Mahasiswa UNS Borong Medali Emas di Ajang Kompetisi Inovator Internasional

UNS – Dua tim mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil membawa pulang medali emas dan penghargaan dari Japan Design and Invention Expo (JDIE) yang berlangsung pada 2-6 Agustus 2018 di Tokyo Big Sight International Exhibition Centre, Jepang.

JDIE merupakan ajang kompetisi dan pameran kreativitas invensi tahunan bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Association (WIIPA). Event ini menampilkan ratusan karya invensi/penemuan inventor dari berbagai negara di dunia. Selain Indonesia, 4 negara lain, termasuk Malaysia, Polandia, China, Taiwan dan Kanada, juga turut mengambil bagian dalam kompetisi kali ini.

Arifah Eviyanti, salah satu perwakilan tim, mengatakan ajang ini tidak hanya melombakan satu bidang inovasi. Tapi banyak bidang seperti kesehatan, teknologi dan agrikultur dan sebagainya. Inovasi yang dilombakan mulai dari berupa produk hingga aplikasinya. “Kami dari UNS memenangkan inovasi di bidang agrikultur dan teknologi,” kata dia.

Dengan membawa produk Chilica, Arifah Eviyanti (D3 Agribisnis Hortikultura), Sani Kamil Baldan (S1 Ilmu Tanah), Yeni Wulandari (D3 Hiperkes) dan Mediana Haliza Shafira (D3 Hiperkes) sukses meraih medali emas untuk kategori Agrikultur.

Keempat mahasiswa tersebut memperkenalkan gel fungisida nabati dari ekstrak akar putri malu sebagai pengendali penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Arifa menerangkan, keunggulan produk mereka adalah mudah diaplikasikan, ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi konsumen karena terbuat dari bahan alami. Selain itu, harganya juga sangat terjangkau bagi petani. Satu botol yang berisi 1000 ml dijual seharga Rp 20 ribu.

“Dalam kompetisi tersebut, kami mempresentasikan sampai konsep pemasarannya. Kami tunjukkan bahwa sudah ada petani dari Semarang yang tertarik dengan produk kami. Dengan dikenalkan produk ini, diharapkan dapat mendorong petani beralih dari kimia ke nabati. Karena selama ini banyak petani masih menggunakan fungisida kimia yang berbahaya,” ungkapnya.

Medali emas lainnya didapat oleh Miftahuddin Irfani (Teknik Elektro), Atina Rahmawati (Pendidikan Fisika) dan Muhammad Shalahuddin Al-Ja’farawy (Fisika) dalam kategori Teknologi. Ketiga mahasiswa itu membuat alat penerangan jalan umum berbasis panel surya. Keunggulan produk ini adalah dilengkapi solar tracker yang berfungsi agar panel surya dapat bergerak sesuai dengan arah datangnya matahari. Selain itu, ditambahkan juga thermoelektrik untuk memaksimalkan transfer energi pada panel.

“Kami tidak pernah menyangka karya kami akan menang karena banyak inovasi yang diikutkan dalam kompetisi tersebut,” kata Miftah. Tahun ini, setidaknya ada sekitar 48 tim dari 7 negara yang berpartisipasi.

Mengingat ketatnya persaingan, Arifah mengaku sangat bersyukur bisa membawa pulang medali dari kompetisi tingkat internasional. Ini merupakan prestasi internasional pertama bagi kesembilan mahasiswa tersebut.

“Penghargaan ini membuat kami menjadi lebih percaya diri. Meski penuh keterbatasan, kami bisa memenangkan medali emas di ajang internasional,” ujar mahasiswa penerima Bidik Misi ini.

Usai sukses menorehkan prestasi gemilang, kedua tim inovator muda ini pun berencana untuk mengembangkan kualitas produk mereka. Untuk itu, mereka berharap bisa mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Humas UNS

By | 2018-09-06T11:52:17+00:00 06 September 2018|Categories: Mahasiswa UNS|