UNS — Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kearsipan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar workshop penelusuran sumber sejarah pada Jumat (14/8/2020). Kegiatan tersebut berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran langsung kanal Youtube. UPT Kearsipan UNS menghadirkan Dra. Euis Shariasih, M.Hum. yang merupakan Arsiparis Madya dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Arsip merupakan rekaman peristiwa dalam berbagai bentuk dan media yang dapat berasal dari pemerintahan serta perorangan. Euis menjelaskan bahwa bahan Pustaka dan arsip memiliki perbedaan baik dari sifat maupun materinya.
“Pada bahan pustaka, materi yang ditangani yakni tulisan yang dipublikasikan sedangkan arsip berupa tulisan atau foto yang pada masa lampau yang masih memiliki fungsi. Berdasarkan sifatnya, bahan pustaka bersifat umum, berbeda dengan arsip yang bersifat unik. Dalam penanganannya, arsip memerlukan penanganan khusus dalam penggunaan sedangkan bahan pustaka tidak ada penanganan khusus,” jelasnya.
Banyak arsip-arsip pada masa lampau yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia
(ANRI), baik arsip konvensional, kartografi, foto, digital, maupun film. Salah satu bentuk arsip konvensional yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yaitu arsip VOC periode 1612-1799.
“Contoh arsip periode VOC ini diberi kode inventaris K, antara lain K 1 merupakan arsip yang ada di Banten pada tahun 1674-1891. Kemudian K 19 untuk Surakarta pada tahun 1646-1890, lalu K 70 untuk Binnenlands Bestuur. Arsip keagamaan berupa arsip pengurus Gereja Protestan Hindia Belanda tahun 1844-1950 diberi kode K 90,” terangnya.
Euis juga menjelaskan sejak adanya pandemi, terdapat perubahan serta penyesuaian dalam pelayanan yang ada di ANRI. Saat ini terdapat penyesuaian saat berkunjung ke ANRI antara lain harus menjaga jarak, menggunakan masker, serta handsanitizer. Selain itu, Ia juga menjelaskan bahwa arsip di ANRI juga harus tersedia dan tertata agar dapat digunakan oleh pengguna.
“Setiap pengguna arsip pasti memiliki referensi yang berbeda, contohnya mahasiswa yang membutuhkan arsip untuk penelitian tentu berbeda dengan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang biasanya hanya inventarisasi arsip untuk tugas saja,” imbuhnya.
Euis kembali menjelaskan bahwa arsip merupakan salah satu sumber penelitian karena isinya berupa rekaman kejadian yang bersejarah pada masa lampau. Ditinjau dari segi isi, arsip dapat berisi tentang informasi pemerintahan pendidikan, transportasi dan sebagainya. Kemudian jika dilihat dari asalnya, arsip dapat berasal dari mana saja termasuk perorangan.
“Dalam meneliti arsip khususnya arsip kolonial, salah satu hal yang harus diperhatikan yakni aspek bahasa. Penguasaan bahasa Belanda menjadi keharusan karena mayoritas arsip kolonial berbahasa Belanda,” pungkasnya. Humas UNS
Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti
















