Wedangan IKA UNS Seri 109 Bahas Fenomena Stem Cell

Wedangan IKA UNS Seri 109 Bahas Fenomena Stem Cell

UNS — Fenomena stem cell atau sel punca belakangan ini ramai diperbincangkan khususnya dalam dunia kedokteran. Hal ini karena stem cell berperan penting dalam tubuh manusia untuk mengganti sel-sel dalam tubuh yang mengalami kerusakan dengan diganti menjadi sel-sel yang baru. Selain itu, stem cell juga menjanjikan harapan kesembuhan total bagi penderita penyakit degeneratif seperti stroke, Alzheimer, diabetes mellitus, Parkinson, maupun gagal jantung.

Menanggapi fenomena yang tengah hangat di masyarakat ini, Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta seri 109 mengangkat tema Stem Cell: Untuk Indonesia Sehat. Adapun acara ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung via YouTube Universitas Sebelas Maret, Jumat (15/7/2022).

Mewakili Ketua IKA UNS, Ketua Bincang Aksi dan Advokasi Kesehatan IKA UNS sekaligus Wakil Direktur Rumah Sakit (RS) UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K)., Ph.D., FISQua mengatakan bahwa dua alumni UNS yang dihadirkan pada acara ini akan memberikan pencerahan tentang stem cell.

“Dengan demikian kita bisa mendapatkan informasi yang tepat mengenai stem cell dan dapat mengambil keputusan yang rasional terkait stem cell. Semoga melalui kegiatan Wedangan IKA UNS ini dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat akan fenomena stem cell,” kata dr. Tonang.

dr. Tonang melanjutkan bahwa kegiatan Wedangan IKA UNS seri 109 ini juga sebagai sumbangsih untuk Indonesia dari para alumni UNS khususnya dalam bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan bangsa.

Ketua Dewan Pakar IKA UNS sekaligus Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung Republik Indonesia (RI), Dr. Amir Yanto, S.H., M.M., M.H., mengucapkan ini adalah acara dewan pakar untuk yang pertama kalinya.

“Dengan menghadirkan narasumber dua alumni UNS yang ahli tentang stem cell ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman utuh terkait topik tersebut. Semoga acara Wedangan IKA UNS ini dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Dr. Amir Yanto.

Wedangan IKA UNS Seri 109 Bahas Fenomena Stem Cell

Narasumber pertama Prof. Dr. dr. Ferdiansyah Mahyudin, Sp.OT (K) memaparkan materi tentang Mengenal Stem Cell (Sel Punca): Sumber, Jenis, Terapi & Metabolitnya. Prof. Ferdiansyah mengatakan bahwa secara definisi stem cell atau sel punca merupakan sel spasial ditubuh manusia yang dapat memperbanyak dirinya sendiri dan juga dapat menjadi berbagai jenis sel seperti sel otak, ginjal, jantung, dan tulang.

“Sementara stem cell memiliki 3 mekanisme kerja setelah diberikan kepada penderita yang membutuhkan. Pertama memiliki kemampuan berubah menjadi sel pada target yang dituju. Kedua memproduksi berbagai jenis protein untuk memfasilitasi penyembuhan pada berbagai penyakit. Ketiga melakukan modifikasi sistem kekebalan tubuh,” jelas Prof. Ferdiansyah.

Wedangan IKA UNS Seri 109 Bahas Fenomena Stem Cell

Prof. Ferdiansyah menambahkan banyak klinik yang telah menawarkan terapi sel punca namun sayangnya tidak didukung oleh ilmu pengetahuan saat ini. Maka dari itu, sebelum melakukan terapi sel punca harus mencari terapi sel punca yang terbukti aman dan efektif, berhati-hati pula terhadap penawaran terapi sel punca tanpa adanya perizinan dan registrasi dari regulator, mengecek dokter yang mengerjakan terapi sel punca harus sesuai dengan bidang ilmunya.

Kemudian narasumber kedua Divisi Reumatologi, Fakultas Kedokteran (FK) UNS, Dr. dr. Arief Nurudhin, Sp.PD, KR, FINASIM menyampaikan tentang Stem Cell dan Metabolitnya: Harapan Terapi Masa Depan.

Sebagaimana yang diungkapkannya fenomena stem cell karena kemunculan Dolly the Sheep tahun 1997 yang menyebabkan peneliti di seluruh dunia mulai berspekulasi bahwa stem cell dapat digunakan untuk membuat jaringan manusia. Kemudian penelitian mengenai stem cell di dunia terus berkembang sampai dengan produk metabolitnya hingga saat ini.

Dr. Arief menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri, stem cell juga sudah mendapat perhatian. Hadirnya Pandemi Covid-19 juga dimanfaatkan pada peneliti dan klinisi untuk mengkaji terkait stem cell dan metabolitnya sebagai terapi.

“Terapi Mesenchymal Stem cell (MSC) dan Exosome menjadi salah satu alternatif dalam upaya treatment penanganan dan penanggulangan pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil pengujian, pasien Covid-19 dengan kategori infeksi berat dan kritis yang mendapatkan terapi MSC tersebut 2,5 kali survive dibanding pasien yang tidak diterapi MSC,” tutur Dr. Arief.

Wedangan IKA UNS Seri 109 Bahas Fenomena Stem Cell

Sebagaimana yang diungkapkannya, telah dilakukan uji klinis multicenter stem cell untuk mengobati pasien Covid-19, mengakibatkan meningkatnya minat dan perhatian pada terapi stem cell. Seiring dengan terus berjalannya penelitian stem cell di Indonesia, pemerintah juga telah membuat regulasi khusus mengenai stem cell.

“Adapun untuk regulasi sel punca di Indonesia telah diatur melalui Permenkes No 833/2009 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca, Permenkes No 604/2010 Tentang Komnas Sel Punca di Kemkes untuk memberikan saran dalam kebijakan atau penyusunan pedoman kepada Menkes, serta Permenkes No 32/2018 Tentang Pelayanan Kesehatan untuk Terapi Punca atau Terapi Sel,” tutup Dr. Arief. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti