Fatisda UNS Miliki Guru Besar Kedua, dengan Kepakaran Ilmu Biomedical Computation

Fatisda UNS Miliki Guru Besar Kedua, dengan Kepakaran Ilmu Biomedical Computation

UNSFakultas Teknologi dan Sains Data (Fatisda) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambah guru besar baru. Beliau bernama Prof. Dr. Wiharto, S.T., M.Kom. Biomedical Computation merupakan kepakaran ilmu ketika dikukuhkan. Capaian ini menjadikan Beliau sebagai guru besar kedua di Fatisda UNS.

Prof. Wiharto dikukuhkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., dalam sebuah Sidang Terbuka Senat Akademik, Jumat (20/12/2024). Prosesi tersebut berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Pidato pengukuhan yang Prof. Wiharto angkat bertajuk “Komputasi data Biomedis Berbasis Explainable Artificial Intelligence”.

Guru Besar ke-329 UNS ini menilai bahwa data biomedis sangat penting dalam bidang kesehatan. Data biomedis dapat memberikan informasi yang mendalam tentang kondisi kesehatan individu dan populasi, membantu dalam pengembangan pengobatan yang lebih tepat, dan mendukung pencegahan penyakit secara efektif. Beberapa contohnya, yakni hasil tes laboratorium, pencitraan medis, dan sinyal medis. Penggunaan data tersebut untuk mengidentifikasi penyakit di tahap awal, sehingga dapat berdampak pada pengobatan yang lebih cepat dan efektif.

Beliau menggunakan bidang baru dalam AI yang dikenal dengan Explainable Artificial Intelligence (XAI). Langkah ini menjadi sebuah terobosan atas Machine Learning (ML) & Deep Learning (DL) yang digunakan dalam pengembangan model deteksi dini penyakit dan juga pengenalan objek pada data biomedis. XAI mempunyai sejumlah teknik, diantaranya Shapley Additive exPlanations (SHAP) dan Gradient-weighted Class Activation Mapping (grad-CAM). Teknik SHAP digunakan untuk menjelaskan kontribusi setiap feature input terhadap output prediksi. Sedangkan grad-CAM digunakan untuk menunjukkan attention map pada area gambar yang berkontribusi paling besar terhadap prediksi model.

“Pengembangan model berbasis XAI yang sudah dilakukan diantaranya model intelligence system untuk prediksi penyakit jantung koroner, dengan mengacu dari sejumlah pemeriksaan klinis dan fisiologis. Pengembangan model ini berguna dalam melakukan feature selection terhadap feature-feature yang digunakan untuk memprediksi PJK,” terang Prof. Wiharto.

Penggunaan feature selection yang minimalis cukup untuk menjadikan model dalam mendeteksi PJK. Selain itu, penggunaan teknik SHAP mampu menjadikan model sistem kecerdasan mampu memberikan penjelasan terhadap hasil keputusan model. Hasil-hasil yang ditunjukkan menjadi bukti bahwa terobosan ini memberikan kinerja terbaiknya.

Teknik XAI juga dapat digunakan dalam pengembangan model deteksi penyakit pneumonia dan juga Covid-19. Pendeteksian menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN) berbasis data biomedis x-ray dan MRI dada. Sejumlah langkah dilakukan dengan menggunakan grad-CAM, yaitu menunjukkan bagian citra x-ray dan MRI yang menjadi penyebab disimpulkan sakit pneumonia dan juga Covid-19.

Prof. Wiharto menambahkan bahwa grad-CAM juga dapat diintegrasikan dalam model segmentasi citra, seperti citra lesi kulit dan polyp. Model yang sudah dikembangkan adalah Efficient Comprehensive Attention Network (ECA-Net). Sedangkan untuk segmentasi citra polyp telah dikembangkan model double U-Net menggunakan Depthwise Separable Convolution (DSC) dan Convolutional Block Attention Module (CBAM).

“Integrasi XAI pada model klasifikasi baik citra dan non-citra, serta segmentasi citra berbasis ML dan DL menjadikan proses yang dilakukan dalam model dapat dijelaskan setiap tahapannya, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan user terhadap model,” tuturnya.

Apa yang dilakukan Prof. Wiharto memiliki masa depan yang baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Prof. Hartono dalam sambutannya turut menyampaikan bahwa UNS terus berkomitmen untuk menjadi universitas yang unggul dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Kita menjadi semakin optimis bahwa kedepan prestasi UNS akan semakin meningkat, baik di tingkat nasional maupun internasional, baik di tingkat lokal maupun global. Dan kami berharap tentunya UNS akan lebih berkontribusi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan baik itu di masyarakat, bangsa dan negara,” imbuhnya.
Humas UNS

Redaktur: Dwi Hastuti