UNS – Wakil Dekan Bidang Non Akademik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Fahru Nurosyid, S.Si., M.Si. dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Keilmuan Fisika Material Sel Surya Organik. Pada Sidang Terbuka Senat Akademik UNS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Senin (10/2/2025), beliau menyampaikan pidato inaugurasi berjudul “Pengembangan Material Alam dalam Inovasi Sel Surya sebagai Energi yang Rendah Karbon”. Prof. Fahru dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-35 pada FMIPA dan ke-336 di UNS.
Prof Fahru menyampaikan bahwa teknologi fotovoltaik dapat mengkonversi energi surya menjadi energi listrik, menggunakan sel surya. Dye Sensitized solar Cell (DSSC) yaitu sel surya generasi ketiga yang terdiri dari perangkat fotoelektrokimia menyerap cahaya dari matahari dengan dye atau pewarna dan mengubahnya menjadi energi listrik. Salah satu komponen DSSC yang berperan penting adalah dye sensitizer. Dye sensitizer berfungsi untuk penyerapan energi foton matahari pada skala molekular kemudian tereksitasi menjadi eksiton. Dalam aplikasi DSSC, dye yang umum digunakan berupa dye sintesis dan dye alami. Dye sintesis mempunyai efisiensi yang tinggi sekitar 11 hingga 12 persen, namun fabrikasinya membutuhkan biaya yang mahal.
“Oleh karena itu, para peneliti berusaha mencari dye alternatif pengganti dye sintesis, yaitu dye alami. Dye alami didapat dari ekstrak tumbuhan seperti daun, buah dan bunga, yang mengandung zat warna (pigmen) di dalamnya. Pigmen-pigmen tumbuhan yang digunakan dalam penelitian DSSC dye alami berupa antosianin, klorofil, karotenoid, dan lain-lain. Dye alami memiliki banyak keunggulan, yaitu bahan mudah didapat dan banyak tersedia di alam, banyak variasi warna pigmen, harganya murah, teknik preparasi sederhana, serta ramah lingkungan,” tuturnya.
Tim penelitian Prof. Fahru melakukan modifikasi dye alami dengan meningkatkan lebar panjang gelombang serapan dengan menggabungkan dua atau lebih dye. Dari perlakuan tersebut didapati nilai efisiensi DSSC dengan dye campuran klorofil dari bayam-antosianin dari bunga mawar meningkat secara signifikan. Dye klorofil murni sebesar 0,117 persen dan antosianin murni sebesar 0,11 persen menjadi 0,58 persen atau 4 kalinya.
“Penelitian lanjutan DSSC menggunakan dye campuran Anthocyanin dari kulit buah naga, Betalain dari bunga bogenvil, and Chlorophyll daun singkong didapati efisiensi DSSC naik 300 persen dari dye tunggal. Penambahan Logam Ag pada penggabungan dye alami Antosianin ekstrak kulit buah naga, betalain ekstrak bunga bougenville dan ditambahkan dye klorofil daun singkong menjadi 1.7 persen yang atau 5 kali dari dye tunggal. Modifikasi tersebut terbukti dapat menghasilkan sel surya yang murah dengan efisiensi tinggi dan rendah karbon,” ungkap Prof. Fahru.
Pidato dan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Fahru mendukung ketercapaian SDGs nomor ke-7 “Energi Bersih dan Terjangkau” dan nomor 9 “Industri, Inovasi, dan Infrastruktur”. Riset dalam sel surya organik bertujuan untuk menyediakan solusi energi bersih, terjangkau, dan berkelanjutan. Riset tersebut mendukung inovasi dalam teknologi material, termasuk pengembangan sel surya organik, mendukung perkembangan teknologi yang berlanjutan.
HUMAS UNS



















