Institut Javanologi LPPM UNS Gelar Semiloka Ruwatan

Institut Javanologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang bekerja sama dengan Panitia Lustrum UNS ke-8 dan Yayasan Kertagama Jakarta menggelar Semiloka Ruwatan, Sabtu (6/8/2016). Bertempat di Pendhapi Ageng Institut Javanologi UNS, kegiatan semiloka ini mengusung tema “Transformasi Nilai Ruwatan dan Implementasinya dalam Masyarakat Jawa Kekinian”. Peserta workshop terdiri 150 sampai dengan 200 orang yang berasal dari akademisi UNS (dosen, mahasiswa asing, dan mahasiswa UNS), kelompok budaya, tokoh masyarakat, serta pemerintah dan instansi terkait.

ruwatan
Sugiyarto (pojok kiri), Sahid Teguh Widodo selaku Kepala Institut Javanologi (pojok kanan), Widodo Muktiyo (keempat dari kiri), beserta tokoh masyarakat.

Saat pembukaan, Ketua Panitia, Sugiyarto mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab untuk melestarikan tradisi budaya Jawa, namun berbeda dari kegiatan sebelumnya yang lebih menonjolkan seni, arsitektur, dan batik. Kegiatan kali ini berfokus pada salah satu tradisi kayakinan masyarakat Jawa yaitu ruwatan. Sugiyarto juga menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini memiliki dua visi. Pertama, semiloka ini tidak sekedar menyajikan ruwatan sebagai pagelaran dan ritual memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga mencoba untuk membahas apa itu ruwatan. Selain itu, pembahasan mengenai apakah ruwatan menyimpang dari nilai ketuhanan, apa misi, filosofi, dan bagaimana implementasinya di masyarakat juga menjadi perhatian. Kedua, peserta mencoba memahami keadiluhungan kultur Jawa dan karakter apa yang dikembangkan masyarakat Jawa dengan adanya ruwatan. Dengan adanya diskusi ini, diharapkan peserta dapat mendefinisikan sendiri tentang ruwatan itu sendiri.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda besar UNS, dimana UNS akan berfokus dalam pengembangan nilai-nilai budaya Jawa,” ungkap Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Widodo Muktiyo dalam sambutannya. Widodo juga menambahkan bahwa UNS juga memiliki komitmen untuk menjadikan Institut Javanologi menjadi bagian pengembangan budaya secara universal dengan cara bekerja sama dengan para seniman di Surakarta dan sekitarnya.

Pembukaan acara ditandai dengan dipukulnya gong sebanyak lima kali oleh Widodo yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata kepada para tokoh masyarakat sekaligus penyerahan wayang kepada dalang. Institut Javanologi LPPM UNS juga menerima cinderamata yang peserta berasal dari Jepang.

ruwatan
(kanan-kiri) Sugiyarto, Ki Demang Edi, Widodo Muktiyo, dan Ki Imam Sutarjo.

Semiloka ruwatan dilanjutkan dengan diskusi yang dibawakan oleh lima pembicara yaitu Pawito (Institut Javanologi LPPM UNS), Suseno Hadi Parwono (Padepokan Gedong Putih), Soetarno (ISI Surakarta), BSW. Aji Kusumo (Ndalem Pujokusuman Yogyakarta), dan BRM. Bambang Irawan (Kraton Kasunanan Surakarta). Ruwatan merupakan suatu bentuk pengakuan masyarakat Jawa akan kelemahannya. Masyarakat memang tidak bisa mengelak dari hal-hal yang sifatnya magis dan telah ditakdirkan, tetapi masyarakat Jawa masih memiliki Tuhan, masih dapat selalu berdoa dan berkehendak. Hal inilah yang menjadi karakteristik prosesi ruwatan, yang selalu mendasarkan sikap berserah diri pada Tuhan.

Selain diskusi tentang ruwatan, peserta semiloka juga disuguhi dengan berbagai pertujukkan budaya Jawa, diantaranya adalah pagelaran wayang ruwat “Sudamala” oleh Ki Demang Edy Sulistiono, Tari Batik  yang dibawakan oleh mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, tari yang dibawakan oleh mahasiswa asing, serta pagelaran wayang ruwat “Murwakala” oleh Ki Imam Sutarjo. Hasil semiloka akan ditindaklanjuti dengan penerbitan Buku Bunga Rampai Pemikiran bertema “RUWATAN: Mutiara Jawa yang Tenggelam”. [elsa.red.uns.ac.id]