UNS— Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali melepas dua guru besar terbaiknya yang telah memasuki masa purnabakti. Acara pelepasan digelar dalam suasana penuh kehangatan dan penghormatan di Ruang Sidang 2 Gedung dr. Prakosa UNS, Selasa (4/11/2025).
Dua guru besar yang memasuki masa purnabakti tersebut adalah Prof. Dr. Tulus Haryono, M.Ek. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Prof. Dr. Asrowi, M.Pd. dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Keduanya telah memberikan kontribusi luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan, pengajaran, penelitian, serta pengabdian masyarakat selama puluhan tahun di lingkungan UNS.
Ketua Dewan Profesor, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang mendalam atas dedikasi dan pengabdian kedua guru besar tersebut.
“Atas nama keluarga besar UNS, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Tulus Haryono, M.Ek. dan Prof. Dr. Asrowi, M.Pd.. Keduanya telah menjadi teladan dalam hal integritas, profesionalisme, dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa. Kontribusi mereka akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah UNS,” ujar Prof. Suranto.
Sementara itu, Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UNS, Prof. Dr. E. Muhtar, S.Pd., M.Si., CFrA. menyampaikan bahwa semangat dan nilai-nilai keilmuan yang telah ditanamkan para guru besar purnabakti akan terus menjadi inspirasi bagi dosen dan mahasiswa di UNS. “UNS sangat menaruh hormat kepada Prof. Tulus dan Prof. Asrowi. Meski sudah purna, namun ide-ide dari keduanya akan terus kami harapkan untuk kemajuan UNS,” ujar Prof. Muhtar.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Tulus Haryono, M.Ek. menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan karena telah menjadi bagian dari perjalanan panjang UNS hingga kini berkembang menjadi universitas berkelas dunia. “Saya bersyukur dapat mengabdikan diri di UNS selama puluhan tahun. Banyak kenangan, tantangan, dan kebanggaan yang saya rasakan. Semoga UNS terus maju, menjadi kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam kontribusi sosial bagi bangsa,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tulus membawakan Orasi Kehormatan dengan judul ‘Membangun Citra Positif Pelayanan Publik Berdasarkan Pelayanan Prima di Era Digital’. Citra positif adalah kesan atau pandangan baik yang diberikan orang lain terhadap diri kita, organisasi, atau instansi tempat kita bekerja. Sebaliknya, citra negatif adalah persepsi buruk yang bisa membuat kepercayaan orang lain menurun. Terdapat lima langkah efektif untuk membangun citra positif mulai dari diri sendiri. Pertama, Kenali Persepsi yang Ada, lakukan introspeksi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Dengan mengenali diri, dapat memperbaiki hal yang perlu ditingkatkan.





Kedua, Tingkatkan Kualitas Komunikasi. Bangun kemampuan berkomunikasi yang baik, seperti mendengarkan dengan empati, menghargai pendapat orang lain, dan berbicara dengan sopan. Ketiga, Tingkatkan Penampilan Fisik. Penampilan yang rapi dan terawat mencerminkan kepribadian yang baik. Jaga kebersihan diri, kesehatan tubuh, dan kerapian dalam berpakaian. Keempat, Menyadari Kekuatan dan Bakat. Kenali potensi diri dan gunakan secara maksimal. Tetapkan tujuan sesuai kemampuan dan terus kembangkan diri. Dan kelima, Mengatasi Kesalahan dan Kegagalan. Hadapi kegagalan dengan sikap positif. Jadikan setiap kesalahan sebagai pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kemudian, Prof. Dr. Asrowi, M.Pd. dalam kesempatan tersebut membawakan Orasi Kehormatan dengan judul Konseling Spiritual: Menyemai Nurani di Tengah Kebisingan Era 5.0. Konseling spiritual bukan sekadar terapi batin, melainkan pendekatan pendidikan yang memanusiakan manusia. Ia mengembalikan pendidikan ke hakikatnya yaitu menuntun jiwa, bukan hanya mengajar otak. Melalui proses refleksi, empati, dan doa, konseling spiritual membantu individu memahami dirinya, memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, serta menumbuhkan kasih terhadap sesama. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, dan empati ditanamkan bukan lewat ceramah, tapi lewat pendampingan yang menyentuh hati.
Dalam konteks sekolah, konseling spiritual sangat relevan. Guru dan konselor bukan hanya pengajar pengetahuan, tapi penjaga moralitas. Mereka membantu siswa mengenali luka batin, menata emosi, dan menemukan arah hidup. Karena sejatinya, pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan slogan, melainkan perlu keteladanan dan pendekatan spiritual yang menyentuh kesadaran terdalam. Era Society 5.0 adalah masa ketika manusia hidup berdampingan dengan mesin cerdas, robot, dan realitas virtual. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan luar biasa, efisiensi, kemakmuran, dan kenyamanan. Namun di sisi lain, ia menimbulkan tantangan baru diantaranya ketergantungan, kesepian, dan krisis eksistensial.
Konseling spiritual menjadi penyeimbang agar kemajuan digital tidak menggerus kemanusiaan. Ia menanamkan nilai bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Bahwa manusia harus tetap menjadi subjek, bukan sekadar pengguna. Spiritualitas menuntun kita untuk menundukkan ego digital, yaitu tidak larut dalam pencitraan, tidak kehilangan makna dalam kebisingan dunia maya. Ia mengajarkan bahwa kedamaian sejati bukan berasal dari notifikasi yang berbunyi, tapi dari hati yang tenang.
Dengan berakhirnya masa tugas dua guru besar ini, UNS kembali meneguhkan komitmennya untuk terus melahirkan insan akademik unggul dan melanjutkan estafet keilmuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Dua guru besar purna hatmri ini menunjukkan komitmen UNS untuk meraih Sustainable Development Goal keempat tentang Pendidikan yang Berkualitas. HUMAS UNS















