UNS dan Pertamina meluncurkan Program Desa Energi Berdikari 2026 untuk mewujudkan kemandirian energi di sepuluh desa. Program ini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mendampingi masyarakat dalam pengelolaan energi bersih berkelanjutan.
UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Pusat Unggulan Iptek Teknologi Penyimpanan Energi Listrik (PUI TPEL) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui kolaborasi strategis bersama PT Pertamina (Persero) dalam Program Desa Energi Berdikari (DEB) Tahun 2026. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ini menghadirkan solusi energi bersih berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat desa agar mampu mengelola sumber daya energi secara mandiri dan berkelanjutan.
Penanggungjawab Program, Prof. Dr.Eng. Ir. Agus Purwanto, S.T., M.T. menyampaikan bahwa pelaksanaan program menjangkau sepuluh desa binaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat dengan karakteristik ekonomi yang beragam, mulai dari pertanian, perikanan, pengelolaan sampah, hingga UMKM kreatif.
Program DEB Tahun 2026 dilaksanakan di sepuluh desa binaan Pertamina, yakni DEB BUMDes Kaliombo di Desa Kaliombo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur; Garbatera dan Wiralodra di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat; DEB Jeruk dan DEB Senting di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah; DEB Merajut Asa di Kota Bandung, Jawa Barat; DEB Panglima Dabar dan DEB Tanjung Pakis di Kabupaten Karawang, Jawa Barat; serta DEB Peri Cahaya dan DEB Sukaurip di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Keberagaman karakteristik wilayah tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS dapat diadaptasi secara efektif untuk mendukung sektor pertanian, pengelolaan sampah, UMKM kreatif, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Ruang lingkup kegiatan meliputi penyediaan dan instalasi fasilitas energi terbarukan, pendampingan dan edukasi masyarakat, serta penyediaan tenaga ahli dan monitoring berkelanjutan. Seluruh tahapan dirancang tidak hanya untuk memastikan keandalan teknis sistem PLTS, tetapi juga untuk menumbuhkan budaya pemanfaatan energi bersih di tingkat desa,” terang Prof. Agus Purwanto, Senin (13/7/2026).






Tim pelaksana yang terdiri atas akademisi, tenaga ahli energi terbarukan, pendamping lapangan, dan evaluator di bawah koordinasi PUI TPEL UNS dan diketuai oleh Prof. Agung Supriyanto, S.Si., M.Si ini melakukan pendampingan sejak tahap survei, perancangan, instalasi, hingga pelatihan pengoperasian dan perawatan sistem. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat dilibatkan secara aktif sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menjaga keberlanjutan program.
Hingga April 2026, pembangunan rumah daya dan instalasi PLTS di seluruh lokasi telah rampung sepenuhnya. Sistem yang terpasang dilengkapi pemantauan berbasis internet yang memungkinkan evaluasi kinerja secara real time. Keberhasilan implementasi ini tercermin dari total produksi energi yang melampaui 21.500 kWh serta potensi pengurangan emisi karbon sekitar 6.670 ton CO₂ per tahun. Capaian tersebut menjadi kontribusi nyata terhadap target nasional Net Zero Emission sekaligus memperkuat ketahanan energi masyarakat desa.
Dampak sosial program tampak dari meningkatnya kapasitas masyarakat dalam memahami prinsip energi terbarukan, mengoperasikan instalasi PLTS, serta melakukan perawatan secara mandiri. Hasil evaluasi menunjukkan tingginya tingkat pemahaman dan kepuasan penerima manfaat. Masyarakat menilai kehadiran PLTS tidak hanya meningkatkan akses terhadap energi bersih, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat gotong royong dalam mengembangkan potensi desa.
Di sisi ekonomi, pemanfaatan PLTS terbukti menekan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas usaha. Di BUMDes Kaliombo, Bojonegoro, misalnya, pendapatan usaha meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp15 juta per bulan setelah pemanfaatan energi surya. Penghematan biaya listrik juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspansi, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan menciptakan peluang ekonomi baru berbasis energi bersih.
Keberhasilan Program Desa Energi Berdikari menegaskan peran penting sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini, UNS dan Pertamina tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga kelestarian lingkungan. Model pemberdayaan yang terbangun diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia sehingga manfaat transisi energi dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan utama Program Desa Energi Berdikari 2026?
Program ini bertujuan untuk mewujudkan kemandirian energi desa melalui solusi energi bersih berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya energi secara mandiri. Lihat di artikel
Di mana saja Program Desa Energi Berdikari 2026 dilaksanakan?
Program ini dilaksanakan di sepuluh desa binaan Pertamina di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, mencakup wilayah seperti Bojonegoro, Indramayu, Boyolali, dan Karawang.
Bagaimana dampak ekonomi dari Program Desa Energi Berdikari?
Pemanfaatan PLTS terbukti menekan biaya operasional, meningkatkan produktivitas usaha, dan membuka peluang ekonomi baru. Contohnya, pendapatan BUMDes Kaliombo meningkat signifikan setelah memanfaatkan energi surya. Lihat di artikel
Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program ini di UNS?
Pelaksanaan program ini dikoordinasikan oleh Pusat Unggulan Iptek Teknologi Penyimpanan Energi Listrik (PUI TPEL) UNS, dengan penanggung jawab Prof. Dr.Eng. Ir. Agus Purwanto dan diketuai oleh Prof. Agung Supriyanto. Lihat di artikel


















