Prodi S-2 Ilmu Linguistik UNS Gelar Webinar Keberagaman Bahasa, Budaya dan Penerjemahan

UNS-Program Studi (Prodi) S-2 Ilmu Linguistik Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan webinar Keberagaman Bahasa, Budaya, dan Penerjemahan. Kegiatan tersebut berlangsung secara daring pada Senin (5/10/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting. Webinar yang dimoderatori oleh Wiwik Yulianti, M.Hum. ini menghadirkan Dr. Obing Katubi dan Dr. Raden Arief Nugroho sebagai pembicara.

Dalam pemaparan materinya, Dr. Raden Arief Nugroho menyampaikan materi tentang proses penerjemahan terspesialisasi dan penerjemah tunanetra. Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) tersebut memaparkan bahwa specialized translatation menarik diteliti karena hal tersebut membutuhkan treatment tersendiri.

“Secialized translation berada dalam domain tertentu, kemudian ada penggunaan leksis tertentu dan lain sebagainya. Specialized translation berarti bahwa penerjemahan terspesialisasi itu berkaitan dengan domain tertentu misal teks di bidang ekonomi, kemaritiman, perbankan tetapi yang masih memiliki tujuan operasional,” paparnya.

Terdapat area yang menjadikan seseorang harus melihat pemahaman dari orang-orang tertentu supaya specialized translation tersebut menjadi spesial.
“Pemahaman yang detail terhadap sebuah teks yang menjadikan teks tersebut spesial. Pemahaman tertentu bisa berupa pemahaman pembaca, pemahaman dari penerjemah itu sendiri, penerjemahnya bisa tidak menerjemahkan teks specialized itu, punya kompetensi atau tidak. Kita punya poros tambahan yaitu poros diagonal atau penerjemah, jadi penerjemah bisa membuat atau meyakinkan peneliti penerjemahan bahwa ini teks spesial atau bukan,” imbuhnya.

Sementara itu, pembicara kedua yakni Obing Katubi membawakan materi tentang perkembangan gagasan bahasa demi menjaga keragaman bahasa. Peneliti utama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut menyampaikan bahwa salah satu ciri punahnya bahasa adalah terjadinya penyimpangan penggunaan bahasa.

“Tingkat vitalitas bahasa menjadi indikator utama dalam merancang program pemertahanan dan revitalisasi bahasa yang terancam punah. Kita tidak bisa menentukan bahasa itu kayaknya terancam punah, buktinya apa. Sebagai akademisi harus punya bukti, buktinya itu harus melalui penelitian, salah satunya adalah dengan tingkat vitalitas atau variasi. Prinsipnya bahasa tidak pernah monolitik, bahasa selalu bervariasi baik karena aspek sosial  tingkat pendidikan, usia dan sebagainya.

Terdapat 3 indikator vitalitas bahasa yaitu status kelompok dalam masyarakat yang lebih luas, variabel demografis, dan dukungan institusional untuk kelompok.

“Status ini dalam rangka komunitas misal status sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Kemudian demografis berkaitan dengan aspek kependudukan misal jumlah kelompok yang kecil diprediksi akan beralih bahasanya ke kelompok yang dominan atau mengadaptasi ke dominan. Dukungan institusi ini berkaitan dengan lembaga pengambil kebijakan, apakah memberikan dukungan terhadap bahasa tersebut atau tidak. Jika kelembagaan tersebut memberikan dukungan kuat pada bahasa tersebut, maka akan semakin kuat bahasa tersebut dibanding bahasa-bahasa lain,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti