UNS–Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan diseminasi hasil penelitian dan pengembangan model konseling sekolah berbasis nilai-nilai kesehatan mental budaya lokal Indonesia pada Senin, 16 Desember 2024 bertempat di Ruang Wijaya Kusuma Lantai 9 Grand H.A.P Hotel Surakarta. Pengembangan model konseling ini merupakan hasil dari penelitian skema Riset Kolaborasi Indonesia yang digagas oleh tim Universitas Negeri Malang yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Ramli, M.A. sebagai host; Universitas Sebelas Maret Surakarta yang diketuai oleh Prof. Dr. Asrowi, M.Pd sebagai mitra pertama, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang diketuai oleh Dr. Agus Budi Raharjo, S. Kom, M.Kom sebagai mitra kedua.
Penelitian ini berfokus pada upaya masing-masing kampus untuk memberikan dampak pengelolaan kesehatan mental di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal, yaitu budaya Madura yang diterapkan di Jawa Timur dan nilai filosofis Suryomentaram di Jawa Tengah. Untuk kemudian dalam penerapannya diwadahi dalam sebuah platform digital.
Kegiatan ini dilakukan secara hybrid dengan menghadirkan seluruh tim peneliti, dosen program studi BK, mahasiswa BK, dan alumni. Jumlah peserta baik daring maupun luring adalah 140 orang.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi BK, Dr. Naharus Surur, M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa “kolaborasi dalam bidang BK, utamanya terkait kesehatan mental merupakan hal yang penting untuk diupayakan. Pengembangan model konseling kesehatan mental yang dapat diterima dengan baik dikalangan mahasiswa maupun guru sebagai pengguna perlu diapresiasi dan ditindaklanjuti melalui diseminasi.”



Acara inti diseminasi dilakukan dengan penyampaian ide pokok riset yang berupaya untuk mengedepankan nilai-nilai budaya lokal kesehatan mental di Indonesia sebagai intervensi berbentuk konseling oleh Prof. Dr. M. Ramli, M.A. “Riset ini merupakan bentuk ketertarikan kami dalam melihat budaya-budaya di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu variabel pencetus kesehatan mental. Maka, kami mengusung budaya lokal Madura dan Jawa Tengah dalam hal ini Suryomentaram sebagai filosofi dasar pengembangan model konseling, untuk digunakan dikedua daerah tersebut sebagai pilot project.”
Acara dilanjutkan oleh Prof. Dr. Asrowi, M.Pd yang menyampaikan pentingnya kesehatan mental ditinjau dari segi budaya. “Bahwa budaya memiliki pengaruh positif dan negatif dalam kaitannya dengan kesehatan mental. Maka dengan mengelola nilai-nilai budaya yang ada menjadi bagian dari konseling, kesehatan mental dapat diupayakan”.
Dr. Agus Budi Raharjo, S.Kom., M.Kom sebagai mitra juga menyampaikan bagaimana peran teknologi dalam menyediakan platform digital penyedia layanan konseling di sekolah. “Meskipun nilai yang digunakan adalah nilai budaya lokal, namun siswa saat ini lebih suka dengan sentuhan teknologi sehingga bisa disediakan platform konseling online yang memungkinkan siswa untuk melakukan pengukuran kesehatan mental, melakukan konseling, dan menentukan tindak lanjut.”
Sebagai penutup adalah pemaparan hasil pengembangan model konseling kesehatan mental berbasis budaya Jawa Tengah yang disampaikan oleh Dr. Ribut Purwaningrum, M.Pd. “Dalam riset kolaborasi Indonesia ini kami menjadikan nilai-nilai Suryomentaram sebagai dasar filosofis pengembangan model konseling kesehatan mental yang nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan mental individu di Jawa Tengah, khususnya siswa di sekolah yang menjadi subjek layanan kami. Kami berharap diseminasi ini dapat mengenalkan model konseling berbasis budaya yang dapat diadaptasi oleh sekolah sebab diasumsikan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Jawa Tengah sehingga lebih mudah dipraktikkan dan berorientasi tujuan.”
HUMAS UNS



















