Mau Jadi Mawapres? Simak Strategi Penulisan KTI ala Mawapres UNS Berikut

UNS — Salah satu penilaian untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), ialah penuangan ide inovatif melalui Karya Tulis Ilmiah (KTI). Dalam proses penulisannya, ada kiat-kiat tertentu yang patut diperhatikan para calon Mawapres.

Dua Mawapres Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Aiman Hilmi Asaduddin dan Rizka Lailatul Rohmah pun membagikan tips dan triknya dalam Bincang-Bincang Ilmiah gelaran SIM UNS, Sabtu (13/3/2020).

Mengawali materi, Aiman menjelaskan KTI merupakan tulisan bersifat ilmiah. Artinya, tulisan memuat ide untuk menyelesaikan suatu masalah dengan dasar keilmuan yang jelas. Apa yang tertuang di KTI juga harus dilandasi fakta, ditulis dengan lugas dan efektif, disusun secara sistematis dan logis, serta objektif.

Lebih khusus, Aiman menuturkan, KTI untuk Pilmapres berbentuk gagasan kreatif berisi uraian yang dilandasi penalaran logis dan data akurat. Struktur gagasan kreatif lebih fluid dan fleksibel tapi cukup kompleks. Bentuknya seperti perencanaan bisnis sehingga perlu menyebutkan bagaimana keberjalanan ide ini ke depan berikut sistem pendanaannya.

“Temanya SDGs dan Revolusi Industri 4.0. Berbeda dengan tahun 2019 yang struktur KTI-nya masih umum dengan luaran paper,” terang Aiman yang menjadi Mawapres Sarjana UNS 2019.

Lalu, bagaimana membangun ide untuk KTI ini? Aiman mengatakan bahwa membangun ide untuk KTI haruslah urut dan dimulai dari dasarnya. Pertama, pilihlah ide yang sesuai dengan keilmuan atau Program Studi (Prodi) sebagai salah satu syarat KTI Pilmapres.

“Karena di ajang ini peserta akan mengunggulkan program studinya. Ada yang buat karya tulis, tapi nggak sesuai lingkupnya, nilainya turun drastis,” ungkap Aiman.

Kedua, tentukan masalah yang ingin diangkat. Dalam hal ini, kita dapat melihat masalah dari hal kecil di sekeliling dan ulik masalah yang harus segera diselesaikan dan membutuhkan gagasan dalam penyelesaiannya.

Poin ketiga, find the root atau temukan akar masalahnya. Salah satu cara menemukan akar masalah ialah dengan mengkritisi solusi yang sudah ada atau diterapkan kemudian cermati adakah kelemahan pada solusi tersebut.

Terakhir, make your own strategy. Oleh karena KTI di sini dalam bentuk gagasan kreatif, jadi peserta bebas menentukan strateginya. Apakah ide yang diajukan benar-benar baru, kombinasi dari beberapa yang sudah ada, atau pengembangan dari solusi sebelumnya. Asalkan, ide tersebut dapat diaplikasikan.

Satu hal yang juga ditekankan oleh Aiman adalah tema gagasan kreatif yang harus dikaitkan dengan poin Sustainable Development Goals (SDGs) dan berbasis Revolusi Industri 4.0.

“Harus ada kombinasi antara ide kita dengan teknologi yang sekarang sedang berkembang. Mungkin agak susah juga kalau mau mengaitkan dengan basic yang IPA banget, tapi disinilah kreativitas kita dibutuhkan,” imbuh Aiman.

Konsep SMART

Sementara itu, Rizka memaparkan batasan penulisan gagasan kreatif untuk Pilmapres. Yakni penentuan lingkup pembahasan, identifikasi potensi dan kebutuhan, menentukan potensi lingkungan target dan penerima manfaat sesuai data atau uraian fakta, rumusan target pembangunan, analisis untuk memilih cara pencapaian target, penjabaran rencana kerja dan informasi tambahan, visualisasi gagasan, serta lampiran.

Mawapres Diploma UNS 2020 ini pun mengulik lebih lanjut perihal target pembangunan berupa hasil yang  ingin dicapai sehubungan dengan potensi dan kebutuhan lingkungan. Untuk merumuskan target pembangunan ini, tutur Rizka, ada konsep SMART yang dapat digunakan.

Mengacu konsep SMART, artinya target pembangunan harus spesific sehingga ide tersebut tepat sasaran. Kemudian Measurable yang mana indikator keberhasilan dapat terukur, Acceptable  atau ide dapat diterima oleh target dan diterapkan, lalu Realistic di mana gagasan tersebut harus realistis.

“Jadi gagasan yang bisa kita lakukan. Kalau sampai di Pilmapres nasional, kita punya kesempatan untuk merealisasikan gagasan kita. Bedanya, untuk Sarjana, gagasannya berupa konsep atau strategi. Untuk Diploma berupa produk. Terakhir, Time bound atau terikat dengan waktu. Dalam merumuskan masalah itu harus detail jangka waktunya,” kata Rizka.

Untuk memilih cara pencapaian target, tambah Rizka, ada beberapa aspek yang harus mulai dipertimbangkan. Diantaranya tingkat kesulitan, kebutuhan finansial (apakah pendanaan ini dapat diminimalisir atau membutuhkan dana besar), serta membandingkan efektivitas juga efisiensi waktu. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti