Wabah dan Penyakit dalam Perspektif Naskah Kuna

Dengarkan artikel

UNS-Grup Riset Filologi Melayu Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan webinar tentang penyakit dan wabah dalam perspektif naskah kuna. Kegiatan tersebut berlangsung secara daring pada Sabtu-Minggu (29-30/8/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran langsung kanal Youtube yang diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Webinar tersebut menghadirkan 6 pembicara utama yaitu Prof. Oman Fathurahman, Prof. Istadiyantha, Prof. Bani Sudardi, Dr. Munawar Holil, Totok Yasmiran, dan Prof. Madya Awang Azman Awang Pawi.

Prof. Madya Awang Azman Awang Pawi yang merupakan dosen di Akademi Pengajian Melayu (APM) University of Malaya, Malaysia membawakan materi tentang merawat akal budi ditinjau dari perspektif Syair Ikan.

“Asas pegangan agama yang kukuh merupakan faktor utama dalam merawat akal budi masyarakat. Hal ini karena masyarakat yang mempunyai keimanan, keyakinan, dan kepercayaan terhadap kekuasaan Allah SWT akan menjadi benteng agar tidak terjerumus dengan tipu daya dunia. Berdasarkan petikan Syair Ikan, penyair menyampaikan beberapa pesan kepada masyarakat untuk merawat akal budi,” jelasnya.

Dalam Syair Ikan, penyair menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan perubahan dalam hidup yakni mengubah perilaku negatif menjadi perilaku positif. Dalam hal ini, masyarakat perlu meninggalkan larangan Allah SWT serta melakukan perintah-Nya.

Sementara itu, pembicara kedua yakni Prof. Oman Fathurahman, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah menyampaikan bahwa siklus wabah selalu membentuk kebudayaan baru. Hal tersebut banyak tersurat pada catatan maupun manuskrip nusantara pada masa lampau.
“Hal ini karena bangkitnya gairah keilmuan dan riset di bidang medis khususnya terkait penyakit atau wabah. Selain itu, lahir penafsiran keagamaan yang menekankan keseimbangan iman dan akal. Jadi wabah dapat melahirkan huruf, aksara, dan karya,” terang Prof. Oman.

Selanjutnya, pemateri ketiga yakni Prof. Bani Sudardi, Guru Besar FIB UNS menyampaikan materi tentang batik dan kesehatan. Ia menerangkan bahwa batik dapat mempengaruhi kesehatan manusia serta dapat pula mendatangkan bahaya. Hal tersebut dapat dilihat pada teks-teks lama yang berkaitan dengan batik.

Pembicara berikutnya yaitu Prof. Istadiyantha, Guru Besar FIB UNS membawakan materi mengenai pengobatan Islami.
“Pengobatan secara Islami merupakan praktik perawatan dan penanganan kesehatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. yang biasa disebut Thibbun-nabawi. Hal tersebut didasarkan pada Al-Quran dan Hadis serta praktik kehidupan Rasulullah SAW,” jelas Prof. Istadiyantha.

Dalam Islam, terdapat banyak pedoman yang mengatur tentang kesehatan, salah satunya pada Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 168 tentang asupan makanan yang berkualitas. Selain itu juga dalam Islam dianjurkan untuk minum sambil duduk, tidak meniup makanan dan minuman, hingga menjaga kebersihan.

Sementara itu, pembicara berikutnya yaitu Totok Yasmiran dari Museum Radya Pustaka memaparkan materi tentang kondisi naskah di Museum Radya Pustaka. Totok menyampaikan bahwa saat ini pihak museum terus melakukan upaya penyelamatan bahan pustaka baik yang usianya sudah tua maupun muda. Upaya yang dilakukan antara lain menyediakan naskah kuna dan buku-buku terbitan lama, kemudian dilakukan transliterasi naskah serta penerjemahan.

Materi terakhir yang disampaikan oleh Dr. Munawar Holil, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) membahas tentang penyakit kolera dalam naskah Wawasan Piwulang Panulak Panyakit Kolera (WPPPK). Dalam naskah tersebut, terdapat anjuran untuk tetap di rumah saat terjadi wabah, Dr. Munawar kemudian menyampaikan kutipan dari naskah WPPPK.
Malah agama marentah, wajib keur ngaraksa diri, naon nu jadi malarat, ulah pisan wani-wani, lamun aya panyakit, nu sanget di hiji lembur, ulah nyaba ka dinya, ti dinya teu meunang nyingkir, cocog pisan reujeung aturan nagara. Artinya, malah agama memerintahkan wajib untuk menjaga diri, apa yang membuat sengsara, jangan sekali-kali berani, kalau ada penyakit, yang berbahaya di sebuah kampung, jangan berkunjung ke sana, dari sana tidak boleh pergi, sesuai dengan aturan negara,” terang Munawar.

Dalam naskah tersebut, terdapat banyak informasi tentang protokol penanganan kolera yang beberapa di antaranya relevan dengan Covid-19. Melalui webinar ini, diharapkan seluruh masyarakat mampu memahami bahwa pada zaman lampau banyak manuskrip yang mengkaji mengenai wabah dan penyakit. Hal ini merupakan khazanah kekayaan Nusantara yang perlu dilestarikan dan digali lagi. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti