Menteri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. menghadiri Seminar Nasional HIPIIS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS pada Rabu, 23 September 2026. Acara ini mendorong penguatan ilmu sosial dan humaniora untuk menjaga kebudayaan serta merespons perkembangan kecerdasan artifisial (AI) di tengah kompleksitas masyarakat.
UNS — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., hadir di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk menghadiri Seminar Nasional Pusat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS). Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Rabu (23/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Fadli Zon menekankan pentingnya penguatan ilmu sosial dan humaniora di tengah perkembangan teknologi, globalisasi, serta dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Menurutnya, Indonesia dengan keberagaman budaya, sosial, dan hayati yang luar biasa merupakan laboratorium besar bagi pengembangan ilmu sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan.
Dr. Fadli Zon menyampaikan bahwa kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan seni, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ia juga menyoroti nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap keberagaman sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi salah satu perekat masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku, agama, ras, dan golongan. Karena itu, kemajuan ekonomi dan teknologi perlu tetap berjalan seiring dengan solidaritas sosial, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Dalam konteks kebijakan publik, Dr. Fadli Zon menegaskan pentingnya peran peneliti sosial dalam menyediakan bukti, analisis, dan data lapangan. Riset sosial dapat membantu memahami dampak kebijakan, menganalisis program pemerintah, serta memberikan masukan bagi reformasi kelembagaan. Ia merangkum tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu getting institution right, getting intervention right, dan getting coordination right (Penguatan kelembagaan yang tepat, intervensi yang tepat sasaran, serta koordinasi yang efektif).
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi ilmu sosial. Menteri Kebudayaan mendorong para akademisi dan peneliti untuk mengantisipasi perubahan tersebut serta memastikan ilmu sosial tetap relevan dalam menghadapi transformasi teknologi dan munculnya bidang-bidang baru.
Selain itu, ia mengajak para ilmuwan untuk terus menggali sejarah dan peradaban Nusantara melalui penelitian berbasis temuan ilmiah.
Ia juga mencontohkan Borobudur sebagai salah satu bukti pencapaian peradaban Nusantara yang tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga merekam kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada masanya. Masih banyak temuan di Nusantara, termasuk di sekitar Solo dan Bengawan Solo, yang menurutnya perlu terus diteliti untuk memperkaya pemahaman mengenai sejarah dan perkembangan peradaban manusia.
“Kita perlu berani melihat sejarah dan peradaban dari perspektif Indonesia. Jangan sampai kita hanya menerima narasi yang dibangun berdasarkan perspektif Barat. Kita perlu memperkuat cara pandang yang berangkat dari temuan-temuan dan kekayaan intelektual kita sendiri, atau yang dapat disebut sebagai perspektif Indonesia-sentris,” tegasnya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., QCRO., menegaskan pentingnya penguatan ilmu sosial dan kebudayaan untuk menjawab berbagai tantangan bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mendorong lahirnya cendekiawan ilmu sosial yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan pemikiran dan kontribusi nyata bagi masyarakat.




“Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Kebudayaan Republik Indonesia yang telah berkenan hadir di kampus UNS. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada para pegiat, aktivis, dan pengurus yang telah hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ujar Prof. Irwan.
Sebagai akademisi yang memiliki latar belakang ilmu sosial, Prof. Irwan menilai tema seminar mengenai penguatan peran ilmu sosial dalam membangun negara yang berkeadilan dan peradaban berbasis budaya sangat relevan dengan kondisi pendidikan tinggi saat ini.
Ia mencontohkan perkembangan di salah satu perguruan tinggi besar di Inggris yang baru-baru ini mengumumkan rencana penutupan terhadap sejumlah program studi, dengan sebagian besar program studi tersebut berada dalam rumpun ilmu sosial. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi tantangan sekaligus momentum bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk merefleksikan kembali posisi dan kontribusi ilmu sosial.
“Ini menjadi tantangan besar bagi kita. Karena itu, tema kita hari ini sangat relevan, yaitu bagaimana agar ilmu-ilmu sosial kembali berperan dalam membangun negara yang berkeadilan dan peradaban berbasis budaya,” jelasnya.
Prof. Irwan juga menyoroti pentingnya keberadaan cendekiawan ilmu sosial di tengah kompleksitas persoalan masyarakat. Ia menyebut Indonesia memiliki tradisi panjang dalam melahirkan pemikir dan cendekiawan ilmu sosial, seperti Prof. Selo Soemardjan. Namun, menurutnya, tantangan saat ini membutuhkan lebih banyak cendekiawan yang mampu memberikan pemikiran kritis dan berkontribusi langsung terhadap persoalan bangsa.
Lebih lanjut, Prof. Irwan mengapresiasi gagasan yang disampaikan para narasumber, yang dinilai memberikan perspektif penting mengenai tantangan dan masa depan ilmu sosial serta kebudayaan.
Ia berharap seminar nasional tersebut dapat menjadi ruang produktif untuk mempertemukan berbagai gagasan dari akademisi, pemerintah, pegiat kebudayaan, dan masyarakat. Forum tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran yang jernih dan konstruktif bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus kemajuan Indonesia.
“Semoga Seminar Nasional ini menjadi forum yang produktif untuk melahirkan gagasan-gagasan yang jernih, konstruktif, dan relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Gagasan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia,” pungkas Prof. Irwan.
Dalam Seminar Nasional tersebut, turut hadir sejumlah narasumber yang membahas tema “Peranan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Membangun Negara yang Berkeadilan dan Berkeadaban Berbasis Budaya.” Para narasumber tersebut yaitu Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Penasihat Presiden; Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES); Prof. Dr. Falih Suaedi, Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR); serta Lukman Hakim, Ph.D., Akademisi UNS. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa yang hadir sebagai pembicara utama dalam Seminar Nasional HIPIIS di UNS?
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., hadir sebagai pembicara utama dalam seminar tersebut. Lihat di artikel
Kapan Seminar Nasional HIPIIS di UNS diselenggarakan?
Seminar Nasional HIPIIS tersebut diselenggarakan pada Rabu, 23 September 2026. Lihat di artikel
Apa saja tiga hal penting yang ditekankan oleh Menteri Kebudayaan terkait kebijakan publik?
Tiga hal penting yang ditekankan adalah penguatan kelembagaan yang tepat, intervensi yang tepat sasaran, serta koordinasi yang efektif. Lihat di artikel



















