Hadiri Workhsop di UNS, GM The Sunan Hotel Solo bagikan Strategi Peningkatan Citra Perpustakaan

Hadiri Workhsop di UNS, GM The Sunan Hotel Solo bagikan Strategi Peningkatan Citra Perpustakaan

UNS — Hadir dalam Workshop Nasional Kehumasan Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Retno Wulandari, S.H., M.Si., General Manager (GM) The Sunan Hotel Solo, memaparkan beragam strategi peningkatan citra perpustakaan.

Pada acara gelaran UPT Perpustakaan UNS ini, Retno menekankan pentingnya semua kinerja kehumasan yang harus dimulai dari riset dan analisis SWOT. Setelah itu, baru membangun rekomendasi dan beragam rencana sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tidak lupa, evaluasi berkala harus dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan hal apa saja yang perlu diperbaiki.

Retno yang pernah menjabat Director of Marketing Communications tersebut juga menuturkan, setiap perusahaan atau dalam hal ini perpustakaan, pasti memiliki analisis SWOT yang berbeda-beda sehingga desain strategi satu dan lainnya tidak dapat disamakan.

“Ini yang harus digarisbawahi dulu. Terapan di tempat A dan B itu berbeda karena masalahnya berbeda. Tapi bisa ditarik benang merah karena grand design-nya itu kira-kira seperti ini polanya. Hanya diterapkan dengan berbeda-beda sesuai dengan perpustakaannya,” jelasnya, Kamis (22/4/2021).

Strategi pertama yang disebut Retno ialah membangun citra perpustakaan melalui modern building. Hal ini tidak terlepas dari stigma kebanyakan orang terhadap perpustakaan sebagai tempat kurang menyenangkan secara bangunan, tidak melahirkan sesuatu yang fun (untuk milenial), dan terlebih di era sekarang orang menuntut tempat yang instagramable.

Akan tetapi, Retno mengatakan hal itu lagi-lagi tergantung pada perpustakaan masing-masing. Tentu banyak indikator, dan aspek bangunan ini hanya salah satu masukan yang dapat dipertimbangkan.

Kedua, meningkatkan citra pustakawan. Keberhasilan perpustakaan, imbuh Retno, tidak lagi bergantung pada besar kecilnya gedung, koleksi, juga anggaran. Namun,  kepada kualitas sumber daya manusia atau pegawai sebagai wajah perpustakaan itu sendiri.

Pegawai perpustakaan, khususnya Humas juga harus membangun citra diri sebagai pustakawan sehingga dapat turut menarik minat para pengunjung. Public Relation personality yang bagus serta pemahaman terhadap produk menjadi salah satu kunci penting.

“Ekspektasi publik ketika bertemu Humas akan memperoleh informasi buku yang baru, koleksinya apa, diferensiesi di perpus ini apa. Mereka akan memperhatikan bagaimana melayani, bagaimana membuat program, sehingga bagaimana dapat membangun kepedulian dan menciptakan situasi yang menyenangkan. Juga mensinergikan antarproduknya. Ini tugas dari humas,” tambah Retno.

Selain merawat pengunjung yang datang sampai mereka berulang-ulang kembali, satu poin yang patut diperhatikan sebagai promosi adalah bagaimana pengunjung tersebut juga mengabarkan kepada pihak-pihak lain terkait perpustakaan yang kita kelola.

Misalkan, sistem posting dan reposting di instagram. Pada zaman sudah berubah, strategi tidak bisa konstan, inovatif, dan adaptif. Media sosial benar-benar harus digunakan untuk membangun kepedulian, kampanye masif dan terstruktur, serta cerita tentang perpustakaan yang positif.

Namun, pilihan saluran atau media sosial ini harus tepat sesuai karakteristik, target publik, dan kebutuhan perpustakaan. Kampanye perpustakaan di universitas, korporasi, atau desa tentu dibutuhkan teknik tertentu yang berbeda.

Bangun Minat Baca dari Rumah

Berbicara perihal kampanye, ada satu poin menarik yang disampaikan Retno. Yakni kampanye untuk meningkatkan minat baca dari rumah, khususnya dari seorang ibu.

Hadiri Workhsop di UNS, GM The Sunan Hotel Solo bagikan Strategi Peningkatan Citra Perpustakaan

Menurutnya, sebab paling dasar minimnya minat publik terhadap perpustakaan adalah minat baca yang rendah. Ketika dari substansinya saja sudah tidak gemar membaca, segiat apa pun aktivitas kehumasan itu dilakukan, itu tidak akan optimal.

“Pecahkan dulu sebelum melangkah lebih jauh. Kita juga harus memulai dari yang amat dasar, bagaimana membangkitkan minat baca ini, apa yang paling efektif untuk membangkitkan minat baca ini. Saya tertarik pertama (red: untuk mencitrakan perpustakaan, meningkatkan minat baca dulu,” tutur Retno.

Retno memang tertarik dengan berbagai bacaan dan memiliki minat baca tinggi karena kebiasaan yang dibangun dari rumah. Berkaca pada pengalamannya, hal paling efektif untuk membangun budaya baca menurutnya adalah dari rumah.

Dan, jawaban siapa yang paling efektif untuk menjadi influencer dalam hal ini ialah ibu. Maka, kampanye-kampanye dari perpustakaan, salah satunya dapat dimulai dengan target para ibu dan bagaimana mengoptimalkan minat baca yang dimulai dari keluarga.

“Ini bisa untuk menyusun grand design dari sebuah perpustakaan untuk membuat kampanye. Kemudian baru kita masuk ke hal-hal teknis yang kiranya ada dalam konteks kehumasan di perpustakaan. Ini akan saling mengait,” katanya. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti