

“Kita nggak bisa membangun relasi baru dengan engagement yang tinggi dalam suatu kelompok besar. Itu mungkin akan susah. Dapat lebih mudah ketika mereka berada dalam kelompok kecil. Engage nya akan lebih mudah terbangun,” Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., M.A. Humas UNS

Reporter: Rangga Pangestu Adji
Editor: Dwi Hastuti