UNS Cultural Night 2016: Menemukan Makna dari Keberagaman (Bagian 2-Habis)

Delegasi dari 10 negara dalam segmen fashion show dengan mengenakan pakaian khas negara masing-masing.
Delegasi dari 10 negara dalam segmen fashion show dengan mengenakan pakaian khas negara masing-masing.
Delegasi dari 10 negara dalam segmen fashion show dengan mengenakan pakaian khas negara masing-masing.

Selain pertunjukan budaya dan festival kuliner mancanegara, UNS Cultural Night 2016 menyediakan hadiah bagi penonton untuk terbang ke Bangkok. Para penonton yang menginginkan hadiah ini harus berlomba-lomba mengirimkan foto mereka saat menghadiri UCN 2016 di Instagram dengan tagar #UCN2016. Kesempatan ini berlaku hingga 30 Maret 2016. Setelah penampilan dari beberapa mahasiswa asing, Kepala IO UNS, Taufik Almakmun, muncul untuk mengungkap pesan yang tersembunyi di balik tiket UCN 2016. Tiket UCN 2016 tergolong unik dan inovatif dengan beberapa sudut yang bisa dilipat dan menjadi beberapa pasang gambar jika dilihat dari beberapa sudut pandang. Hal ini menyiratkan bahwa meski memilki keragaman budaya, keseluruhan budaya tersebut bisa dipandang, bisa dinikmati apabila melalui perspektif dan sudut pandang yang berbeda. Pengungkapan pesan tersembunyi ini kemudian disambung dengan acara fashion show yang menampilkan pakaian adat dari 10 negara. Seluruh perwakilan negara berbaris secara berurutan masuk melalui pintu auditorium dan berlenggak-lenggok sambil menyapa penonton untuk menuju ke panggung utama.  Seketika, semua mata terpaku pada barisan delegasi yang nampak menawan dalam balutan busana khas negara-negara tersebut. Tepuk tangan penonton riuh memenuhi ruangan ketika MC yang berasal dari Mozambik memperkenalkan satu-persatu pakaian khas yang ditampilkan.

Bagian yang ditunggu-tunggu penonton pun akhirnya tiba. Ya, berburu kuliner mancanegara. Begitu sang pembawa acara mempersilakan penonton untuk mendatangi stan-stan makanan di samping panggung, seketika kerumunan terbentuk di seputar stan-stan tersebut. Saking antusiasnya, para penonton rela untuk mengantre dan saling berebut makanan karena kehabisan. “Enak, pedas, kalo mau makan makanan luar negeri, tiap tahun ke sini aja, nggak usah jauh-jauh naik pesawat,” ujar Maora, salah satu penonton UCN 2016 sambil tertawa. Seusai kuliner, rangkaian pertunjukkan menari dan menyanyi segera disambung lagi. Kali ini delegasi dari Jepang unjuk gigi dengan membawakan tarian Gunung Sari, yang notabene adalah tarian dari Indonesia. Meski mahasiswa asing, delegasi Jepang tampil memukau dengan gerakan yang sangat rinci dan halus, seolah sudah sering membawakannya tanpa sedikitpun demam panggung. Penampilan ini disusul dengan penampilan delegasi dari Mozambik, India, dan Turkmenistan sebagai penutup.

Tepat pada pukul 23.00 WIB malam puncak UCN 2016 ditutup dengan segala kemegahan yang masih tersisa. Banyak penonton yang masih sibuk mengambil foto, bahkan mengajak perwakilan dari beberapa delegasi untuk ikut serta. Hal ini sesuai dengan pesan tersirat acara ini bahwa perbedaan bukanlah pembatas, perbedaan itu ada, dan pasti ada. Namun tak lantas kita memandang perbedaan sebagai hal yang membebani, justru kita harus mampu menggali makna dari perbedaan yang ada, karena perbedaan ada untuk disyukuri, untuk dirayakan.[] (anggiayu.red.uns.ac.id)