Kenal Alumnus UNS, Ratih Kumala: Disiplin dan Konsisten adalah Kunci

Kenal Alumnus UNS, Ratih Kumala: Disiplin dan Konsisten adalah Kunci

UNS – Salah satu alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menorehkan prestasinya di dunia sastra dan penulisan. Ia adalah Ratih Kumala, alumnus Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS angkatan 1999. Ia bukan hanya seorang penulis produktif, tetapi juga sosok inspiratif yang membuktikan bahwa passion dan ketekunan bisa membawa seseorang melangkah jauh.

Disiplin dan Konsisten adalah Kunci Keberhasilan

Ratih Kumala, sastrawan Indonesia yang dikenal lewat novel berjudul ‘Tabula Rasa’ dan Gadis Kretek’ melakukan bincang hangat dengan uns.ac.id, Senin (21/4/2025). Dalam kesempatan tersebut beliau berbagi cerita tentang perjalanan hidup dan kesibukannya saat ini. Tidak tanggung-tanggung, Alumnus FIB UNS tersebut tengah mengerjakan sejumlah proyek besar sekaligus.

“Aku lagi nulis beberapa proyek. Ada dua skenario film yang sedang kukerjakan, satu novel yang Insyaallah terbit tahun ini, dan satu buku nonfiksi tentang penulisan yang semoga selesai tahun depan,” ungkapnya penuh semangat.

Kendati sedang mengerjakan berbagai proyek sastra dengan genre yang berbeda-beda, Ratih mengakui bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk berpindah-pindah fokus antara satu proyek ke proyek lainnya. “Aku mungkin sudah terbiasa, atau mungkin karena sudah lama di dunia kepenulisan, jadi otakku bisa switch dengan cepat,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa dirinya bukan merupakan penulis yang takut kekurangan ide. “Aku merasa kalau yang namanya inspirasi bisa datang dari mana saja, yang harus aku takutkan adalah apakah aku punya waktu untuk merealisasikan ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Makanya menjadi penulis itu harus pintar pick and choose, memilih mana ide yang pantas kamu kembangkan, apakah ide yang kamu punya itu worth your time, money and effort. Kamu harus jadi kurator untuk ide kamu sendiri,” terangnya.

Sebagai sastrawan senior, Alumnus FIB UNS tersebut percaya bahwa kunci sukses menjadi penulis adalah disiplin dan konsistensi, meskipun tantangannya tidak ringan, terutama di Indonesia. “Untuk teman-teman yang mau terjun di dunia kepenulisan, kuncinya cuma dua, yaitu disiplin dan konsisten, walaupun terdengar klise tapi memang itu yang perlu dimiliki. Pada kenyataannya orang yang bergelut di dunia kepenulisan itu tidak bisa jika hanya menulis satu hal atau bidang saja, misal aku menulis novel saja terus aku hidup dari itu. Kita harus mengakui hidup dari menulis itu sulit di Indonesia. Banyak penulis yang harus punya pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi itu sah-sah saja, asalkan kamu tetap konsisten menulis,” pesannya penuh ketulusan.

Perjalanan di Bidang Sastra

Sebelum sebesar sekarang, Ratih memulai perjalanan di dunia sastra sejak bangku perkuliahan. Dirinya bergabung dengan komunitas Rumah Baca Bumi Manusia, yang juga merupakan komunitas yang digagas mahasiswa UNS. Lingkungan komunitas tersebut yang akhirnya sangat berpengaruh dalam membentuk kecintaannya terhadap sastra.

“Awalnya aku hanya hobi menulis. Tapi berkat dorongan teman-teman komunitas, aku mulai serius. Berangkat dari cerpen ke novel, lalu ikut lomba, sayembara gitu. Salah satu momen penting adalah ketika novel pertamaku, Tabula Rasa, menang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Itu pengalaman yang sangat berkesan,” kata Ratih penuh nostalgia.

Kemenangan itu menjadi batu loncatan besar dalam karir Ratih. Karyanya yang akhirnya dibaca oleh sastrawan senior seperti Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana dan Budi Darma melalui sayembara yang diikuti memberikan validasi penting bagi karier awal Ratih.

“Aku ikut lomba tersebut dengan harapan tulisanku bisa dibaca oleh penulis yang lebih senior. Saat itu ada Bapak Sapardi Djoko Damono almarhum, Bapak Budi Darma almarhum, dan ada juga Bapak Maman S. Mahayana yang menjadi juri. Mereka membaca tulisanku dan memenangkannya, saat itu aku senang sekali. Dalam sayembara tahun itu, menariknya kebanyakan juaranya adalah perempuan. Pak Sapardi bahkan sempat bilang bahwa masa depan sastra Indonesia ada di tangan perempuan,” kenangnya.

Pernyataan itu menguatkan tekad Ratih untuk terus maju, meskipun saat itu dirinya dan rekan-rekannya sempat menghadapi stereotip “sastrawangi,” sebuah label yang diberikan kepada sastrawan perempuan oleh penulis laki-laki.

Terus Mendalami Dunia Kepenulisan

Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Sastrawan Indonesia tersebut memberikan pesan kepada para perempuan zaman ini agar berani untuk mengejar apa yang dicita-citakan.

“Perempuan sekarang sudah bisa melakukan apapun yang mereka impikan dan dapat jauh lebih vokal dalam berpendapat. Manfaatkan kesempatan ini sebesar-besarnya, karena zaman ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan apapun yang kalian mau. Mungkin kalau 20 atau 30 tahun lalu, perempuan berdesak-desakan untuk meraih apa yang mereka inginkan, karena sudah terbuka dengan lebar, manfaatkan, ya,” pesan Ratih.

Kini, Ratih juga menjabat sebagai anggota Dewan Promosi Sastra di Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Dalam peran ini, dirinya bersama tim berupaya membawa karya sastra Indonesia ke kancah internasional. “Kami sedang mempersiapkan partisipasi di Abu Dhabi International Book Fair, salah satu upaya untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia,” ujarnya.

Menurut Ratih, promosi sastra bisa dikembangkan melalui berbagai hal. Mulai dari menerjemahkan karya hingga menjembatani penulis lokal dengan audiens global. “Sastra adalah bagian dari budaya kita. Ini pintu untuk mengenalkan siapa kita kepada dunia,” tambahnya.

Sebagai alumnus UNS, Ratih merasa bersyukur atas perjalanan hidupnya. “Aku masuk UNS Sastra Inggris awalnya bukan karena sastranya, tapi karena suka bahasa Inggris. Rumahku di Solo, jadi UNS adalah pilihan yang pas,” katanya.

Meski awalnya tidak langsung menyukai sastra, perjalanan di UNS dan lingkungannya telah membuka jalan menuju dunia yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. “Untuk teman-teman alumni, apapun profesi yang kalian pilih, bawalah nama UNS ke tempat yang lebih tinggi. Jangan lupa bawa almamater kita ke jenjang yang lebih harum,” pesannya.

Ratih Kumala adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, kreativitas, dan ketekunan, seorang individu dapat mencapai hal-hal luar biasa. Ia tidak hanya menjadi kebanggaan UNS, tetapi juga inspirasi bagi para penulis dan sastrawan muda di seluruh Indonesia.

HUMAS UNS