Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Prof. Rachmat Pambudy, menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-50 UNS pada Rabu (11/3/2026). Ia menekankan pentingnya kualitas riset, inovasi, dan kolaborasi pentahelix untuk pembangunan nasional, serta menyoroti potensi riset herbal tropis UNS.
UNS — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas RI), Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS, Rabu (11/3/2026).
Dalam orasinya, Prof. Rachmat menyampaikan bahwa kedatangannya ke UNS bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga karena adanya kedekatan emosional yang telah terjalin sejak lama.
“Apabila UNS memanggil saya, sesungguhnya saya bukan hanya merasa dipanggil, tetapi juga merasa terpanggil untuk hadir. Hubungan saya dengan UNS sudah terjalin cukup lama. Lima belas tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih, saya beberapa kali datang ke kampus ini,” terang Prof. Rachmat.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada UNS yang tahun ini genap berusia setengah abad. Menurutnya, perjalanan 50 tahun merupakan tonggak penting dalam sejarah sebuah perguruan tinggi.
“Lima puluh tahun bukan sekadar penanda usia institusi, melainkan cerminan konsistensi UNS dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, jiwa sosial, serta semangat kemandirian dalam berkarya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rachmat menegaskan bahwa pendidikan tinggi saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai institusi akademik, tetapi telah menjadi pilar peradaban sekaligus penentu arah masa depan bangsa.
Ia mengapresiasi meningkatnya jumlah perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam pemeringkatan global, baik dalam QS World University Rankings maupun Times Higher Education Impact Rankings. Meski demikian, ia menilai kualitas dan dampak riset nasional masih perlu terus diperkuat.
“Produktivitas publikasi Indonesia secara kuantitatif sudah cukup tinggi. Namun kualitas sitasi dan dampak ilmiahnya masih perlu ditingkatkan. Orientasi kebijakan riset nasional tidak cukup hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga pada kualitas, relevansi, dan dampak nyata bagi pembangunan nasional,” tegasnya.


Lebih lanjut, ia menekankan bahwa di tengah disrupsi global yang semakin cepat, pendidikan tinggi tidak dapat lagi berjalan dengan pola lama. Riset harus mampu menghadirkan solusi konkret bagi berbagai persoalan strategis bangsa seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, kemiskinan, dan ketimpangan sosial.
Menurutnya, berbagai inovasi yang dihasilkan UNS melalui laboratorium, pusat riset, hingga rumah sakit pendidikan telah menunjukkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Universitas yang memberikan dampak nyata bagi kemaslahatan masyarakat adalah universitas masa depan,” ujarnya.
Dalam orasi tersebut, ia juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan riset herbal tropis. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar, termasuk ribuan spesies tanaman obat yang berpotensi menjadi basis industri kesehatan berbasis alam.
“Pengembangan riset herbal, biofarmaka, dan fitofarmaka memiliki posisi strategis dalam kebijakan pembangunan nasional. Potensi ini tidak hanya penting bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi besar melalui proses hilirisasi dan industrialisasi,” jelasnya.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem riset herbal tropis yang dimulai dari pemanfaatan sumber daya alam, penelitian bahan alam, hingga menghasilkan produk fitofarmaka yang teruji secara ilmiah, aman, dan efektif. Dalam hal ini, UNS dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor pengembangan herbal tropis di tingkat global.
Di akhir orasinya, Prof. Rachmat menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa dalam mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Ilmu pengetahuan dan inovasi memang menggerakkan kemajuan. Namun karakter dan integritaslah yang mengarahkan peradaban. Ketika keduanya berpadu, maka akan lahir bangsa yang maju dalam ilmu, kuat dalam moral, dan unggul secara bermartabat,” tuturnya.
Ia optimistis dengan kekuatan akademik, riset, serta reputasi yang dimiliki, UNS akan terus menjadi sumber ilmu dan kemanusiaan yang menerangi perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa yang menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-50 UNS?
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas RI), Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., menyampaikan orasi ilmiah. Lihat di artikel
Apa tema utama orasi ilmiah Menteri Bappenas di Dies Natalis UNS?
Orasi ilmiah membahas peran pendidikan tinggi sebagai pilar peradaban, pentingnya kualitas riset nasional, solusi strategis untuk persoalan bangsa, dan potensi riset herbal tropis. Lihat di artikel
Bagaimana Menteri Bappenas melihat peran UNS?
UNS dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor pengembangan herbal tropis global dan telah menunjukkan kontribusi nyata melalui inovasinya. Lihat di artikel
Apa yang ditekankan Menteri Bappenas di akhir orasinya?
Ia menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa dalam mendukung pembangunan nasional. Lihat di artikel



















