Universitas Sebelas Maret mengenalkan inovasi Alat Pelindung Diri (APD) dan alat filtrasi udara portabel untuk wilayah terdampak kebakaran guna melindungi kesehatan masyarakat dan petugas di lokasi bencana.
UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memperkenalkan inovasi Alat Pelindung Diri (APD) dan alat filtrasi udara portabel (portable air filter) untuk membantu petugas penanggulangan dan warga di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perangkat inovatif ini memadukan proteksi mata, filtrasi udara, serta sistem sirkulasi terpadu dengan memanfaatkan modifikasi teknologi tepat guna berbahan ramah lingkungan dan terjangkau.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler Fakultas Kedokteran (FK) UNS, Dr. Darmawan Ismail, dr., Sp.BTKV, bersama tim periset lintas disiplin. Konsep perancangan alat ini terinspirasi dari mekanisme proteksi alami sistem pernapasan manusia dan hewan dalam menyaring partikel berbahaya.
Perangkat APD dirancang khusus dengan fokus melindungi dua area organ paling rentan terpapar kabut asap pekat, yakni mata dan saluran pernapasan.
“Untuk melindungi mata, APD dilengkapi face shield. Sementara itu, proteksi saluran pernapasan didukung sistem filtrasi bertingkat yang dirancang untuk menangkap partikulat mikro yang melayang di udara,” terang Darmawan di sela pelepasan tim relawan di Halaman Gedung dr. Prakosa Kantor Pusat UNS, Surakarta, Selasa (27/10/2026).
Pada sistem penyaring, tim memanfaatkan spons berstruktur anyam khusus agar aliran udara tidak bergerak lurus melintasi pori-pori, melainkan berbelok sehingga probabilitas partikel terperangkap menjadi jauh lebih tinggi. Tim periset juga memadukan gel berbahan dasar deterjen guna memanfaatkan prinsip adhesi dan kohesi fisik dalam menjerat partikel debu halus.
Agar sirkulasi udara di dalam masker tetap segar, perangkat dilengkapi kipas mikro bertenaga baterai yang berfungsi mendorong udara bersih masuk dan membuang udara ekshalasi secara dinamis. Prinsip teknologi ini awalnya dikembangkan saat masa pandemi COVID-19, lalu dimodifikasi secara spesifik untuk menjawab kebutuhan fisik petugas pemadam, aparat kepolisian, serta relawan lapangan yang berjibaku memadamkan titik api karhutla.


Selain unit APD terintegrasi, tim FK UNS juga merancang alat filtrasi udara portabel mandiri yang memanfaatkan material sederhana sehari-hari, seperti botol plastik bekas, spons, kasa medis, filter AC, selang elastis, dan masker.
Alat tersebut terdiri atas tiga modul utama: kolektor udara, selang konduksi, dan masker. Udara kotor disaring melalui media pembersih sebelum dialirkan ke hidung pengguna. Sistem ini dilengkapi katup satu arah (one-way valve) guna mencegah udara buangan kembali ke tabung filtrasi. Tabung juga dapat diberi kompartemen es pendingin agar pasokan udara yang dihirup terasa lebih sejuk di tengah paparan hawa panas kebakaran.
Rancangan ini sengaja berbasis teknologi tepat guna agar perakitannya mudah direplikasi oleh masyarakat lokal dalam waktu kurang dari 30 menit. Tim UNS menargetkan distribusi dan perakitan sekitar 100 unit filtrasi udara di setiap wilayah sasaran, didukung dengan penyelenggaraan lokakarya perakitan langsung bagi masyarakat dan sukarelawan setempat.
Melalui program hilirisasi riset ini, UNS menegaskan komitmen tridarma perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi ilmiah aplikatif yang menjawab kebutuhan riil masyarakat di garis terdepan penanganan bencana lingkungan. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa inovasi yang dikenalkan oleh UNS untuk wilayah terdampak kebakaran?
UNS mengenalkan inovasi berupa Alat Pelindung Diri (APD) dan alat filtrasi udara portabel.
Siapa yang mengenalkan inovasi APD dan alat filtrasi udara portabel?
Inovasi tersebut dikenalkan oleh pihak Universitas Sebelas Maret (UNS).



















