UNS— Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Hery Sawiji, M.Pd. baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar pada akhir 2024 kemarin. Prof. Hery merupakan Guru Besar ke-86 pada FKIP dan ke-317 di UNS. Beliau dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang ilmu Kepakaran Manajemen Pendidikan Kejuruan. Pidato inaugurasi yang disampaikan saat pengukuhan Guru Besar berjudul “Peran Manajemen Pendidikan Vokasi di Era Abad 21”.
Prof. Hery menyampaikan, bahwa pendidikan vokasi di Indonesia memiliki peran strategis dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten dan adaptif menghadapi perubahan teknologi serta tuntutan global yang dinamis. Tidak hanya mencetak lulusan dengan keterampilan teknis, pendidikan vokasi juga perlu membangun kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan mampu menghadapi kompleksitas dunia kerja modern. Manajemen pendidikan vokasi yang strategis adalah kunci keberhasilan dalam menjawab tantangan tersebut. Manajemen yang baik tidak hanya mengoptimalkan sumber daya, tetapi juga menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. Pendidikan vokasi yang terkelola dengan efektif mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan pasar kerja, menjadikannya kompetitif di tingkat global.
Di era Revolusi Industri 4.0, manajemen pendidikan vokasi harus responsif terhadap perubahan teknologi. Pendekatan kolaboratif yang digarisbawahi UNESCO (2019) menunjukkan bahwa keterampilan non-teknis, seperti berpikir kritis dan kolaborasi, sangat penting di tempat kerja modern. Organisation for Economic Co-operation and Development (2021) juga menyoroti bahwa kemampuan beradaptasi dengan tren global, termasuk teknologi hijau, dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Salah satu tantangan besar pendidikan vokasi adalah memastikan teknologi tidak hanya diadopsi, tetapi dimanfaatkan secara optimal. “Penelitian kami yang melibatkan 220 guru dari lima provinsi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa tiga faktor utama, yaitu motivasi, kepercayaan diri dalam penggunaan teknologi (Internet self-efficacy), dan kecemasan terhadap teknologi, memengaruhi niat guru dalam menggunakan platform e-learning,” terang Prof. Hery.
Hasil penelitian memberikan beberapa rekomendasi untuk mendukung transformasi digital di SMK. Pertama, meningkatkan motivasi guru melalui insentif dan penghargaan. Kedua, memperkuat kepercayaan diri guru melalui pelatihan berkelanjutan. Ketiga, menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi teknologi tanpa rasa takut gagal. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis guru tetapi juga memperkuat relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri modern.
Transformasi teknologi di pendidikan vokasi tidak akan efektif tanpa adanya dukungan budaya sekolah yang adaptif dan inovatif. Penelitian kami yang melibatkan 170 guru di Eks Karesidenan Surakarta menunjukkan bahwa enam dimensi budaya sekolah, yaitu orientasi tujuan, kepemimpinan, partisipasi pengambilan keputusan, orientasi inovasi, hubungan formal, dan visi bersama, memainkan peran signifikan dalam memengaruhi persepsi guru terhadap kemudahan dan manfaat teknologi.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah terbukti mampu menciptakan lingkungan inovatif yang mendukung guru dalam mengadopsi teknologi. Selain itu, visi bersama yang dibangun secara kolektif memperkuat komitmen terhadap integrasi teknologi dalam pembelajaran. Dengan pendekatan ini, institusi pendidikan vokasi dapat mencetak lulusan yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja global.
Keberhasilan pendidikan vokasi membutuhkan sinergi antara manajemen sekolah, guru, siswa, industri, dan pemerintah. Manajemen yang efektif harus menciptakan iklim kerja yang mendukung inovasi dan kolaborasi, memastikan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri, serta mengembangkan kemitraan strategis untuk mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan era digital.
Melalui pendekatan manajemen yang adaptif, fleksibel, dan responsif, pendidikan vokasi di Indonesia dapat menjadi motor penggerak daya saing bangsa. “Komitmen bersama untuk membangun budaya sekolah yang inovatif dan kolaboratif akan memastikan pendidikan vokasi tidak hanya relevan dengan kebutuhan zaman tetapi juga mampu mencetak generasi muda yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global”, pungkasnya. HUMAS UNS


















