UNS – Berkolaborasi dengan SMA Pradita Dirgantara, Univesitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan seminar secara daring pada hari Rabu (20/5/2020). Mengangkat tema Permodelan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Terpadu di Segala Kondisi, diskusi ini disiarkan secara langsung melalui akun YouTube SMA Pradita Dirgantara. Mayoritas peserta berasal dari tenaga pendidik dan siswa-siswi SMA Pradita Dirgantara dan masyarakat umum.
Nanny Hadi Tjahjanto selaku Ketua Umum Yayasan Ardhya Garini (Yasarini) memberikan sambutan diawal diskusi. Tujuan agenda pada hari ini adalah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang cerdas, bebas berinovasi, dan terpadu sehingga mampu menghantarkan siswa yang cerdas mendunia. Dalam sambutannya, Nanny Hadi Tjahjanto juga berpesan untuk menjadikan siapapun sebagai guru, dimanapun menjadi kelas dan kapanpun untuk tetap belajar.
Dimoderatori oleh Dwi Agus Yuliantoro, Ph.D selaku Direktur Pengembangan Sekolah Pradita Dirgantara, pada kesempatan tersebut hadir lima pembicara yang akan mengisi diskusi. Kelima pembicara tersebut adalah Prof. Dr. rer.nat. Sajidan M.si, (Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNS). Kemudian, Prof. Dr. Samanhudi, S.P., M.Si, (Dekan Fakultas Pertanian UNS), Dr. Mardiyana, M.Si, (Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS), Dr. Sutanto, DEA (Staff Ahli Rektor UNS) serta Dr. Yulianto Hadi, M.M (Kepala SMA Pradita Dirgantara).
Sebagai pembuka topik diskusi, Dr. Yulianto Hadi, M.M menyampaikan permasalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan KBM. Terdapat tiga permasalahan utama yang sering dihadapi yaitu guru kekurangan waktu, kendala teknologi, dan kecenderungan sosial. Saat ini proses penguasaan ilmu oleh siswa belum terarah dengan baik tujuannya untuk apa. Setelah masa pendidikan selesai, diharapkan siswa bisa berkarya sehingga mampu mandiri dan bersosialisasi. Namun yang terjadi di lapangan belum semua memahami hal tersebut, sehingga muncul satu pertanyaan, “Sekolah untuk ujian atau untuk menjalani hidup?”
Diskusi berlanjut dengan memberikan tanggapan permasalahan yang ada oleh Dr. Sutanto, DEA. Mengutip dari filsuf Yunani, Sutanto menjawab bahwa filsuf bernama Seneca mengatakan “Non schole, sed vitae discimus” yang bermakna kita belajar itu bukan untuk sekolah, tetapi kita belajar untuk kehidupan. Sehingga jelas proses belajar yang dijalani oleh manusia memiliki tujuan akhir untuk bekal menjalani kehidupan.
“Perlu adanya perbaikan pada kurikulum pendidikan yang memastikan bahwa tenaga pendidik tidak hanya mengajarkan konten, tetapi adanya deep learning untuk memaksimalkan KBM. Sehingga mindset yang timbul adalah siswa memiliki keingintahuan terhadap sesuatu bukan siswa harus tau sesuatu,” tutur Staf Ahli Rektor tersebut.
Bergabung dalam diskusi, Prof. Sajidan menjelaskan perlu diperhatikan oleh anak muda masa kini tentang kemampuan yang banyak dibutuhkan. Beberapa kemampuan tersebut adalah kreativitas, kemampuan persuasif, kolaborasi dan adaptif dengan kondisi yang ada. Hal ini selaras dengan kebijakan merdeka belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makariem.
“Ada dua keterampilan pokok yang dibutuhkan sebagai pembelajaran abad ke-21 ini yaitu Expert Thinking Skill dan Complex Communication,”tambah Prof. Sajidan.
Setelah membahas secara dominan mengenai kebutuhan siswa dan bagaimana proses pembelajaran yang ideal, Dr. Mardiyana masuk memberikan pendapat dari sudut pandang tenaga pendidik. Saat ini Perguruan Tinggi khususnya UNS terus berusaha untuk melahirkan tenaga-tenaga pendidik yang kompeten. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan memberi kewajiban mahasiswa FKIP untuk belajar diluar Prodi bahkan diluar universitasnya.
“Karena tuntutan harus mencapai Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) sesuai materi yang diberikan, guru masih fokusi dipencapaian materi yang sudah ditetapkan pemerintah. Sehingga harus menyelesaikan KIKD tersebut,” Dr. Mardiyana menjelaskan salah satu hambatan tenaga pendidik di lapangan.
Perlu adanya kolaborasi sesama guru untuk memberikan tugas proyek yang menggabungkan beberapa mata pelajaran. Tujuannya supaya siswa bisa menerapkan ilmu yang dipelajarinya dan menyambungkan satu pelajaran dengan yang lain. Hal ini bisa terwujud apabila guru dan siswa sama-sama paham bagaimana cara belajar yang baru.
Sebagai pembicara terakhir, Prof. Samanhudi memberikan beberapa alternatif pembelajaran yang bisa dipraktikan dari ilmu pertanian untuk memanfaatkan lahan sempit disekitar rumah. Seperti menggunakan media ember untuk menanam sekaligus memelihara ikan. Hal ini tentu bermanfaat bagi kehidupan sehingga bukan saja teori tetapi juga bisa dipraktikan, khususnya di situasi seperti sekarang.
Intisari diskusi pada hari ini adalah model KBM yang ideal dalam berbagai situasi ialah Integrated contextual learning based socio environmental science issue. Dimana melihat tugas bisa digabungkan dari berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam satu proyek. Tidak berhenti disini pembahasan pendidikan terkait model pembelajaran akan diangkat lebih jauh lagi pada diskusi yang akan dilakukan pada tanggal 28 Mei 2020. HUMAS UNS
















