UNS – Tiga mahasiswa dari Rotterdam University of Applied Sciences, Belanda berkolaborasi dengan Laboratorium Penelitian Urban-Rural Design and Conservation (URDC) Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam mengupayakan perbaikan lingkungan di wilayah Surakarta. Pleun de Vries, Niels Baars, dan Thomas Riewert Wierenga yang merupakan mahasiswa tahun ketiga Program Manajemen Air dan Pengembangan Spasial melakukan inisiasi awal dari beberapa project berkelanjutan di Kelurahan Sumber, Kampung Kota Eks HP0001 Mojo, dan Kecamatan Mojogedang.
Pleun memfokuskan penelitiannya pada pertanian padi organik dan penanganan kontaminasi air di daerah Mojogedang Kabupaten Karanganyar. Dalam artikelnya yang berjudul “Challenges in Organic Rice Cultivation as Cultural Landscape in the Mojogedang Karanganyar”, Pleun mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani di hulu mencemari sumber air bagi petani organik di hilir, yang menjadi hambatan besar untuk mendapatkan sertifikasi organik dan mencapai praktik pertanian yang berkelanjutan.
“Di daerah Mojogedang terdapat permasalahan dimana petani yang berada di hilir yang menginisiasikan pertanian padi organik menggunakan sumber air dari hulu untuk irigasinya. Namun para petani di hulu masih menggunakan pestisida yang tentunya mencemari air yang akan turun ke hilir. Saya berkolaborasi dengan Pak Mazlan, Kandidat Ph.D. dari Jurusan Kimia dan Dosen Fakultas Pertanian (FP), Pak Ari untuk membuat sebuah sistem filtrasi air yang dapat digunakan untuk membantu petani di hilir. Kami turut bekerja sama dengan pemerintah untuk membuat kebijakan terkait penggunaan pestisida,” jelas Pleun kepada uns.ac.id, Selasa (17/12/2024).
Sedangkan Niels Baars, menyoroti tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam di Kampung Sumber yang terletak di sepanjang Sungai Kali Pepe. Dirinya turut menulis sebuah artikel berjudul “Re-naturalization of River Bank Settlement of Kali Pepe River Surakarta“. Artikel tersebut menggabungkan analisis teoritis dan praktis, mengeksplorasi strategi untuk mendesain ulang tepi sungai perkotaan yang berkelanjutan. Niels menekankan pentingnya pemeliharaan pasca implementasi untuk memastikan keberhasilan proyek dalam jangka panjang.
“Bekerja sama dengan kelompok proyek dari Departemen Arsitektur, saya berkontribusi dalam membuat rencana induk untuk mendesain ulang bantaran sungai. Dengan memasukkan vegetasi, desain ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas air, mengurangi risiko banjir, mencegah pembuangan sampah, dan menciptakan ruang yang mendorong interaksi antara masyarakat dan alam. Kolaborasi dengan para pemangku kepentingan utama, termasuk Komunitas Peduli Sungai Sumber (KPS Sumber), penduduk setempat, dan Arifa Ummiyati, Kepala Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, serta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS Solo) sangat penting dalam pengembangan proyek ini,” terang Niels.
Di Kampung Kota Eks HP0001 Mojo, Thomas berfokus pada peningkatan kelayakan huni dengan mengintegrasikan strategi desain partisipatif dan berkelanjutan. Ia bersama dengan tim yang terdiri dari beberapa mahasiswa UNS mengembangkan Peta Hijau untuk menghubungkan komunitas sekitar dengan tindakan positif terhadap perubahan iklim di lingkungan mereka.
“Kami mengusulkan sebuah solusi yang mencakup penciptaan ruang hijau multifungsi, inisiatif pengelolaan sampah, dan area bermain yang aman untuk anak-anak. Kami berkolaborasi dengan komunitas setempat untuk menciptakan instalasi seni publik di lokasi-lokasi penting di Kampung Kota. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan komunitas dan meningkatkan kesadaran tentang isu lingkungan di kalangan warga,” terang Thomas.



Selama empat bulan, ketiga mahasiswa asal Belanda tersebut bersama URDC FT UNS mengupayakan perbaikan lingkungan dan komunitas di Surakarta melalui berbagai pendekatan. Ketiganya berharap dari project yang telah dirancang dapat berjalan dengan lebih optimal kedepannya, tentunya dengan dukungan berbagai stakeholder.
“Magang saya di Laboratorium URDC dan UNS adalah perjalanan yang tak terlupakan. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan untuk bekerja dekat dengan petani dan komunitas lokal. Acara di Mojogedang, terutama diskusi dengan petani, memberikan wawasan penting untuk penelitian saya. Saya juga memperoleh keterampilan baru, seperti menulis artikel tinjauan dan menggabungkan solusi modern dengan praktik tradisional. Semoga proyek yang kita inisiasi dapat diimplementasikan dan para petani dapat teredukasi, serta semoga pemerintah turut memberikan perhatian lebih,” kata Pleun.
Thomas turut menyampaikan bahwa pengalaman magang bersama URDC UNS ini mengajarkannya bagaimana kolaborasi antar kalangan dapat menghasilkan solusi yang inovatif dan berdampak jangka panjang. Ia juga menilai bahwa budaya Surakarta dan ketahanan komunitasnya telah menginspirasi untuk terus menciptakan solusi inovatif yang memprioritaskan masyarakat dan lingkungan. Dirinya berharap agar pemerintah memberikan lebih banyak perhatian terhadap keberlanjutan hidup masyarakat, khususnya di Kampung Kota.
Neils mengaku sangat berterima kasih kepada Dr. Eng. Kusumaningdyah Nurul Handayani, S.T., M.T. atas bimbingan dan dukungannya selama proses magang di URDC FT UNS ini. “Bekerja dengan masyarakat dan pemangku kepentingan, serta menulis artikel, telah menjadi pengalaman yang tak ternilai. Perjalanan ini benar-benar merupakan kesempatan yang mengubah hidup saya. Saya berharap keselarasan antara lingkungan dan masyarakat dapat tercipta lebih kuat setelah keberjalanan program ini. Saya menunggu kesempatan untuk dapat kembali ke Indonesia di masa depan,” ungkapnya.
Kolaborasi antara URDC dan ketiga mahasiswa Belanda tersebut bertujuan untuk pengambilan langkah dalam mengurangi dampak perubahan iklim, serta meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana yang terkait, serta upaya perlindungan, pemulihan, dan pengelolaan secara berkelanjutan ekosistem darat, termasuk hutan, padang rumput, dan tanah. Hal tersebut merupakan pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) ke -“Tindakan terhadap Perubahan Iklim” dan SDGs ke 15 “Kehidupan di Darat”.
HUMAS UNS



















