UNS – Pertunjukan wayang kulit yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Halaman Gedung dr. Prakosa UNS, Sabtu (13/6/2026), meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa internasional UNS. Mereka mengaku terpesona oleh keindahan seni wayang kulit, mulai dari alur cerita, iringan gamelan, hingga kepiawaian sang dalang dalam menghidupkan setiap tokoh yang ditampilkan.

Sejumlah mahasiswa internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) tampak berbaur hangat dengan masyarakat yang turut memadati area pertunjukan wayang kulit malam itu. Mereka larut dalam atmosfer magis lakon “Pandhawa Labuh” yang dibawakan dengan begitu memukau oleh dalang kondang, Ki Purbo Asmoro, S.Kar., M.Hum.

Meski dihadapkan pada sekat bahasa, para mahasiswa asing ini terlihat antusias menyaksikan setiap jengkal pergerakan tokoh wayang di balik kelir. Kehadiran mereka di tengah-tengah warga lokal tidak hanya menjadi pemandangan yang unik, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana seni tradisi mampu melampaui batas geografis dan menyatukan berbagai latar belakang budaya dalam satu ruang apresiasi.

Ditemui di sela-sela acara, mahasiswa internasional UNS asal Madagaskar, Aina Natacha Randriamalala, mengaku senang karena dapat menyaksikan secara langsung pertunjukan wayang kulit. “Saya jadi tahu seperti apa budaya Jawa. Contohnya melalui wayang kulit ini, saya jadi mengetahui apa itu wayang, kemudian berbagai unsur yang mengiringi pertunjukan wayang seperti gamelan, sinden, dan lain-lain,” ujar mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris tersebut.
Namun demikian, Aina mengaku awalnya mengalami kesulitan memahami bahasa yang digunakan dalang karena sebagian besar menggunakan Bahasa Jawa. Untuk mengatasi kendala tersebut, panitia pagelaran wayang kulit menghadirkan pendamping yang berasal dari mahasiswa Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS.
Muhammad Syaifulloh bersama sembilan rekannya dari Program Studi Sastra Daerah hadir untuk memberikan pendampingan dan penjelasan kepada sejumlah mahasiswa internasional yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

“Kami ditugaskan oleh panitia untuk memfasilitasi mahasiswa internasional yang mengalami kesulitan memahami cerita yang disampaikan dalang selama pagelaran wayang kulit berlangsung,” jelas Muhammad Syaifulloh.
Selain memberikan penjelasan dialog yang disampaikan dalang, Muhammad Syaifulloh dan rekan-rekannya juga menjelaskan lakon Pandhawa Labuh yang diangkat dalam pertunjukan tersebut.
“Kami senang melihat antusiasme mahasiswa internasional dalam menyaksikan pertunjukan ini, bahkan hingga dini hari. Kami berupaya memberikan pengalaman terbaik agar mereka dapat memahami cerita dan pesan yang disampaikan dalam pagelaran wayang kulit,” imbuhnya.
Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa Program Studi Sastra Daerah tersebut, Aina bersama mahasiswa internasional lainnya mengaku sangat terbantu dalam menikmati jalannya pertunjukan.

Sementara itu, mahasiswa internasional UNS asal Nigeria, Anwar Ashiru Danburji, mengungkapkan bahwa ini merupakan kali kedua dirinya menyaksikan pertunjukan wayang kulit. “Saya pernah menonton pagelaran wayang kulit saat Dies Natalis ke-49 UNS. Pada Dies Natalis ke-50 ini saya kembali berkesempatan menyaksikan pertunjukan wayang kulit,” ujar Anwar.
Mahasiswa dari Fakultas Hukum (FH) angkatan 2023 tersebut mengaku semakin mengenal budaya Jawa melalui seni pertunjukan wayang kulit. “Saya jadi mengetahui apa itu wayang, bagaimana cara memainkannya, dan cerita yang disampaikan juga memiliki makna yang sangat mendalam,” tuturnya.

Anwar menambahkan bahwa dirinya juga mendapatkan bantuan dari mahasiswa UNS yang mendampingi mahasiswa internasional selama acara berlangsung. Melalui pendampingan tersebut, ia dapat memahami arti dan pesan yang disampaikan dalang dalam setiap adegan pertunjukan

Pagelaran wayang kulit dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga menjadi media pengenalan budaya Jawa ke ranah global khususnya kepada mahasiswa internasional. Ini merupakan bentuk komitmen dan mandat UNS melaluii visinya “Menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang unggul di tingkat internasional dengan berlandaskan pada nilai luhur budaya nasional”.
HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa dalang yang tampil pada pagelaran wayang kulit Dies Natalis ke-50 UNS?
Pertunjukan wayang kulit dibawakan oleh dalang Ki Purbo Asmoro, S.Kar., M.Hum. Lihat di artikel
Bagaimana mahasiswa internasional memahami pagelaran wayang kulit UNS?
Mahasiswa Sastra Daerah UNS mendampingi dan memberikan penjelasan mengenai bahasa dan cerita wayang kulit kepada mahasiswa internasional. Lihat di artikel
Apa yang membuat mahasiswa internasional terpesona oleh wayang kulit di UNS?
Mereka terpesona oleh keindahan seni wayang kulit, mulai dari alur cerita, iringan gamelan, hingga kepiawaian sang dalang. Lihat di artikel
Kapan dan di mana pagelaran wayang kulit Dies Natalis ke-50 UNS digelar?
Pagelaran wayang kulit digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Halaman Gedung dr. Prakosa UNS. Lihat di artikel


















