Dosen PKP UNS, Eksa Rusdiyana, menjadi dosen tamu di Kasetsart University Thailand (2/3/2026) membahas pemberdayaan komunitas dan ekonomi sirkular. Ia berbagi praktik pengelolaan sampah menjadi sumber daya ekonomi dan inklusi keuangan, membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran mahasiswa.
UNS — Komitmen internasionalisasi akademik kembali ditunjukkan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP), Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui kegiatan Sharing Guest Lecturer di Department of Human and Community Resource Development, Faculty of Education and Development Sciences (FEDS), Kasetsart University, Kamphaeng Saen Campus, Thailand, pada Senin (2/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan akademik sekaligus berbagi praktik lapangan dalam pengembangan komunitas berbasis lingkungan antara Indonesia dan Thailand.
Dihadapan 25 Mahasiswa mata kuliah Manajemen Komunitas dan Circular Economy, Kasetsart University yang diampu oleh Assoc.Prof. Apichart Jai-Aree, Ph.D., Dosen PKP UNS, Eksa Rusdiyana, S.P., M.Sc. mengangkat pentingnya pendekatan partisipatif dalam pembangunan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengelolaan komunitas tidak cukup hanya bertumpu pada desain program dari atas, melainkan harus mendorong partisipasi aktif warga sebagai subjek utama perubahan. Perspektif ini ia kaitkan dengan pengalamannya mengampu mata kuliah Ekologi Manusia di Program Studi PKP UNS, khususnya dalam pembahasan mengenai environmental movement atau gerakan lingkungan.
Menurutnya, gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada kampanye moral atau seruan kesadaran ekologis semata. Gerakan tersebut perlu ditransformasikan menjadi gerakan sosial-ekonomi berbasis akar rumput (grassroots movement) yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam konteks inilah ekonomi sirkular menjadi pendekatan strategis. Sampah, yang selama ini dipandang sebagai residu atau beban lingkungan, dapat dikelola sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila masyarakat diberi akses pengetahuan, pendampingan, dan sistem yang tepat.
Eksa kemudian memaparkan praktik nyata yang ia dampingi melalui perannya sebagai Koordinator Bidang Pelatihan dan Ekonomi Kreatif di Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI). Melalui sinergi dengan 425 bank sampah binaan PT Pegadaian, masyarakat didorong untuk memilah dan mengelola sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi. Hasil pengelolaan tersebut tidak sekadar diuangkan, tetapi dapat dikonversi menjadi tabungan emas. Skema ini dinilai inovatif karena mengintegrasikan aspek pelestarian lingkungan dengan literasi dan inklusi keuangan. Dengan adanya insentif ekonomi yang jelas, partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah menjadi lebih berkelanjutan.


Pengalaman tersebut juga ia terapkan dalam pendampingan Bank Sampah Kampus UNS. Di lingkungan kampus, bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai unit pengumpulan dan pemilahan sampah, tetapi juga sebagai laboratorium sosial bagi civitas akademika. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar secara langsung bagaimana konsep ekonomi sirkular diimplementasikan, mulai dari edukasi warga kampus, sistem administrasi dan pencatatan, hingga pengelolaan hasil penjualan sampah. Pendekatan ini memperkuat integrasi antara pendidikan, penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat,” terang Eksa kepada uns.ac.id, Senin (9/3/2026).
Selain di lingkungan kampus, Eksa turut mendampingi Bank Sampah Karangturi Berseri di Desa Karangturi, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Di tingkat desa, bank sampah berkembang menjadi pusat pemberdayaan warga. Tidak hanya mengelola sampah, komunitas ini juga mengembangkan budidaya maggot, edukasi literasi finansial pada masyarakat pedesaan, hingga pengelolaan keuangan sederhana bagi anggota. Pendekatan partisipatif yang diterapkan mendorong tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga, sehingga keberlanjutan program tidak semata bergantung pada pendamping eksternal.
Diskusi bersama mahasiswa dan dosen FEDS berlangsung interaktif. Ketertarikan peserta terlihat pada integrasi antara teori manajemen komunitas dan praktik nyata di lapangan. Pertukaran gagasan ini membuka peluang kolaborasi lanjutan antara UNS dan Kasetsart University dalam bentuk riset bersama, pertukaran mahasiswa, maupun pengembangan model pemberdayaan komunitas berbasis lingkungan yang kontekstual di Asia Tenggara.
Secara lebih luas, kegiatan guest lecture ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan pembelajaran kolaboratif internasional. Kemudian sesuai dengan tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan peluang ekonomi berbasis pengelolaan sampah. Kemudian tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular, serta tujuan ke-13 tentang aksi terhadap perubahan iklim melalui pengurangan timbunan sampah dan peningkatan kesadaran lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Eksa Rusdiyana tidak hanya membawa praktik pemberdayaan masyarakat dari Indonesia ke forum internasional, tetapi juga mempertegas bahwa inovasi sosial berbasis komunitas memiliki relevansi global. Kolaborasi lintas negara semacam ini diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik sekaligus mendorong lahirnya model pembangunan berkelanjutan yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa dosen UNS yang menjadi dosen tamu di Kasetsart University?
Dosen Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Eksa Rusdiyana, S.P., M.Sc., menjadi dosen tamu.
Materi apa yang disampaikan dosen UNS di Kasetsart University?
Dosen UNS menyampaikan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pembangunan masyarakat, mengaitkannya dengan gerakan lingkungan yang ditransformasikan menjadi gerakan sosial-ekonomi berbasis akar rumput dan penerapan ekonomi sirkular.
Bagaimana praktik pengelolaan sampah dibahas dalam guest lecture?
Praktik nyata pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah, yang dikonversi menjadi tabungan emas, dipaparkan sebagai integrasi aspek pelestarian lingkungan dengan literasi dan inklusi keuangan. Lihat di artikel
Apa saja manfaat dari kegiatan guest lecture ini?
Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDGs, membuka peluang kolaborasi lanjutan antara UNS dan Kasetsart University, serta mempertegas relevansi inovasi sosial berbasis komunitas secara global. Lihat di artikel



















