Galakkan Internalisasi Cinta Alqur’an, UNS Gelar Putaran ke-3 Tarawih Bersama

UNS – Memasuki pekan kedua di bulan Ramadan, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan konsisten mengadakan kegiatan sholat tarawih rutin bersama untuk yang ketiga kalinya di Gedung dr. prakosa, Rabu, (30/05/2018). Di kegiatan sholat tarawih kali ini civitas academica UNS senantiasa mengajak warga kampus untuk lebih mencintai dan mendalami Islam untuk meghadapi tantangan-tantangan di era globalisasi.

Seperti biasanya, sholat tarawih bersama kali ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, fakultas, mahasiswa serta masyarakat umum. Dalam kesempatan tersebut yang bertugas sebagai imam sholat yaitu Jummarrudin (Hafidz UNS), Lukman Hakim (FEB) sebagai Penceramah, dan Mulyanto (FEB) sebagai moderator.

Dalam sesi ceramah, Lukman Hakim memberikan penjelasan mengenai memprihatinkannya discourse/persepsi negatif yang terdapat di masyarakat terhadap Islam di era globalisasi. Ia menyatakan bahwa terorisme, neo-liberalisme dan fundamentalisme lain telah menciptakan persepsi negatif terhadap umat Islam sehingga memunculkan islamicphobia.

“Sekarang itu banyak sekali pihak yang ingin memecah belah bangsa kita. Paham-paham seperti terorisme, neoliberalisme dan fundamentalisme sudah memunculkan discourse negatif terhadap Islam, sehingga sekarang muncullah islamicphobia,” ungkap Lukman.

Ia menyatakan bahwa untuk melawan pandangan negatif tersebut, umat Islam harus sadar akan pentingnya Islamisasi ilmu pengetahuan. Para akademisi Islam harus mampu memprakarsai ilmu modern dengan khasanah Islam di dunia pendidikan dan terus konsisten dalam berkarya.

“Kita harus bergerak cepat dan sadar bahwa kesadaran akan Islamisasi ilmu pengetahuan itu sangatlah penting, tugas kita adalah memprakarsai ilmu-ilmu modern yang bernapaskan Islam di dalam kampus dan terus menciptakan karya-karya dengan semangat Islam,” terang Lukman.

Sementara itu, rektor UNS juga hadir dan mengajak para akademisi untuk menggalakkan gerakan membaca, memahami serta menginternalisasikan Al-Qur’an dalam segala aspek kehidupan, terutama di dalam lingkungan kampus.

“Gerakan membaca Al-Qur’an harus terus digalakkan. Namun bukan hanya sampai disitu kita juga harus mau memahami dan menginternalisasikannya di dalam kehidupan kita. Terutama ya di kampus ini, karena ilmu yang tinggi juga harus didukung dengan agama yang kuat agar tetap seimbang,” tutup Ravik. Humas-Red.uns/Ysp/Isn