Berita Terkini

SV UNS Adakan Vocational Coaching Corner Bahas Membangkitkan Daya Saing UMKM

By 22 May 2020 No Comments

UNS – Sekolah Vokasi (SV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali mengadakan Vocational Coaching Corner. Kegiatan yang mengusung tema Membangkitkan Daya Saing Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini dilakukan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting pada Kamis (21/5/2020). Coaching Corner pada kali ini merupakan seri ketiga yang diadakan oleh Sekolah Vokasi UNS.

Kegiatan ini menghadirkan Dr. Choiroel Anam selaku Kepala Program Studi D-3 Teknologi Hasil Pertanian dan Raden Kunto Adi, M.P, selaku Kepala Program Studi D-3 Agribisnis sebagai pemateri. Dimoderatori secara langsung oleh Wakil Direktur Bidang 1 SV UNS, Agus Dwi Priyanto, S.S., M.Call., coaching corner ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah. Kedua pemateri tersebut memaparkan topik yang berbeda, Dr. Choiroel menyampaikan topik Urgensi Produk Halal UMKM, sedangkan Raden Kunta Adi, M.P., memaparkan materi Pengembangan Kompetensi Pendamping Bisnis UMKM.

UMKM sendiri memiliki peranan penting sebagai penopang perekonomian Indonesia. Yang menjadikan UMKM sangat kuat dalam roda perekonomian yaitu karena keberadaannya tersebar di seluruh penjuru negeri dengan lebih dari 98 persen berstatus usaha mikro. Dalam kaitannya dengan produk halal, tentu merupakan salah satu peluang besar dalam mendongkrak laju UMKM di Indonesia.

Dr. Choiroel Anam menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat 5 industri halal global berdasarkan Global Islamic Economy Indicator.

“Kalau secara global, industri halal kita berada di peringkat 5 dunia, tetapi dalam bidang lain, Indonesia belum memimpin. Contohnya pada bidang keuangan, pariwisata, fashion, media dan rekreasi, serta kosmetik dan obat-obatan. Dalam bidang keuangan syariah berada di urutan 5, fashion berada di urutan 3, dan pariwisata berada di urutan 4,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Global Islamic Economy Report (GIER) 2019/2020, konsumsi makanan halal Indonesia mencapai 173 miliar dollar AS. Namun, yang menjadi pengekspor makanan halal terbesar di dunia bukan Indonesia, melainkan Brasil dengan nilai 5,5 miliar dollar AS.

“Peluang produk halal Indonesia sangat besar, khususnya produk makanan. Oleh karena itu diperlukan sertifikat halal, yang juga merupakan hak konsumen. Produk yang dihasilkan oleh UMKM harus ada sertifikat halal, dalam hal ini peran perguruan tinggi dalam melalukan pendampingan UMKM,” ungkap Dr. Choiroel.

Apabila Indonesia terus menggenjot produk halal yang mencapai triliunan dollar AS tersebut maka produk halal dapat menjadi substitusi impor yang tepat untuk mendapatkan devisa. Oleh karena itu, salah satu hal yang dapat diupayakan adalah melakukan pendampingan terhadap UMKM yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Raden Kunta Adi, M.P. Ia mengatakan bahwa pendampingan tersebut sangat penting agar dapat mendobrak produk dan pelaku usaha.

“Kontribusi UMKM sangat besar, salah satunya dalam perolehan Gross Domestic Product (GDP) yang mencapai 50 persen. Agar lebih pesat lagi, maka harus ada pendampingan dari berbagai pihak, salah satunya perguruan tinggi,” ungkapnya.

Pendampingan tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan tinggi agar hasilnya menjadi optimal. UMKM yang 98 persen didominasi oleh usaha kecil serta 2 persen usaha menengah juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 83 persen. Namun, yang telah melakukan ekspor baru 20 persen UMKM.

Raden Kunta Adi, M.P., juga menyampaikan bahwa sebelum melakukan pendampingan terdapat poin-poin yang harus dikuasai.

“Pendamping harus menguasai lima kompetensi, yaitu pengelolaan diri, interpersonal skill, menjalin relasi, pengelolaan UMKM, serta pelibatan banyak orang,” jelasnya.

Agar dapat mendobrak pasar internasional, UMKM harus mampu naik level. Tidak hanya meningkatkan omzet saja, tetapi juga mindset atau mental dari pelaku UMKM. Diperlukan mental yang kuat supaya memiliki motivasi dalam berwirausaha.Humas UNS/Zalfaa

Leave a Reply