UNS— Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan temu wicara dalam rangka Studi Alternatif dan Ajang Kreativitas (SAJAK). Acara ini berlangsung pada Minggu (29/9/2024) di Ruang Seminar Gedung Suharno FIB UNS. Kegiatan dengan tema ‘Memulai Perjalanan Perkuliahan di Sastra Indonesia’ ini bertujuan untuk menyambut mahasiswa baru Prodi Sastra Indonesia FIB UNS.
Narasumber yang dihadirkan dalam acara ini yaitu Pradana Ricardo, alumnus Sastra Indonesia UNS yang saat ini tengah melanjutkan studi di S-2 Linguistik Universitas Indonesia (UI). Turut hadir pula Kepala Prodi Sastra Indonesia FIB UNS, Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A. yang sekaligus memberikan sambutan dalam acara ini.
Dalam sambutannya, Dr. Asep berharap agar acara SAJAK ini dapat selalu diadakan setiap tahunnya. “Intinya, selalu semangat sampai akhir. Semoga SAJAK terus dilaksanakan,” ungkapnya saat memberikan sambutan.
Sementara itu, Pradana Ricardo atau yang akrab disapa Ricard menyampaikan topik ‘Be an Outstanding Sastranesian’ dan memberikan trik-trik menjadi mahasiswa Sastra Indonesia yang berprestasi.



Ricardo dalam perjalanannya menjadi mahasiswa Sastra Indonesia telah melanglang buana hingga menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah. Rekam jejaknya penuh dengan penghargaan lomba-lomba esai tingkat nasional dan internasional. Pengalaman keorganisasian juga tak kalah mengesankan, Ricardo pernah menjadi Ketua Umum Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) UNS tahun 2022.
Poin pertama yang Ia bagikan adalah keleluasaan hati dan pikiran. Ia berpesan agar mahasiswa baru perlu menanamkan niat yang kuat dan memantapkan tanggung jawab sejak awal kuliah.
“Kemudian, teman dan relasi, mahasiswa baru Sastra Indonesia sejak awal perlu merencanakan arah tujuannya. Sebenarnya kita itu dari awal harus Sok Kenal Sok Dekat (SKSD) sama kakak tingkat dan dosen, itu trik biar dapat relasi, sih. Intinya ada tujuannya. Nggakpapa banget,” jelas Ricardo.
Selain itu, Ia juga mengatakan bahwa mahasiswa baru juga harus memiliki strategi untuk bertahan selama empat tahun ke depan. Tidak boleh hanya sekadar mengikuti arus saja tanpa tujuan yang jelas.
“Di Sastra Indonesia itu bukan sekadar belajar berbicara dan berbahasa Indonesia, tetapi juga mengkaji budaya, bahasa, dan sastra yang lebih luas. Prospek kita itu sangat amat banyak. Mulai dari bidang kreatif, kehumasan, editor, jurnalis, peneliti, hingga penyiar,” pungkasnya. HUMAS UNS
Redaktur: Dwi Hastuti



















