UNS— Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. baru saja memperoleh gelar Guru Besar pada 18 Desember 2024 kemarin. Prof. Rohmadi yang merupakan Dosen pada Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dikukuhkan menjadi Guru Besar oleh Rektor UNS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram.
”Dengan kekuatan cinta, kasih sayang, semangat, dan rasa syukur pada Allah SWT yang telah mengantarkan saya untuk berkarier, berkarya, dan akhirnya diberikan amanah untuk meraih jabatan akademik Guru Besar/Profesor pada Prodi PBSI FKIP,” terang Prof. Rohmadi.
Prof. Rohmadi menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dalam ranting ilmu/ kepakaran Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik dengan judul pidato pengukuhan ”Strategi Tutur Pragmatik sebagai Mitigasi Berkomunikasi dan Berliterasi dengan Ratulisa yang Kurang Baik & Santun dalam Multikonteks Kehidupan.”
Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari maksud ujaran yang tersirat dibalik ujaran/tuturan seorang penutur yang melibatkan konteks dalam kehidupan sehari-hari. Belajar pragmatik berarti belajar memahami maksud dan tujuan tuturan penutur kepada lawan tutur dengan memerhatikan konteks yang dilibatkan dalam tuturan tersebut. Oleh karena itu, dengan memahami pragmatik dan pembelajaran pragmatik akan dapat meminimalisir kesalahapahaman dalam berkomunikasi seorang penutur dengan lawan tutur dalam situasi formal dan nonformal era digital.
“Dengan demikian, belajar pragmatik dapat menjadi mitigasi ujaran kebencian era digital dalam multikonteks kehidupan dengan kebhinekaan media sosial yang beragam. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan tujuan penutur kepada lawan tutur dengan pemahaman konteks yang dibangun berdasarkan konteks tuturan dan pengalaman bersama antara penutur dengan lawan tutur akan tepat sesuai dengan tujuan tuturan yang diinginkan,” terang Prof. Rohmadi.

Belajar pragmatik itu mudah dan menyenangkan dalam multikonteks kehidupan. Belajar pragmatik merupakan lanjutan belajar linguistik secara umum. Apabila dilihat dalam perspektif linguistik struktural, dapat dipelajari fonologi, morfologi, sintaksis, wacana struktural & gramatikal, dan semantik. Sementara itu, dalam perspektif linguistik fungsional dapat dipelajari pragmatik, psikopragmatik, sosiopragmatik, sosiolinguistik, siberpragmatik, psikolinguistik, neurolinguistikk, geografi diaelek, etnolinguistik dan lain-lain. Belajar pragmatik merupakan proses mengenali kehidupan dan mengimplementasikan pragmatik dan pembelajaran pragmatik dalam kehidupan sehari-hari dengan multikonteks kehidupan.
“Belajar pragmatik itu sangat menyenangkan karena belajar mengenai penutur, lawan tutur, konteks tuturan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, deiksis, dan pembelajaran pragmatik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami teks, koteks, dan konteks dalam kehidupan maka dapat dipahami maksud tuturan seorang penutur, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan multikonteks kehidupan,” imbuhnya.
Dengan demikian, belajar pragmatik dan pembelajaran pragmatik dapat menjadi mitigasi ujaran kebencian era digital dengan multikonteks kehidupan yang beragam dengan media sosial saat ini. “Semoga kita semua dapat menjadi teladan bagi multigenerasi NKRI dengan bertutur yang benar, baik, santun dalam situasi formal dan nonformal dengan multikonteks kehidupan,” pungkas Prof. Rohmadi. HUMAS UNS



















