UNS – Hari kedua The 16th International Conference of Eastern Asia Society for Transportation Studies (EASTS) 2025 menyoroti sejumlah topik penting dalam dunia transportasi. Konferensi ini menghadirkan pembicara internasional yang membahas transportasi berkelanjutan berbasis kearifan lokal dan teknologi hijau.
High Level Session pada hari kedua The 16th International Conference of EASTS 2025 berlangsung di Ballroom Gedung Ki Hadjar Dewantara Tower UNS, Selasa (2/9/2025). Sesi ini dimoderatori oleh Prof. Dr. Techn. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., IPU., ASEAN.Eng. Para pembicara menyoroti tren terbaru dalam riset transportasi, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Hadir pula para peneliti, mahasiswa, dan praktisi industri transportasi yang memenuhi ruang konferensi.
Narasumber pertama adalah Prof. Ronghui Liu dari University of Leeds, Inggris. Ia menyampaikan materi berjudul “Data-Driven Discoveries in Spatial Analysis of Urban Mobility Networks”. Topik ini menyoroti peran besar data dalam memahami pola mobilitas perkotaan secara lebih akurat.
Prof. Liu menjelaskan bahwa integrasi metode berbasis data telah memajukan analisis spasial mobilitas perkotaan. Pemanfaatan teknik terbaru seperti GIS, teori jaringan, dan kecerdasan buatan mengubah cara memahami sistem transportasi. Metode ini dinilai mampu mendukung perencanaan kota yang lebih efisien sekaligus berkelanjutan.
“Teknik mutakhir, seperti SIG, teori jaringan, dan AI, telah mengubah analisis spasial. Metodologi ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang sistem transportasi perkotaan dan pola mobilitas,” ujar Prof. Liu.



Ia juga menyampaikan beberapa studi kasus dalam analisis data mobilitas perkotaan. Contohnya, pergerakan kendaraan jalan raya untuk mengidentifikasi pola kemacetan. Studi jaringan bus yang menilai efisiensi rute dan aksesibilitas layanan. Infrastruktur metro yang dianalisis dari arus penumpang, koneksi stasiun, dan ketahanan jaringan.
Selain itu, Prof. Liu membahas tantangan dalam penerapan analisis berbasis data. Permasalahan yang muncul antara lain kualitas dan aksesibilitas data yang belum merata. Kompleksitas metodologi serta skalabilitas juga menjadi hambatan tersendiri. Di sisi lain, perkembangan transportasi multimoda dan kendaraan otonom membuka peluang baru.
Narasumber kedua, Prof. Tim Schwanen dari University of Oxford, Inggris, membawakan topik berbeda. Ia menyampaikan gagasan berjudul “Towards User-Centric and Culturally Resonant Cycling in 15-Minute Cities”. Topik ini menyoroti pentingnya transportasi ramah budaya, terutama melalui pengembangan kota 15 menit.
Menurutnya, eksperimen transisi menuju kota 15 menit masih berlangsung di berbagai kota. Riset longitudinal yang memadukan wawancara sebelum-sesudah dengan analisis data pelacakan dilakukan di Bristol. Hasilnya memberi pemahaman lebih kaya mengenai keberagaman praktik mobilitas dan resonansi budaya.
Prof. Schwanen menekankan bahwa hasil riset ini penting diterjemahkan menjadi rekomendasi bagi kota kecil dan menengah. Selain itu, perlu fasilitasi kelembagaan untuk menjadikan eksperimen bersepeda sebagai praktik berkelanjutan yang kontekstual. Dengan begitu, kota dapat mengembangkan mobilitas rendah karbon yang sehat dan adil.
Ia menambahkan bahwa visi kota 15 menit harus benar-benar diwujudkan menghadapi krisis global. Intervensi transportasi perlu dilakukan dengan cara berbeda, berlandaskan eksperimen yang adil. Upaya tersebut akan menghasilkan mobilitas yang bersih, sehat, dan ramah pengguna, termasuk bersepeda sebagai praktik heterogen.
“Kita harus membuat ide-ide yang mendasari visi 15MC berhasil, mengingat adanya krisis lingkungan, kesehatan, dan sosial yang saling terkait yang dihadapi planet ini,” tutur Prof. Schwanen.
Selain sesi utama, juga digelar side event di Ruang Indraprastha UNS Inn. Beberapa topik strategis turut dibahas dalam forum ini. Antara lain strategi perluasan digitalisasi pembayaran pada layanan transportasi publik di Indonesia. Topik lain yang menarik adalah strategi implementasi sistem manajemen keselamatan perusahaan angkutan umum. Pembahasan ini ditujukan untuk mendukung transportasi publik yang lebih aman dan berkeselamatan. Isu penguatan ketahanan iklim perkotaan melalui transportasi berkelanjutan juga mendapat perhatian besar.
Melalui konferensi ini, para peserta dapat menyumbangkan ide segar dalam pembangunan transportasi, khususnya di Asia. Sinergi pengetahuan tradisional dan inovasi mutakhir diharapkan mampu memperkaya solusi yang ditawarkan. Transportasi yang dikembangkan tidak hanya efisien, tetapi juga menghargai nilai budaya dan lingkungan.
The 16th International Conference of EASTS 2025 menegaskan posisi UNS sebagai perguruan tinggi berkelas dunia. Kehadiran para pakar internasional menjadi bukti kepercayaan terhadap kapasitas akademik UNS. Selain itu, kegiatan ini memperkuat komitmen UNS dalam mendukung pengembangan transportasi berkelanjutan di tingkat global.
Humas UNS



















