Seminar Nasional AYLC 2019 digelar di UNS

Dengarkan artikel

UNS – Agriculture Youth Leadership Camp (AYLC) 2019 kembali digelar oleh Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa Pertanian Indonesia (IBEMPI). Kali ini, BEM Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Salah satu rangkaian acaranya adalah Seminar Nasional AYLC dengan tema “Optimalisasi Peran Generasi Muda untuk Mewujudkan Pertanian Indonesia Mandiri di Era Revolusi Industri 4.0” yang bertempat di Aula Gedung B FP UNS, Kamis (1/8/2019).

“AYLC ini memuat tiga kata kunci kemajuan bangsa, yaitu pertanian yang merupakan bidang kor kompeten di Indonesia. Kemudian ‘youth atau pemuda’ yang menjadi penggerak pertanian. Terakhir adalah ‘leadership atau kepemimpinan’ yang dibutuhkan oleh para pemuda untuk mewujudkan pertanian digdaya. Dan di AYLC inilah kita ditempa,” jelas Mirzha Ramadhana Putra, Presiden Nasional I IBEMPI.

Ia pun berharap para peserta AYLC dapat melek dan mulai memahami pemuda seperti apa yang diperlukan untuk memajukan pertanian Indonesia yang digdaya. Berbagai universitas pun turut serta dalam AYLC ini, di antaranya UNS, UNDIP, IPB, USU, Unmul, Untar, Universitas Juanda dan lain-lain.

Seminar tersebut menghadirkan dua pembicara dengan latar belakang berbeda yaitu Ir. Gatut Sumbogojati, M.M dan Nur Agis Aulia, S.Sos.

Gatut mengatakan bahwa salah satu permasalahan pertanian di Indonesia saat ini adalah minimnya generasi muda khususnya lulusan pertanian yang terjun ke dunia pertanian.

“Belum banyak generasi muda terjun di dunia pertanian. Dampak negatifnya yaitu kemampuan produksi dalam negeri yang minim sekaligus menurunnya daya saing. Maka Kementan mencanangkan program 1 juta Petani Millenial,” jelas Gatut yang merupakan Direktur dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia itu.

Sementara itu, Nur Agis Aulia, seorang Agropreneur dan Sociopreneur muda Jawara Farm, mengatakan bahwa profesi petani bukan lagi profesi konvensional tetapi sebuah ladang yang sangat potensial dan menjanjikan.

“Saya lulusan Ilmu Sosial, diterima di BUMN waktu itu. Tetapi akhirnya saya memilih untuk pulang ke Serang. Memulai usaha ternak dan tani. Lama kelamaan usaha saya berkembang pesat, penghasilan per hari dari ternak sapi saja minimal 300 ribu rupiah. Dari situ saya simpulkan bahwa ternak dan tani sangat bisa ‘menghidupi’ kita dan menjadi usaha yang menjanjikan. Kuncinya inisiatif untuk terjun ke lapangan, cek potensi desa, peluang besar ada di sana,” tutur pria 30 tahun tersebut.

Selain itu, Agis juga melakukan upaya pemberdayaan masyarakat agar ilmu yang ia miliki juga membantu peternak dan petani lain di desanya. Menurutnya, tahapan awal yang perlu dilakukan adalah penyadaran yang tidak cukup dengan penyuluhan, tetapi contoh konkret dimulai dari dirinya sendiri. Humas UNS/ Kaffa