UNS – Dalam rangka menyambut pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2018, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan acara “KPU Goes to Campus” untuk menyosialisasikan mengenai tahapan pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) pada Selasa (27/2/2018).

Sekretaris KPU Provinsi Jawa Tengah, Sri Lestariningsih, menjelaskan bahwa tujuan utama dari sosialisasi ini untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam setiap tahapan proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah tahun 2018. Dalam acara yang dimoderatori oleh Vera Kartika Giantari ini, dihadirkan dua narasumber yaitu Diana Ariyanti, anggota KPU Provinsi Jawa Tengah Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat yang menyampaikan materi dengan tema “Pemilih Berdaulat Bergerak Melawan Hoax” serta Andre Rahmanto selaku Deputi Humas UNS yang menyampaikan materi “Mendorong Partisipasi Pemilih Muda”.
“Harapannya, informasi dari narasumber dan KPU dapat membuat mahasiswa menjadi voter yang cerdas, misalnya melihat background para kandidat yang mencalonkan diri,” ujar Rohman Agus Pratomo, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UNS ketika menyampaikan sambutan untuk membuka acara KPU Goes to Campus ini.
Diana menjelaskan bahwa alasan diadakannya sosialisasi Pilkada ini di kampus dikarenakan kampus merupakan tempat yang netral. Selain itu, ia mengharapkan bahwa semua mahasiswa dapat turut andil menjadi pemilih. Pemilih merupakan salah satu stakeholder pemilu diantara tiga unsur lainnya yakni penyelenggara, peserta, dan media.
“Pemilih memiliki peranan besar dalam proses pemilu dan demokrasi. Suara pemilih menentukan masa depan bangsa. Pemilih yang mandiri ikut serta dalam proses tahapan penyelenggaraan pemilihan dan tidak terpengaruh politik uang,” jelas Diana terkait peran pemilih.
Peran mahasiswa yang sangat penting untuk ikut serta dalam pemilu juga dijelaskan oleh Andre, menurutnya, mahasiswa yang tergolong pemilih pemula memiliki jumlah yang banyak. Untuk itu, partisipasi mahasiswa sebagai pemilih akan menjadi penentu masa depan bangsa.
“Semakin tinggi partisipasi, semakin berkualitas demokrasi. Namun ada empat paham hambatan partisipasi yang harus dihindari, yaitu: apati, sinisme, alienasi, dan anomi,” papar Andre. Humas-red.uns/Tni/Isn
















