UNS— Prof. Dr. Ir. Widyatmani Sih Dewi, M. P. dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Biologi Tanah, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Desember 2024 kemarin. Dalam pengukuhan Guru Besar yang dilaksanakan di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Prof. Widyatmani membawakan pidato inaugurasi yang berjudul “Cacing Tanah: Pahlawan Tersembunyi bagi Keberlanjutan Pertanian di Tengah Kompleksitas Tantangan Global”.
Prof. Widyatmani menyampaikan bahwa pertanian sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Populasi penduduk Indonesia saat ini sekitar 284,5 juta jiwa yang kebutuhan pangannya bergantung pada pertanian. Produksi pangan dunia sangat bergantung pada tanah. Tanah telah menyediakan sekitar 95-98,8% pangan dunia. Tanah memegang peran penting dalam menghasilkan pangan yang sehat. Kesehatan manusia bergantung pada tanah yang sehat, yaitu tanah yang memiliki kapasitas untuk berfungsi sebagai sistem kehidupan yang vital untuk mempertahankan produktivitas biologis, menjaga kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan tanaman, hewan, dan manusia.
Pangan yang sehat dihasilkan dari tanah yang sehat, namun sekitar 33% tanah dunia telah terdegradasi, bahkan FAO mengingatkan bahwa pada 2050, 90% lapisan tanah atas bumi akan terancam keberlanjutan fungsinya. Tantangan serius lainnya adalah terjadinya perubahan iklim karena meningkatnya suhu global, yang mengakibatkan multi dampak, seperti kekeringan, meningkatnya salinitas, banjir, hama dan penyakit baru, dan penurunan biodiversitas tanah sehingga menjadi ancaman bagi ketahanan pangan.
Tanah merupakan sumber daya alam yang rapuh. Tanah yang telah terdegradasi sulit diperbarui dan rentan terhadap berbagai cekaman. Keprihatinan dan kepedulian terhadap keberlanjutan fungsi tanah ini, FAO mencanangkan pada setiap 5 Desember sebagai Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) yang menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat dalam pengelolaan tanah berkelanjutan untuk ketahanan pangan. “Untuk itu, menjaga berkelanjutan kesehatan tanah harus menjadi prioritas kebijakan,” terang Guru Besar ke-48 pada FP tersebut.

Cacing tanah sering dipandang sebagai hewan tanah yang menjijikan dan keberadaannya diabaikan namun sebetulnya sebagai pahlawan tersembunyi bagi kita. Mari mengenal cacing tanah. Cacing tanah merupakan hewan tanah yang kasat mata, hemaprodit, makan sisa organik dan suka tanah lembab. Dikenal 3 kategori ekologi cacing yaitu epigeik sebagai pengurai seresah di permukaan tanah, anesik merupakan cacing yang naik turun dari dan ke dalam tanah sehingga membentuk porositas vertikal tanah, dan endogeik yaitu cacing yang tetap tinggal dalam tanah dan membentuk pori horizontal. Dengan demikian berdasarkan fungsinya, cacing dapat dikelompokkan menjadi penghuni serasah, penggali tanah, penggali terowongan yang intesif, pembalik tanah (bioturbator).
Mereka mencegah dan memperbaiki degradasi tanah dengan memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikrobiota dengan cara menggali tanah dan mencari makan. Aktivitas ini meningkatkan fungsi hidrologi tanah dengan menciptakan porositas, aerasi, dan infiltrasi air serta memperbaiki kesuburan tanah dengan memfasilitasi siklus nutrisi. Cacing tanah juga memitigasi perubahan iklim dengan membantu menyerap karbon tanah dalam kotorannya dan mengontrol emisi gas rumah kaca. Cacing sebagai pengurai limbah organik dan agen bioremidasi tanah tercemar. Cacing tanah juga terbukti sebagai bioindikator kesehatan tanah yang mencerminkan kondisi tanah secara keseluruhan. Selain itu cacing tanah juga dapat sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat melalui praktik budidaya cacing tanah (vermikultur) dan pengomposan limbah organik (vermikomposting) yang menghasilkan biomasa cacing tanah vermikompos yang berkualitas tinggi sehingga bisa dijual.
Cacing tanah mendukung keberlanjutan pertanian dan kesehatan tanah. Praktik budidaya yang ramah cacing tanah perlu ditingkatkan untuk keberlanjutan produksi pangan. Oleh karena itu, mengintegrasikan praktik ramah cacing tanah dalam sistem pertanian adalah jalan menuju keberlanjutan. Berbagai praktik pertanian yang ramah cacing tanah antara lain mengolah tanah minimum, menambah pupuk organik, menanam tanaman penutup tanah, mengurangi pestisida dan pupuk kimia, dan inokulasi cacing tanah.
Kepakaran beliau mendukung tercapainya SDGs ke 15 Ekosistem Daratan. HUMAS UNS



















