UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kembali menggelar kuliah umum. Kuliah umum ini digelar di Ballroom Gedung Ki Hadjar Dewantara Tower UNS pada Selasa (11/2/2025). Acara ini mengusung tajuk pembahasan “Outlook Ekonomi dan Keuangan 2025”.
Acara ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. dr. Hartono, M.Si., selaku Rektor UNS; Purbaya Yudhi Sadewa, Ph.D. selaku Ketua Dewan Komisioner LPS; Herman Saheruddin, Ph.D. selaku Kepala Kantor Persiapan PRP dan Hubungan Lembaga LPS; dan Kepala dan para peneliti di Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Center for Fintech and Banking UNS.
Prof. Dr. dr. Hartono, M.Si. membuka kegiatan seminar yang berlangsung pada siang hari. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa UNS sudah bekerja sama dengan LPS di berbagai aspek. Dan ini juga sebagai bukti nyata sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri. Beliau berpandangan adanya seminar ini sangat penting. Ini dikarenakan dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan yang komprehensif kepada mahasiswa mengenai proyeksi terkait dengan ekonomi dan sektor keuangan pada 2025.
“Terima Kasih kepada LPS yang telah bekerja sama dengan UNS lebih dari 10 tahun dalam banyak aspek. Meliputi pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, penyaluran beasiswa, sosialisasi program dan lain-lain. Kerja sama LPS-UNS yang telah terjalin lebih dari 10 tahun merupakan contoh nyata bagaimana sinergi antara dunia kampus dengan dunia industri. Kami berharap kuliah umum ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif terutama kepada adik-adik mahasiswa mengenai proyeksi ekonomi dan sektor keuangan dalam satu tahun ke depan,” tutur Prof. Hartono.
Kuliah Umum
Purbaya Yudhi Sadewa dalam kuliah umumnya memaparkan mengenai Inflasi umum di negara-negara besar telah mencatat trend yang menurun menuju target bank sentral. Namun di bulan Desember 2024, inflasi terlihat kembali mengalami kenaikan seperti yang dialami oleh AS, Uni-eropa, dan Jepang yang disebabkan oleh naiknya harga energi dan makanan. Sementara itu, deflasi bulanan membawa inflasi Tiongkok terus menurun. Belia juga menyampaikan agar ekonomi tumbuh lebih cepat, diperlukan tidak hanya capital dan labor, namun juga human capital, teknologi, dan new ideas (Inovasi)



“Pasca Kembali terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dengan beberapa negara lain kembali memanas dan berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global. Tetapi kabar baiknya adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global. Meskipun begitu, konsumsi masyarakat dan investasi swasta masih perlu didorong,” ujar Purbaya.
Ratusan mahasiswa turut menghadiri acara kuliah umum ini. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai doorprize seperti e-money, 3 smartphone, dengan hadiah utama 1 buah tablet. Purbaya melempar pertanyaan kepada audiens untuk mendapatkan doorprize utama tersebut. Pada akhir acara juga diadakan kuis secara realtime untuk memperebutkan hadiah e-money.
Humas UNS
Reporter: Dikky Yudi Pradana
Redaktur: Dwi Hastuti



















