UNS – Sekelompok mahasiswa Program D3 Manajemen Perdagangan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menunjukkan kreativitasnya lewat inisiatif pengurangan limbah organik. Bersama mitra industri lokal, mereka berhasil menyulap kulit pisang yang selama ini berakhir di tempat pembuangan menjadi snack inovatif yang ramah lingkungan dan bernilai jual tinggi. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari Eva Yuniarti Utami S.PT., M.B.A. sebagai dosen pendamping.
Selama satu bulan pertama dimulai sejak soft‑launch Maret 2025, tim mahasiswa melakukan serangkaian trial and error untuk menyempurnakan resep, teknik pengolahan, dan kemasan. Semua tahapan uji coba tersebut berlangsung di Kios Limpis Sukoharjo Mojolaban, tempat mahasiswa mengevaluasi langsung respons konsumen.
Setiap tahunnya, ribuan ton kulit pisang terbuang sia‑sia di pasar tradisional dan swalayan. Padahal, kulit pisang mengandung serat tinggi dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Menyadari hal ini, tim mahasiswa D3 Manajemen Perdagangan UNS menggandeng CV Pisang Aroma Mahkota berlokasi di Temanggung untuk mengembangkan produk keripik kulit pisang.
Dalam proses inovasi dan kolaborasi ini, terdapat beberapa tahapan. Pertama pengumpulan bahan baku. Mahasiswa menerapkan sistem kemitraan dengan pedagang olahan keripik kulit pisang setengah matang di wilayah Jawa Tengah. Kedua, penggorengan dan Bumbu. CV Pisang Aroma Mahkota menyediakan olahan keripik setengah matang. Mahasiswa UNS kemudian menggoreng hingga renyah, lalu membumbui dengan varian balado dan barbeque sebelum dikemas. Ketiga, pengemasan dan distribusi. Mahasiswa merancang kemasan modern yang menarik, serta mengelola strategi pemasaran online‑offline melalui e‑commerce kampus dan stan di Car Free Day (CFD) Solo.
“Inisiatif ini bukan sekadar menjawab masalah limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular. Sejak soft‑launch pada Maret 2025, produk ini telah mendapat sambutan positif di pasaran, mencatat penjualan yang menggembirakan sekaligus membantu mengurangi limbah organik,” terang Dosen Pendamping, Eva Yuniarti Utami S.PT., M.B.A. kepada uns.ac.id, Rabu (16/7/2025).
Kemitraan ini berhasil memanfaatkan limbah kulit pisang dalam jumlah signifikan setiap bulannya, sehingga membantu pedagang buah mengurangi biaya pembuangan sekaligus menambah sumber pendapatan baru.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa limbah organik dapat menjadi komoditas potensial. Kami bangga dapat menerapkan teori ekonomi sirkular dalam praktik nyata. Selain belajar pengelolaan rantai pasok, kami juga ikut berkontribusi pada program kampus hijau,” tambah Alif Mutia, Ketua Tim Mahasiswa.
Tim UNS dan mitra akan terus memperluas jaringan kemitraan, termasuk menjajaki kerja sama dengan koperasi petani pisang dan platform e‑commerce. Selain meluncurkan varian bumbu inovatif, mereka juga berencana mempertahankan penggunaan metode dehidrasi sinar matahari untuk meningkatkan efisiensi produksi tanpa mengurangi kualitas nutrisi. HUMAS UNS



















