Riset Mahasiswa FISIP UNS Kupas Persepsi Lintas Generasi Terhadap Stereotipe Gen Z

Riset Mahasiswa FISIP UNS Kupas Persepsi Lintas Generasi Terhadap Stereotipe Gen Z

UNSUnit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset Censor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan sebuah penelitian persepsi lintas generasi terhadap Generasi Z. Fenomena stereotipe negatif terhadap generasi ini menjadi topik yang semakin sering diperbincangkan, baik di media massa maupun media sosial. Mereka kerap dilabeli sebagai generasi malas, manja, dan kurang disiplin. Sejalan dengan istilah Generasi Stroberi yang populer di beberapa negara Asia, generasi ini terlihat menarik dan cerdas tetapi rapuh dalam menghadapi tekanan.

Kepala Divisi Riset Censor, Lia Dwi Lestari dari Prorgam Studi (Prodi) Sosiologi menjelaskan bahwa riset ini bertujuan mengungkap bagaimana generasi yang lebih senior memaknai keberadaan Gen Z dalam dunia akademik maupun keseharian.

“Kami juga ingin melihat seberapa besar pengaruh media dalam membentuk stereotipe yang melekat pada Gen Z. Ini penting agar kami bisa memahami konteks stereotipe tersebut secara lebih utuh,” ujar Lia.

Penelitian yang dipimpin oleh Aubry Fairuza Akifa Prabowo, Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap berbagai kelompok di lingkungan FISIP UNS, mulai dari satpam, petugas parkir, petugas kantin, petugas kebersihan, akademisi, hingga tenaga kependidikan.

Hasil awal riset menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman antar generasi. Beberapa informan dari generasi Baby Boomers, Generasi X, hingga Milenial menganggap Gen Z lebih individualistis dan terlalu bergantung pada teknologi. Selain itu, mereka menilai Gen Z kurang memiliki etos kerja yang kuat jika dibandingkan generasi sebelumnya. Salah satu ciri yang kerap dikaitkan dengan Generasi Stroberi ini adalah kecenderungan menghindari tekanan dan tantangan, khususnya di dunia kerja dan akademik.

Sejumlah akademisi juga mencatat bahwa Gen Z lebih menuntut fleksibilitas dalam belajar dan bekerja, yang belum sepenuhnya diakomodasi oleh sistem yang ada. Gaya hidup instan dan cepat yang diadopsi oleh Gen Z dinilai turut memperkuat stereotip tersebut. Beberapa informan menyoroti pola konsumsi Gen Z yang lebih tinggi dan berorientasi pada kepuasan jangka pendek.

Meski demikian, tidak semua penilaian bersifat negatif. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP UNS, Rino Ardhian Nugroho, S.Sos., M.T.I., Ph.D., menegaskan bahwa Gen Z justru memiliki banyak potensi unggul.

“Gen Z memiliki keberanian, suka tantangan, serta berpegang pada nilai-nilai yang mereka yakini. Meskipun ada perbedaan karakter, mereka tetap bisa beradaptasi dan berkembang di berbagai bidang,” ungkapnya.

Selain soal karakter, perbedaan gaya komunikasi juga menjadi perhatian. Banyak istilah dan singkatan yang digunakan Gen Z dalam percakapan sehari-hari kerap menyulitkan komunikasi lintas generasi. Beberapa petugas parkir di FISIP UNS juga menyebutkan bahwa tata krama dan etika komunikasi Gen Z perlu terus ditingkatkan. Namun, para informan sepakat bahwa adaptasi dan kolaborasi lintas generasi tetap dapat terwujud. Dengan kemampuan Gen Z dalam teknologi digital, mereka berpotensi menjadi aset penting di bidang akademik maupun profesional.

Sebagai tindak lanjut riset, Censor akan menggelar Seminar Censorfest 10.0 pada Sabtu (26/4/2025) mendatang. Seminar yang bertajuk “Stereotype Smashers: How Gen Z Confronts Stereotypes of the Strawberry Generation” ini akan membahas hasil riset sekaligus menjadi ruang diskusi lintas generasi. Diharapkan, kegiatan ini mampu membuka dialog yang lebih konstruktif antar generasi dan menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan saling mendukung.

Humas UNS