Indreswari Suroso berhasil lulus program doktor dalam waktu 2,5 tahun di Universitas Sebelas Maret dengan menciptakan inovasi brake lining pesawat berbasis material lokal. Penelitian ini menghasilkan terobosan baru dalam pengembangan komponen dirgantara menggunakan sumber daya dalam negeri.
UNS – Prestasi membanggakan ditorehkan lulusan Program Studi Doktor Ilmu Teknik Mesin (PSDTM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Indreswari Suroso. Ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dengan predikat cum laude setelah menyelesaikan studi doktoral dalam tempo 2 tahun 6 bulan. Capaian ini mengantarkannya dinobatkan sebagai Wisudawan Tercepat Program Doktor pada Wisuda Periode IX Tahun 2026 di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Surakarta, Sabtu (31/10/2026).
Tidak sekadar cemerlang di ranah akademik, riset disertasi Dr. Indreswari menghasilkan terobosan krusial berupa pengembangan kampas rem pesawat (brake lining) berbahan Metal Matrix Composite (MMC) Cu–Fe–Si–Mn–Ni. Inovasi material lokal ini dirancang untuk menekan ketergantungan industri dirgantara nasional terhadap produk impor luar negeri.
Penelitian tersebut dipertahankan dalam sidang promosi doktor bertajuk “Pengembangan dan Karakterisasi Brake Lining Berbahan Metal Matrix Composite Cu–Fe–Si–Mn–Ni” di Ruang Multimedia FT UNS pada 24 Juli 2026.
Dr. Indreswari menjelaskan, riset ini berangkat dari ketergantungan maskapai perintis Indonesia terhadap pasokan suku cadang impor dari Amerika Serikat, khususnya pada armada Cessna Caravan Tipe 208B. Sistem pengereman pesawat jenis ini menggunakan 11 pasang brake lining yang wajib diganti secara berkala setiap 100 jam terbang atau sekitar dua pekan sekali. Akibatnya, ketergantungan impor kerap memicu biaya operasional tinggi dan waktu tunggu pengiriman yang panjang.
Menjawab persoalan tersebut, Dr. Indreswari memformulasi material rem berbasis serbuk logam lokal melalui metode metalurgi serbuk. Komposisi ini melalui serangkaian pengujian terukur, meliputi karakterisasi struktur mikro, densitas, porositas, kekerasan mekanik, laju keausan, hingga koefisien gesek.
Hasil laboratorium membuktikan bahwa material MMC hasil sintesis lokal ini memiliki karakteristik mekanik dan tribologi yang sebanding dengan produk komersial pabrikan, bahkan mencatatkan laju keausan yang lebih rendah. Selain memiliki ketahanan aus yang lebih unggul, material ini berbobot lebih ringan, minim limbah fabrikasi, berumur pakai lebih panjang, serta berbiaya produksi lebih efisien.
Riset ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Triyono, S.T., M.T. selaku ketua promotor, bersama tim ko-promotor Prof. Dr. Ir. Eko Surojo, S.T., M.T. dan Prof. Dr. Ir. Heru Sukanto, S.T., M.T. Dari riset ini, Dr. Indreswari telah menerbitkan artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q1, Results in Engineering, serta prosiding internasional IOP Publishing.
Kendati demikian, Dr. Indreswari menggarisbawahi bahwa inovasi ini masih berada pada taraf prototipe laboratorium. “Material ini sangat berpotensi diproduksi massal di dalam negeri, namun implementasinya di industri dirgantara masih menuntut tahapan pengujian lanjutan dan sertifikasi kelayakan terbang sesuai standar Federal Aviation Administration (FAA),” terangnya.
Perjalanan studinya juga diwarnai tantangan manajerial. Sebagai dosen tetap Program Studi Rekayasa Mesin Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta, ia harus membagi fokus antara tugas pengajaran, penelitian, keluarga, dan studi doktoral secara disiplin di bawah bimbingan para promotor. Tantangan teknis seperti kerusakan mesin pemanas sintering gas argon yang memakan waktu tunggu perbaikan selama tiga bulan justru dimanfaatkannya untuk mematangkan artikel ilmiah dan konferensi.
Ke depan, Dr. Indreswari berencana melanjutkan pengembangan prototipe bersama kelompok riset sistem pengereman serta mengajukan skema pendanaan hilirisasi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Pesan saya untuk rekan-rekan peneliti dan mahasiswa, jangan pernah berputus asa saat eksperimen menemui kendala. Kita harus tetap optimistis dan terus menguji hingga memperoleh parameter hasil yang paling optimum,” pesannya.
Inovasi ini menjadi wujud kontribusi nyata UNS dalam memperkuat kemandirian teknologi manufaktur dirgantara berbasis material dalam negeri, sekaligus selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa lama Indreswari Suroso menyelesaikan studi doktornya?
Indreswari Suroso menyelesaikan studi doktornya dalam waktu 2,5 tahun.
Apa inovasi yang diciptakan oleh Indreswari Suroso?
Ia menciptakan inovasi brake lining pesawat yang dikembangkan menggunakan material lokal.


















