Tim Hibah JarPak UNS dengan KWT Ngadi Asih Perkuat Ketahanan Pangan melalui Pelatihan Budidaya Maggot dan Akuaponik

Tim Hibah JarPak UNS dengan KWT Ngadi Asih Perkuat Ketahanan Pangan melalui Pelatihan Budidaya Maggot dan Akuaponik

Tim Hibah JarPak UNS memberdayakan KWT Ngadi Asih melalui pelatihan budidaya maggot dan akuaponik di Surakarta pada 12 April. Kegiatan ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan, mengelola sampah organik, dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui solusi pertanian terpadu.

UNS — Tim Hibah JarPak Universitas Seblas Maret (UNS) Surakarta melakukan aktivitas pembelajaran Proyek Membangun Desa. Kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk memberdayakan melalui implementasi program yang berdampak langsung bagi masyarakat desa. Tim Hibah Berdampak terdiri dari 9 Mahasiswa S-1 Agribisnis yang beranggotakan Alma Aprilstya, Amalia Putri Chamilla, Annida Kharisma Putri, Ayu Widyaningsih, Chintya Ayu Pramesti, Damar Adhi Nugroho, Desinta Ayu Anggrahani, Yogi Putra Setyawan dan Alya Rayhan Ramadhany sebagai ketua pelaksana.

Program Kerja Sosialisasi Budidaya Maggot dan Akuaponik menunjukkan komitmen dalam mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan. Kegiatan yang berlangsung di rumah salah satu warga di Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Agus Haryanto ini diikuti oleh 20 peserta KWT Ngadi Asih serta dihadiri oleh Lurah Kelurahan Joglo, Agus Riyadi, S.T., dosen pembimbing, Raden Kunto Adi, S.P., M.P., serta perangkat wilayah setempat pada 12 April kemarin.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari CV Kans.id, Muhammad Aji Pamungkas, yang memberikan edukasi sekaligus praktik terkait pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot dan penerapan sistem urban farming berbasis akuaponik. Materi yang disampaikan difokuskan pada solusi nyata dalam mengatasi permasalahan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Muhammad Aji Pamungkas menjelaskan bahwa sampah organik memiliki potensi besar jika dikelola dengan tepat. “Sampah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai, justru bisa menjadi sumber pakan alternatif yang bernilai ekonomi melalui budidaya maggot. Bahkan, dalam jumlah kecil, maggot mampu mengurai sampah dalam skala yang cukup besar,” terang Muhammad Aji Pamungkas dalam rilisnya kepada uns.ac.id, Selasa (28/4/2026).

Ia juga menambahkan bahwa pemahaman terhadap siklus hidup maggot menjadi kunci keberhasilan budidaya. “Maggot memiliki beberapa fase kehidupan mulai dari telur hingga menjadi lalat dewasa. Pada fase larva, maggot sangat aktif mengurai sampah. Di sinilah potensi utamanya dalam membantu pengelolaan limbah organik,” jelasnya.

Dalam praktiknya, media budidaya menggunakan campuran ampas tahu dan dedak dengan perbandingan 1 kg : 500 gram. Kombinasi ini dinilai efektif untuk menunjang pertumbuhan maggot karena mengandung unsur protein dan karbohidrat yang seimbang. Selain itu, ia menyebutkan bahwa 1 gram maggot usia 0–5 hari mampu mengurai hingga 2 kg sampah organik.

Selain membahas budidaya maggot, kegiatan ini juga memberikan pemahaman tentang sistem akuaponik sebagai solusi pertanian terpadu. Sistem ini menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

“Akuaponik ini sangat cocok untuk skala rumah tangga, terutama di lahan terbatas. Limbah dari ikan bisa dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman, sehingga tidak ada yang terbuang dan semuanya saling terintegrasi,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan berbagai pertanyaan yang diajukan. Salah satu peserta menyoroti perbedaan pertumbuhan ikan lele pada media budidaya yang berbeda. Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa keterbatasan ruang gerak dan oksigen menjadi faktor utama.

“Lele yang dipelihara di wadah kecil seperti galon cenderung lebih lambat pertumbuhannya dibandingkan di kolam. Idealnya, 1 ekor lele membutuhkan sekitar 5 liter air. Untuk galon, cukup diisi 3–5 ekor agar pertumbuhannya tetap optimal,” jelasnya.

Lurah Kelurahan Joglo, Agus Riyadi, S.T., mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam pemberdayaan masyarakat. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat dalam mengelola sampah dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, KWT Ngadi Asih diharapkan mampu mengimplementasikan pengelolaan sampah organik secara mandiri serta mengembangkan usaha berbasis pertanian terpadu. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan utama dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan Tim Hibah JarPak UNS?

Kegiatan ini bertujuan memberdayakan masyarakat desa melalui implementasi program yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan. Lihat di artikel

Bagaimana budidaya maggot dapat membantu pengelolaan sampah organik?

Maggot memiliki potensi besar untuk mengurai sampah organik menjadi sumber pakan alternatif yang bernilai ekonomi. Lihat di artikel

Apa keuntungan menerapkan sistem akuaponik untuk skala rumah tangga?

Akuaponik cocok untuk skala rumah tangga di lahan terbatas karena limbah ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman, menciptakan ekosistem yang terintegrasi. Lihat di artikel

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan pelatihan budidaya maggot dan akuaponik ini?

Kegiatan ini melibatkan Tim Hibah JarPak UNS, KWT Ngadi Asih, narasumber dari CV Kans.id, Lurah Joglo, dan dosen pembimbing.