Tim Medis UNS Layani Ribuan Korban Longsor Bogor

UNS – Tim medis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang pertama kali diberangkatkan ke lokasi terdampak bencana longsor di Desa Sipayung, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor telah tiba kembali di Solo pada Minggu (19/1/2020). Menurut keterangan dr. Husam, salah seorang dokter tim, tim medis gelombang I ini telah melayani lebih dari seribu pasien korban longsor di posko utama Sipayung.

“Sejak hari pertama, dari jam 5 sore sampai 10 malam sudah ada 60 pasien. Jumlah ini pun terus meningkat menjadi 150 per hari, 160 per hari, 250 per hari, 269 per hari, hingga totalnya seribuan. Rata-rata pasien di sana itu anak-anak, Balita, dan orang tua dengan usia lebih dari 60 tahun,” ujarnya.

Awalnya, lanjut dr. Husam, tim tidak mengira posko utama justru akan didatangi pasien dalam jumlah besar. Oleh karena itu, tim pun menyiapkan dua alternatif, yakni posko dan sistem keliling atau mobile.

Panji Kuncoro, Search And Rescue (SAR) UNS, mengatakan bahwa warga menyambut baik dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh tim medis UNS. Hal itu diketahuinya ketika berbincang dengan para warga yang usai berobat.

“Mereka senang dan merasa cocok dengan dokternya maupun obat yang diberikan. Pelayanannya juga sangat ramah,” ujar Panji.

Selain di posko utama Sipayung, tim medis UNS pun mengirimkan dua anggota ke posko rujukan di Desa Cileuksa, yakni dr. Solechin Prasetyo dan Catur dari SAR UNS. Cileuksa merupakan salah satu lokasi terdampak paling parah dan memiliki akses sulit yang dihuni oleh 4000an pengungsi. Hal ini sesuai dengan kesepakatan awal tim UNS yang memang menyasar daerah tersulit.

Meskipun sudah ada beberapa relawan dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala)
Vagus FK UNS dan dokter umum di sana, tapi mereka belum berani mengambil tindakan medis secara mendalam. Akibatnya, beberapa pasien dengan diagnosis penyakit yang tidak terlalu parah, dirujuk untuk dievakuasi secara terburu-buru.

“Ketika tim medis UNS datang, setidaknya ada pengkaji secara keilmuan yang lebih mumpuni. Mereka pun lebih berani untuk mengambil tindakan medis di tempat. Hal ini tentu mengurangi tindakan evakuasi yang memakan dana cukup banyak,” ujar dr. Solechin

Salah satu hal mengkhawatirkan di Cileuksa adalah wabah penyakit kulit yang salah satunya tersebar dari penggunaan air. Sebab ada beberapa pemukiman yang terletak di atas pemukiman yang lain. Otomatis, aliran air dari atas yang sudah terjangkit penyakit kulit akan terbawa ke pemukiman di bawahnya.

Untuk itu dalam pengiriman tim medis gelombang II, UNS memberangkatkan 1 dokter penyakit dalam, 1 dokter dokter paru, 1 psikiatri, 1 dokter penyakit kulit, 1 dokter umum dan 2 Mapala Vagus Fakultas Kedokteran (FK) UNS.

“Penyakit yang timbul itu seperti demam, ISPA, kulit, pneumonia, penyakit dalam, dan kecemasan. Bahkan anak-anak di sana ketika hujan tutup telinga, tidak mau tidur di dalam rumah. Jadi kami sarankan untuk mengirim psikiatri,” ujar dr. Husam.

Pada penerjunan tim medis gelombang II ini, UNS semakin memperluas jalinan kerjasama sehingga mempermudah pekerjaan tim. Yakni dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan Bogor, Kodim, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Prof. Kuncoro selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS mengucapkan syukur karena kehadiran tim UNS berarti dan dapat meringankan beban para korban.
“Ke depannya kami berencana untuk memberikan apresiasi kepada teman-teman yang telah berkontribusi dalam misi ini,” pungkas Prof. Kuncoro. Humas UNS/Kaffa