Kepala BPIP Minta Lulusan UNS Jawab Tantangan Keilmuan Selama Pandemi Covid-19

Kepala BPIP Minta Lulusan UNS Jawab Tantangan Keilmuan Selama Pandemi Covid-19

UNS — Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, meminta lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta harus mampu menjawab tantangan keilmuan di tengah masyarakat selama pandemi Covid-19.

Permintaan tersebut ia sampaikan kepada wisudawan/ wisudawati Program Doktor, Magister, Pendidikan Dokter Spesialis, Sarjana, dan Diploma dalam Wisuda Luring dan Daring periode III UNS, Sabtu (26/6/2021).

Prof. Yudian Wahyudi mengatakan, tantangan keilmuan yang harus dihadapi wisudawan/ wisudawati adalah ketidakpercayaan sebagian orang pada sains. Hal itu disebutnya dapat menambah angka penularan SARS-CoV-2, selain karena ketidakdisiplinan masyarakat mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes).

“Kepercayaan pada ilmu dan data ilmiah merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dijawab oleh dunia pendidikan saat ini, tidak terkecuali oleh para alumni UNS,” ujar Prof. Yudian Wahyudi.

Dalam hal ini, ia menyinggung sebagian orang yang memiliki keyakinan tertentu terhadap Covid-19 yang pada akhirnya mementahkan penemuan-penemuan dalam sains. Prof. Yudian Wahyudi menyebut keyakinan itu salah kaprah.

“Adanya keyakinan bahwa persoalan hidup mati yang mengatur hanyalah Tuhan dan tidak perlu mempraktikkan 3M sebagai ikthiar menjaga kesehatan bersama merupakan salah kaprah. Keyakinan yang keliru, tetapi diyakini banyak orang ini telah menciptakan dampak yang sangat merusak ,” tandas Prof. Yudian Wahyudi.

Kepala BPIP Minta Lulusan UNS Jawab Tantangan Keilmuan Selama Pandemi Covid-19

Di hadapan wisudawan/ wisudawati dan orang tua/ wali yang mengikuti jalannya wisuda melalui Zoom Cloud Meeting dan kanal Youtube UNS, ia menilai ketidakpercayaan sebagian orang kepada sains merupakan akibat dari adanya kesenjangan antara dunia akademik dan sosial.

Saat orang-orang yang berada di dunia akademik sibuk memikirkan hal-hal yang berbau teori dan prosedur ilmiah, nyatanya di masyarakat lebih suka memikirkan cara-cara berpikir yang sederhana dan praktis.

Perbedaan inilah yang disoroti Prof. Yudian Wahyudi sehingga ia mengusulkan adanya reorientasi pemaknaan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Dengan pendekatan yang berbeda ini keduanya seorang berjalan tanpa saling menyapa satu sama lain. Covid-19 memberikan momentum bagi kita untuk meminta peluang relasi antara sains, dunia akademik, masyarakat, dan kemanusiaan kita,” ucapnya.

Ia menambahkan, keinginannya terhadap reorientasi pemaknaan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar dunia akademik dengan sosial tidak mengalami kesenjangan, sesuai dengan tekad Presiden RI, Joko Widodo, yang menekankan penanganan pandemi Covid-19 dengan cara-cara yang tidak biasa.

Cara-cara tidak biasa yang dimaksud bukanlah menggunakan cara yang ilegal atau melanggar hukum, melainkan dengan menghindari kecenderungan ritual prosedural dan melibatkan partisipasi lebih banyak orang.

“Merespons hal tersebut, penelitian sebagai komponen Tri Dharma Perguruan Tinggi perlu mengalami reorientasi dari tahap desain hingga diseminasi. Pada tahap desain, penelitian seyogyanya diarahkan pada topik aktual dan relevan dengan penanganan pandemi dan pada tahap desiminasi perlu dikaitkan dengan tokoh dan kearifan lokal dalam konteks budaya,” terang Prof. Yudian Wahyudi.

Di akhir sambutannya, Prof. Yudian Wahyudi mengingatkan wisudawan/ wisudawati jika sebagai lulusan perguruan tinggi mereka punya privilege keilmuan.

Ia mengharapkan, mereka dapat mendharmabaktikan kapasitasnya secara profesional untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

“Anda merupakan bagian dari elite masyarakat dengan minimal sarjana yang jumlahnya tidak lebih dari 8,5% total penduduk Indonesia. Ini berdasarkan sensus penduduk 2020 . Dengan privilege ini, kiranya masa depan Indonesia bergantung pada jumlah saudara saudara semua,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Yefta Christopherus AS
Editor: Dwi Hastuti