Mahasiswa KKN Literasi UNS Ajak Anak-anak di SD Negeri Blondo 3 Mengenal Warna dan Tumbuhan

UNS— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi kelompok 162 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode Juli-Agustus 2025 sukses melaksanakan program kerja melukis dengan teknik percik. Kegiatan ini dilaksanakan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Omah Buku Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari dua program sekaligus mengacu pada petunjuk teknis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yaitu kunjungan literasi ke sekolah dan membuat proyek berdasarkan isi buku bacaan. Kegiatan tersebut dipusatkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Blondo 3 pada awal Agustus kemarin.

Mahasiswa KKN Literasi yang tergabung dalam kelompok 162 mencakup berbagai Program Studi (Prodi) dengan Ketua Diaz Rangga Saksena dan anggota Nikko Ananda Maulana, Anandeka Arkan Naufal Farrasta, Aulia Sandy, Venia Bachtiar, Dina Kamilasari, Farisa Desy Sochasa, Winada Septyana, dan Najwa Na’afilla Karima. Program Kerja (Proker) yang telah berlangsung mendapatkan bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sarwoto, S.E., M.Sc., Ph.D., LSS.Cp. dan PIC (Person In Charge) sekaligus pendiri TBM Omah Buku, Budi Susilo.

Agenda ini sejalan dengan tema besar KKN yakni Penguatan Budaya Literasi untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Aktivitas ini memanfaatkan berbagai buku bacaan bermutu, salah satunya berjudul “Apel yang Manis” ditulis oleh Kedar Shrestha. Tidak hanya melukis dengan teknik percik, dalam waktu satu minggu tim KKN melaksanakan berbagai proyek dari buku bacaan yang ada, diantaranya mewarnai buah, membatik di kertas, membuat kolase untuk pembatas buku, mengenal perasaan, dan membuat roket air. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1-6.

Pada kesempatan ini, Penanggung Jawab Proker melukis dengan teknik percik, Farisa Desy Sochasa dari Prodi Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengekspresikan ide, emosi, dan imanjinasinya melalui cat air yang dipercikan ke kertas. Proker ini bukan hanya soal seni, tetapi juga mendukung penguatan literasi karena anak diajak untuk membaca gambar, menulis/menceritakan ide, dan mengembangkan imajinasi.

“Melukis dengan teknik percik merupakan melukis dengan cara memercikkan cat ke media gambar sehingga menghasilkan pola, tekstur, dan bentuk yang unik. Program kerja ini memang bukan sesuatu yang baru, namun tujuan dari program kerja ini sangat mendukung penguatan literasi anak di jenjang Sekolah Dasar,” terang Farisa kepada uns.ac.id, Selasa (2/9/2025).

Setelah membaca dan memahami buku bersama, lewat kegiatan ini anak-anak belajar mengenal berbagai warna dan lebih dekat dengan objek di alam, seperti tumbuhan, hewan di lingkungan sekitar serta benda-benda di langit dalam bentuk gambar sebagai cetakan.

Lebih lanjut, menurutnya alat dan bahan yang diperlukan untuk proyek airbrush sederhana ini mudah ditemui dan tekniknya bisa diikuti anak-anak. Terlebih lagi mampu melatihkan keterampilan motorik halus saat mengendalikan gerakan tangan, mereka juga dibebaskan untuk memilih warna cat air yang disukai.

“Tumbuhan yang digunakan disini berasal dari dedaunan dengan bentuk yang unik dan tegas, seperti paku-pakuan, daun singkong, daun pepaya serta bunga-bunga. Adapun bahan-bahan yang digunakan, misalnya cat air dan sketch book memanfaatkan pemberian dari Perpusnas. Dengan begitu anak-anak mengetahui hal-hal sederhana, mulai dari melarutkan cat di air, mencoba menggesekkan sikat yang telah dicelupkan ke pewarna di atas sisir sehingga menimbulkan kesan percikan warna,” ujarnya.

Setelah terselenggaranya program kerja ini ia berharap kegiatan membuat proyek berbasis isi buku bacaan ini dapat terus lestari. Selain itu, anak-anak lebih termotivasi untuk berkarya dan menemukan ide lewat membaca buku.

“Harapannya kegiatan melukis dengan teknik percik ini dapat menjadi sarana yang mendukung gerakan literasi di sekolah karena siswa tidak hanya berkreasi lewat seni, tetapi juga belajar menafsirkan, menceritakan, dan mengapresiasi karyanya,” pungkasnya.

Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari anak-anak. Mereka merasa senang dapat membuat karya sederhana dengan teknik percik. Anak-anak diajak pula untuk mengemas peralatan yang digunakan serta mahasiswa memberikan apresiasi sebagai penutup acara. HUMAS UNS