UNS Menggelar FGD Manajemen Risiko pada Perguruan Tinggi

UNS Menggelar FGD Manajemen Risiko pada Perguruan Tinggi
UNS Menggelar FGD Manajemen Risiko pada Perguruan Tinggi

UNS – Sekretaris Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penerapan Manajemen Risiko pada Perguruan Tinggi. Acara berlangsung secara luring di UNS Inn, Jumat (10/1/2025) siang. Prof. Wimboh Santoso, M.Sc., Ph.D., menjadi narasumber utama dalam acara ini.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc,.Ph.D., hadir dan membuka FGD ini. Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dan kebutuhan perguruan tinggi saat ini. Dinamika pendidikan tinggi menuntut untuk mampu mengelola berbagai tantangan dan risiko dengan baik.

“Sebagaimana kita ketahui, perguruan tinggi tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Dalam menjalankan fungsi tersebut, kita menghadapi berbagai risiko, baik dari sisi operasional, strategis, keuangan, maupun tata kelola. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko yang terintegrasi menjadi suatu keharusan untuk memastikan keberlanjutan dan akuntabilitas institusi,” tutur Prof. Irwan.

Manajemen risiko pada perguruan tinggi dapat dimulai dengan melakukan sejumlah langkah. Prof. Wimboh dalam paparan materinya merekomendasikan penyesuaian struktur organisasi untuk menyertakan bidang yang mengurus manajemen risiko secara terpisah. Sejumlah kebijakan manajemen risiko perlu ditetapkan untuk mengikat setiap unit dalam perguruan tinggi.

Penetapan kerangka waktu dan prioritas tertentu diperlukan dalam proses implementasi manajemen risiko. Penentuan potensi risiko yang mungkin muncul di UNS perlu dilakukan untuk merumuskan cara meminimalkan atau memitigasi kemungkinan terjadinya suatu permasalahan. Semua hal tersebut kemudian dapat dijadikan sebagai sebuah pedoman manajemen risiko yang mengikat seluruh bagian organisasi di UNS.

“Sertakan proses manajemen risiko dalam berbagai hal untuk mengetahui risiko potensial yang dapat diserap UNS. Kemudian tentukan bagaimana upaya mitigasi terjadinya hal tersebut,” terang Prof. Wimboh.

Manajemen risiko yang baik dalam sebuah organisasi memerlukan sebuah ekosistem yang mendukung keberhasilan di dalamnya. Beberapa hal yang diperlukan adalah organisasi yang mencerminkan tata kelola dan mekanisme pengendalian umum di bidang keuangan kepatuhan, dan manajemen proyek; standar tata kelola yang ditetapkan oleh pemangku kebijakan; kebijakan manajemen risiko dan pedoman manajemen risiko; kode etik dan perilaku serta adanya komite etik; komite manajemen risiko; dan juga teknologi informasi.
Humas UNS

Reporter: R.P. Adji

Redaktur: Dwi Hastuti