UNS — Tidak hanya berhenti pada penelitian dan jurnal ilmiah, tiga dosen Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membawa temuan inovatif telur asin rendah sodium kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Tim yang beranggotakan Dr. Setyaningrum Ariviani, S.T.P., M.Sc, Dwi Ishartani, S.TP, M.Si, dan Gusti Fauza, ST, MT, Dr.Phil ini turut berupaya meningkatkan kualitas, kuantitas, serta diversifikasi produk “Telur Asin Sakura” di Bantul, Yogyakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima uns.ac.id, ada beberapa kelemahan dan kendala yang dimiliki “Telur Asin Sakura”. Diantaranya kualitas produk dan umur simpan pendek, lemahnya pengendalian mutu produk, varian produk terbatas, produk tidak dikemas dan tanpa pelabelan, serta kendala pemasaran.

“Selain itu, ada keterbatasan teknologi produksi. Sebelumnya, “Telur Asin Sakura” merupakan unit usaha yang masih mengolah telur asin secara tradisional,” ungkap Dr. Setyaningrum, Jumat (29/1/2021).

Untuk diversifikasi atau menambah varian produk, tim memberi pelatihan pengolahan telur asin rendah sodium yang cocok bagi penderita hipertensi sebagaimana hasil penelitian Dr. Setyaningrum dan kawan-kawan.

Adapun inovasi pengolahan telur asin tersebut, terletak pada proses pengasinan atau penggaraman telur yang mengganti garam sodium (NaCl) menjadi kalium klorida (KCl) dan menambahkan ekstrak daun jati pada adonan pengasin. Kemudian, telur dioven pada suhu 100°C selama 30 menit. Oleh karena itu, pengenalan oven dan peralatan produksi pun dilakukan.

“Hasilnya, ada perbaikan kualitas produk telur asin mitra IRT “Telur Asin Sakura”. Yaitu warna kuning telur lebih kuning, tekstur lebih kesat, jumlah cemaran mikroba dan kadar sodium lebih rendah, serta umur simpan lebih lama. Varian produk pun bertambah dengan telurasin rendah sodium,” tutur Dr. Setyaningrum.

Selain inovasi proses produksi, “Telur Asin Sakura” juga diberi pendampingan penyusunan Standart Operating Procedure (SOP), pengenalan pengemasan dan pelabelan, pelatihan pemasaran daring.

Akhirnya, saat ini produk “Telur Asin Sakura” terkemas dan memenuhi syarat pelabelan serta memiliki laman pemasaran daring. Dengan demikian, kapasitas produksi “Telur Asin Sakura” meningkat 2,5 kali lipat dan omzet penjualan naik 48%.

Kemajuan ini tentu merupakan hal baik. Mengingat telur itik asin adalah produk pengawetan telur itik yang kaya akan asam lemak tak jenuh, protein, dan mineral, serta memiliki kadar fosfolipid dan kolesterol yang lebih rendah daripada telur segar.

“Simpulannya, kegiatan pengabdian yang kami lakukan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi “Telur Asin Sakura”,” pungkas Dr. Setyaningrum. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti