ISEI Pusat Bersama Bank Indonesia Gelar Kuliah Umum di UNS, Dorong Kolaborasi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

ISEI Pusat Bersama Bank Indonesia Gelar Kuliah Umum di UNS, Dorong Kolaborasi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

ISEI Pusat bersama Bank Indonesia dan UNS menggelar kuliah umum di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS pada Sabtu (27/6/2026) membahas ketahanan pangan nasional. Kegiatan ini bertujuan mendorong kolaborasi akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

UNS — Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “Program Ketahanan Pangan Mendukung Asta Cita Pemerintah” di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Sabtu (27/6/2026).

Kegiatan ini menjadi forum kolaborasi antara akademisi, pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan sebagai fondasi pembangunan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Ketua Bidang Kerjasama Dalam Negeri PP ISEI, Dr. Aviliani, menyampaikan apresiasi kepada UNS, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, ISEI Cabang Solo, serta Bank Indonesia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga mengapresiasi kehadiran para Ketua ISEI Cabang dari berbagai daerah sebagai bagian dari penguatan jejaring organisasi.

Menurut Dr. Aviliani, tema ketahanan pangan dipilih karena masih banyak tantangan yang dihadapi petani Indonesia, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas. Karena itu, ISEI terus melakukan identifikasi berbagai praktik terbaik di sejumlah daerah untuk direplikasi secara lebih luas.

“Pagi ini kami berkesempatan mengunjungi langsung wilayah binaan petani. Kami ingin mencari model-model yang terbukti berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga dapat diterapkan di daerah lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Aviliani juga memperkenalkan narasumber utama, CEO Komsah Group, dr. Philip Avianto yang dikenal sebagai “dokter tanah” karena konsistensinya dalam mengembangkan pertanian berbasis kesehatan tanah.

Menurutnya, kualitas pangan sangat bergantung pada kualitas tanah. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan tanah merupakan investasi penting bagi kesehatan masyarakat sekaligus keberlanjutan sektor pertanian Indonesia.

Selain sektor pertanian, Dr. Aviliani menjelaskan bahwa ISEI juga membangun berbagai kemitraan dengan dunia usaha. Salah satunya melalui kerja sama dengan Astra dalam pembinaan UMKM manufaktur yang terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

ISEI juga melakukan pembelajaran mengenai pengelolaan lingkungan di Kabupaten Banyumas, di mana sampah berhasil diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Harapan kami, seluruh praktik baik yang ditemukan di berbagai daerah tidak berhenti sebagai studi lapangan, tetapi dapat direplikasi secara luas sehingga memberikan dampak nyata terhadap pengurangan kemiskinan,” katanya.

Dr. Aviliani menegaskan bahwa ISEI memiliki posisi strategis sebagai wadah yang mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, sektor perbankan, hingga masyarakat.

“Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kita optimistis UMKM dapat naik kelas, kesejahteraan petani meningkat, kemiskinan berkurang, dan Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan melalui perubahan nyata di desa-desa binaan,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D. menyampaikan bahwa UNS memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.

UNS saat ini memiliki berbagai fasilitas riset pertanian, termasuk kawasan hutan pendidikan seluas sekitar 60 hektare di kawasan hutan Bromo yang dimanfaatkan sebagai laboratorium lapangan untuk penelitian pertanian, kesuburan tanah, pupuk organik, hingga pengembangan pangan fungsional.

UNS juga dipercaya Kementerian Pertanian untuk terlibat dalam pengembangan lahan sawah di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Bahkan, dalam pemeringkatan internasional THE Impact Rankings terbaru pada indikator Sustainable Development Goals (SDG) 2 Zero Hunger, UNS berhasil meraih peringkat pertama di Indonesia, peringkat kelima di Asia, dan peringkat kedelapan dunia.

Kegiatan diawali dengan materi dari pembicara pertama bertajuk “Masa Depan Industri Agro-Maritim Indonesia: Tantangan, Risiko, dan Adaptasi” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin, Ketua FG Pertanian dan Kehutanan Bidang IV PP ISEI. Dalam sesi ini, peserta memperoleh wawasan mengenai prospek, tantangan, risiko, serta strategi adaptasi yang diperlukan untuk memperkuat daya saing sektor agro-maritim Indonesia di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, dan transformasi pembangunan berkelanjutan.

Selanjutnya, dr. Philip Avianto, CEO Komsah Group, memaparkan penjelasan singkat mengenai pemberdayaan melalui Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dan petani dalam mendukung pembangunan sektor pertanian yang produktif, berkelanjutan, serta berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional.

Pada sesi berikutnya, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menyampaikan materi bertajuk “Peran Bank Indonesia dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan”. Dalam paparannya, dijelaskan berbagai peran strategis Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan melalui kebijakan yang mendorong stabilitas ekonomi, pengendalian inflasi pangan, penguatan ekosistem pembiayaan, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga aktif mendorong penguatan ekonomi daerah melalui 46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia,” terang Destry.

Ia menjelaskan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan moneter semata, melainkan harus dibarengi dengan penguatan sisi produksi, distribusi, dan produktivitas sektor pangan.

Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta komunitas petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, dan perbaikan kualitas lahan.

Dalam paparannya, ia mencontohkan keberhasilan sejumlah negara yang berhasil menarik generasi muda kembali ke sektor pertanian melalui dukungan teknologi, mekanisasi, dan peningkatan kesejahteraan petani.

Menurutnya, Indonesia memiliki tantangan besar mulai dari kualitas lahan pertanian, distribusi pangan, perubahan iklim, hingga dinamika ekonomi global. Oleh karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus stabilitas ekonomi nasional.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan paparan materi bertajuk “Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Data dan Statistik” yang disampaikan oleh Amalia Adininggar Widyasanti, Ph.D., Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Materi ini menekankan pentingnya pemanfaatan data dan statistik yang akurat, berkualitas, dan terintegrasi sebagai landasan dalam perumusan kebijakan ketahanan pangan yang efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Selain itu, disampaikan pula pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam penyediaan data yang andal untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).

Kuliah umum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung Asta Cita Pemerintah, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat UMKM, menjaga stabilitas harga pangan, serta mempercepat terwujudnya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Ketua Bidang I PP ISEI sekaligus Ketua ISEI Cabang Solo, Dr. Lukman Hakim, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan kuliah umum PP ISEI di UNS. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan utama diadakannya kuliah umum oleh ISEI Pusat, Bank Indonesia, dan UNS?

Kuliah umum ini bertujuan menjadi forum kolaborasi antara akademisi, pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan sebagai fondasi pembangunan ekonomi nasional. Lihat di artikel

Mengapa tema ketahanan pangan dipilih dalam kuliah umum ini?

Tema ketahanan pangan dipilih karena masih banyak tantangan yang dihadapi petani Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas. Lihat di artikel

Bagaimana peran Bank Indonesia dalam mendukung program ketahanan pangan?

Bank Indonesia berperan menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendorong penguatan ekonomi daerah melalui kebijakan yang mendorong stabilitas ekonomi, pengendalian inflasi pangan, dan penguatan ekosistem pembiayaan. Lihat di artikel

Apa saja fasilitas riset pertanian yang dimiliki UNS terkait ketahanan pangan?

UNS memiliki fasilitas riset pertanian seperti kawasan hutan pendidikan seluas sekitar 60 hektare di kawasan hutan Bromo yang dimanfaatkan sebagai laboratorium lapangan. Lihat di artikel

Bagaimana pentingnya data dan statistik dalam penguatan ketahanan pangan?

Pemanfaatan data dan statistik yang akurat, berkualitas, dan terintegrasi sangat penting sebagai landasan dalam perumusan kebijakan ketahanan pangan yang efektif. Lihat di artikel